Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 82 Sebuah Pilihan


__ADS_3

Hidup adalah sebuah pilihan. Itulah yang kini Gavin rasakan. Meskipun pikirannya terus menolak untuk melihat keadaan ibunya yang tertabrak mobil. Tetapi hati nuraninya menuntun dia untuk menapaki tiap jengkal lorong rumah sakit.


Hatinya terasa terkoyak saat melihat Nadine berada di ruang ICU dalam kondisi koma. Banyak alat medis yang menempel di tubuh wanita yang telah melahirkannya itu. Dia hanya diam mematung di depan kaca jendela yang lumayan besar.


"Mama, kenapa semuanya harus seperti ini? Meskipun mama tidak memberikan kasih sayang padaku tapi aku tidak berniat untuk membalas sakit hatiku. Karena bagaimanapun, nama mama telah mengisi salah satu sudut ruang hatiku," gumam Gavin.


Gavin terus menatap mamanya dari jauh. Sampai terdengar suara seseorang yang menegurnya, barulah dia menetralkan perasaannya. Setelah merasa tenang, dia pun menengok ke arah asal suara.


"Bukankah kamu pemuda yang bertemu di pesta waktu itu?" tanya Hansen.


"Iya, Tuan. Saya tidak sengaja melihat istri Anda di sini," jawab Gavin.


"Apa sebelumnya kamu mengenal istri saya?" tanya Hansen menyelidik.


Entah kenapa dia merasa mata pemuda yang ada di depannya sama persis dengan mata istrinya. Namun, dia segera menepisnya. Karena setahunya, anak Nadine tiada sesaat setelah dilahirkan.


"Tidak, Tuan. Tadi saya tidak sengaja salah masuk kamar. Mama saya kecelakaan, tapi ternyata yang saya masuki adalah kamar istri Anda," elak Gavin.


"Oh begitu! Bukankah Anda yang telah memberitahu saya waktu itu tentang Diane?'" tanya Hansen lagi.


"Iya, Tuan. Kita bertemu di resepsi Tuan Keano," ucap Gavin.


"Bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin aku sampaikan," tanya Hansen.


"Silakan, Tuan!"


Hansen tidak langsung bicara. Dia menghela napas panjang dengan mata yang terus melihat ke dalam jendela. Laki-laki yang sebentar lagi menginjak usia lima puluh tahun itu, melirik sekilas ke arah Gavin sebelum berbicara.


"Besok saya harus kembali ke negara saya. Tapi sepertinya, saya tidak bisa membawa Diane dalam keadaan koma. Apalagi Diane pernah berkata, jika dia tiada, dia ingin beristirahat dengan tenang di negaranya."


"Maksud, Tuan?" potong Gavin.


"Maukah Tuan menjaga istri saya selama saya tidak ada di sini? Tuan tidak 0erlu menengoknya setiap hari jika memang sibuk. Saya hanya ingin tahu bagaimana perkembangannya," tutur Hansen.


"Tapi, Tuan?"

__ADS_1


"Tuan jangan khawatir, setiap bulan saya pasti akan mentransfer uang komisi dan biaya pengobatan Diane selama berada di sini. Tuan hanya perlu memantau dan melaporkan perkembangan Diane. Serta mengambil keputusan jika diperlukan oleh dokter."


"Baiklah, Tuan. Saya bersedia," ucap Gavin.


"Terima kasih."


Setelah pembicaraan itu, setiap hari Gavin selalu menyempatkan diri ke untuk menengok mamanya yang sedang koma. Dia berharap, sebelum mamanya pergi untuk selama-lamanya, Gavin bisa merasakan pelukan dari wanita yang pernah melahirkannya.


"Mama bangunlah! Maafkan aku, karena aku bukan anak yang berbakti. Maafkan aku, karena waktu itu, aku yang telah menyuruh pelayan itu untuk memberikan serbuk putih untuk dikembalikan pada Mama. Aku tahu aku salah. Aku hanya tidak ingin mama terus berbuat jahat karena dendam masa lalu Mama," ucap Gavin dengan menggenggam tangan Nadine lalu menciumnya.


Tanpa Gavin sadari, sudut mata Nadine mengeluarkan air mata. Di alam bawah sadarnya, Nadine mendengar semua yang Gavin katakan. Dia tidak pernah menyangka, saat semua orang meninggalkannya, bayi yang tidak pernah dia pedulikan. Bahkan dia tukar dengan kekayaan, justru yang menemaninya.


...***...


Sementara di sebuah kamar yang cukup luas untuk ditempati dua orang. Nampak dua anak muda yang masih bergelung dalam selimut. Rupanya, Davin setiap hari meminta jatah pada Diandra. Saat dia tidak bisa mendapatkannya di rumah, maka dia akan memintanya ketika mereka berada di kantor.


Seperti siang ini, pemuda yang belum lama merasakan surga dunia bersama istrinya, dia menjadi ketagihan dan selalu menuntut Diandra untuk mengikuti keinginannya. Meskipun awalnya terasa berat mengikuti setiap keinginan Davin tetapi lama kelamaan wanita muda itu menjadi candu pada sentuhan Davin.


"Dian, kamu sangat seksih!" puji Davin di sela-sela goyang gebornya.


"Ayo kita keluarkan bersama! Ah ... Diannn ...."


Setelah lenguhan panjang keduanya, Davin pun langsung ambruk dengan memeluk tubuh istrinya. Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh keduanya. Hingga terbit senyuman di kedua sudut bibir bervolume milik Davin.


"I love you, Dian!"


Dian hanya tersenyum setiap kali mendengar pertanyaan cinta dari Davin. Hatinya mulai menghangat dengan semua kemanisan dunia yang Davin suguhkan padanya. Namun, bibirnya seolah terkunci untuk membalas ucapan suaminya.


"Vin, berat!" ujar Diandra. Bagaimana tidak, tubuh kekar brondongnya masih menimpa di tubuh mungil miliknya.


Davin dengan terpaksa mencabut pedang pusakanya yang masih berada dalam sarang keramatnya. Dia pun menjatuhkan tubuhnya ke samping Diandra dan memeluk tubuh istrinya. Namun, kesenangannya harus terganggu saat ada yang mengetuk pintu ruang pribadinya.


Tok tok tok


"Mister, ada nyonya Sevia menunggu Anda," teriak asisten pribadinya.

__ADS_1


"What's Mama??!!" pekik Davin kaget.


Dia langsung panik berlari ke kamar mandi. Diandra pun tak kalah paniknya dengan suaminya. Mereka berdua pun berebut kamar mandi. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mandi bersama di bawah guyuran shower.


Sial! Seandainya gak ada mama, sudah aku makan kamu di sini, Dian. Aku harus memejamkan mata agar tidak tergoda oleh keindahan yang ada di depan mataku, batin Davin.


Davin kenapa tutup mata? Tapi tubuhnya udah terbentuk meskipun dia masih tergolong remaja. Entah belajar dari mana, dia selalu bisa membuat aku mendapatkan kepuasan yang tidak pernah aku rasakan. Sepertinya, aku harus benar-benar berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan semuanya, batin Diandra.


"Vin, kamu kenapa?" tanya Diandra.


"Jangan menyentuhku! Aku tidak bisa mengendalikan diri jika mendapat sentuhan dari kamu." Davin membuka matanya dan nampak jelas buah apel Fuji di depannya.


Davin refleks melahap buah itu dengan satu tangan memainkannya. Dia hampir saja menggila. Namun Diandra langsung mengingatkannya.


"Vin, Tante Via sudah menunggu. Bilang saja aku sedang makan siang di luar. Kamu duluan keluarnya," ucap Diandra.


"Sial! Aku gak tahan Dian," keluh Davin.


Namun, tetap saja dia mempercepat mandinya. Apalagi terdengar pintu ruang pribadinya digedor dengan kencang. Dia yakin kalau mamanya sudah tidak sabar menunggunya.


Setelah menyelesaikan mandinya, Davin pun buru-buru memakai bajunya dan menemui Sevia. Nampak di ruang kerjanya, Sevia dan Dave sedang menunggunya. Dave hanya tersenyum samar saat melihat putranya seperti habis mandi dengan rambut yang setengah kering. Sementara Sevia mengerutkan keningnya heran.


"Davin, kenapa kamu siang-siang mandi? Bukankah cuaca hari ini tidak begitu panas? Apalagi di luar sedang hujan?" berondong Sevia.


"A--a-anu Mah. Ta-tadi aku ketumpahan kopi."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu up Brondong Tajir, yuk kepoin juga karya othor keren yang satu ini.


__ADS_1


__ADS_2