Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 42 Pernikahan Harry


__ADS_3

Suara gamelan terdengar mengiringi sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan ijab kabul di sebuah mesjid yang ada di dekat rumah Nadine. Nampak Harry dan Nadine yang memakai kebaya pengantin paes ageng, membuat aura ketampanan dan kecantikan semakin terpancar ke luar. Sepasang pengantin baru itu memasuki gedung yang sudah di desain dengan begitu indah dan terasa sangat kental dengan budaya kota itu


Dave dan Joen duduk bersisian, sedangkan Nadine duduk di pinggir dekat dengan Bram. Hanya mereka berempat yang menjadi perwakilan dari keluarga Harry. Acara yang terkesan dadakan ditambah lagi orang tuanya yang sedang berada di luar negeri, membuat Harry tidak memberitahukan tentang acara pernikahannya kepada sanak saudara dari keluarga ibunya. Karena ayah Harry seorang WNA yang berpindah kewarganegaraan setelah menikah dengan ibunya.


"Bang, kapan mau nyusul Harry? Masa Bang Joen kalah," goda Dave.


"Entahlah, Dave! Aku belum menemukan gadis yang membuat aku tidak bisa berpaling dari pesonanya," jawab Joen.


"Abang sih tidak bisa melepaskan masa lalu Abang bersama Bu Sheira. Padahal sekarang Bu Sheira sudah bahagia bersama dengan anak dan suaminya. Apa Abang mau menunggu jandanya?" tanya Dave.


"Sembarangan kamu, Dave! Kayak kamu sudah nikah aja, nyuruh Abang cepat nikah," sahut Joen.


Bang Joen saja yang tidak tahu, kalau aku sudah menikah hampir setahun ini. Malah setiap malam aku mantap-mantap sama Sevia. Ah aku jadi kangen sama dia, padahal baru semalam tidak ketemu, batin Dave.


"Bang, mungkin nanti sore aku akan kembali ke Jakarta. Abang masih mau di sini apa mau bareng?" tanya Dave.


"Abang bareng saja Dave, besok ada meeting penting." Joen menyetujui tawaran Dave.


"Aku ikut Dave!" timpal Bram.


"Kamu di sini saja jagain Harry, hitung-hitung liburan," saran Dave.


"Asal kamu kasih akomodasinya aku mau," ucap Bram dengan mengedipkan matanya.


"Dasar bule kere! Oke, nanti aku transfer tapi kamu harus ajak dia bersamamu," tunjuk Dave dengan isyarat mata pada Katherine yang sedang asyik mengagumi budaya kota gudeg.


"Sip! Semakin banyak kamu transfer, semakin jauh kamu dari dia." Bram menaikturunkan alisnya.


"Oke, bisa diatur!" Dave pun langsung menyetujui keinginan sahabatnya. Sudah bukan hal yang aneh di antara mereka yang selalu saling palak ataupun bergantian traktir.


Acara semakin meriah, tamu pun berdatangan silih berganti. Harry sengaja memajang pembantu dan supir di rumahnya untuk menggantikan orang tuanya. Membuat kedua orang tua paruh baya itu terlihat malu-malu. Namun, mereka terpaksa mengabulkan keinginan anak majikannya karena merasa tidak tega jika Harry tidak ada yang menemani.

__ADS_1


Saat hari menjelang sore, Dave dan Joen pun pamit pada pengantin baru untuk kembali ke kotanya. Namun, Katherine yang sengaja di ajak unuk ikut menari tidak tahu kalau mantan kekasihnya itu akan pulang. Katherine terus saja ikut menari bersama para penari tradisional yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara pernikahan Nadine dan Harry. Sampai dia sudah merasa lelah, barulah dia duduk di samping Bram.


"Bram, Dave ke mana?" tanya Katherine celingukan mencari keberadaan mantan kekasihnya.


"Tadi keluar dulu sama Bang Joen," jawab Bram.


"Bram, kapan kita kembali ke hotel? Aku sudah gerah ingin berganti baju," ucap Katherine.


"Ya sudah, ayo! Kita jalan-jalan dulu yuk, mumpung ada di sini," ajak bram yang sedari tadi terus melihat ke layar ponselnya. Dia sedang mengecek nominal yang Dave transfer ke rekeningnya.


"Ayo, aku juga penasaran dengan budaya kota ini." Katherine begitu bersemangat dengan ajakan Bram.


Katherine memang merasa nyaman bersama dengan Bram yang selalu bersikap baik pada semua perempuan, sehingga membuat para kaum hawa terkadang menyalah artikan sikapnya.


...***...


Berbeda dengan seorang gadis yang sedang ujian tengah semester. Sevia terlihat tidak bersemangat menghadapi ujian di lab komputer. Apalagi, Andika terus saja berdiri di belakangnya. Pak Dosen yang notabene mantan kekasihnya itu, sedari tadi memperhatikan Sevia.


Sevia paling terakhir mengerjakan ujiannya, dia tidak fokus karena terus kepikiran Dave yang pergi ke acara pernikahan Harry bersama dengan Katherine. Ada rasa cemburu dan was-was menyelimuti hatinya. Meskipun dia terus menepisnya, tetapi perasaan itu tidak hilang juga.


"Biar aku saja yang memperbaikinya," ucap Sevia.


Andika hanya tersenyum miring melihat mantan kekasihnya yang seperti menghindar darinya. "Via, aku kangen saat-saat kebersemaan kita. Bisakah kita kembali seperti dulu?"


"Tidak mungkin bisa kembali seperti dulu. Kita sama-sama sudah memiliki pasangan yang sah. Lebih baik, kamu perbaiki hubunganmu dengan Ines. Bukankah gadis seperti Ines yang kamu inginkan?" sarkas Sevia.


"Via, aku ingin kembali sama kamu. Ines terlalu banyak menuntut, membuat aku semakin pusing. Apalagi, sekarang dia sudah tidak bekerja karena kemarin ribut sama kamu," keluh Andika.


"Itu resiko kamu sebagai suami. Apalagi sekarang kamu sudah punya anak, harusnya kamu berpikir bagaimana caranya menjadi ayah yang baik untuk putrimu bukan terus mengatakan ingin kembali padaku. Maaf, Di! Aku tidak bisa memberikan kesempatan kedua untuk orang yang sduah mencampakkan dan mengkhianati aku." Sevia langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang laboratorium dengan muka di tekuk.


"Woy, kusut amat tuh muka! Kita makan di angkringan yuk! Kebetulan hari ini, kakakku datang. Jadi dia yang akan menjemputku," Reina langsung menyambut kedatangan Sevia. Meskipun gadis itu umurnya dibawah Sevia, tetapi persahabatan mereka sangat dekat.

__ADS_1


"Aku malu Rei sama kakak kamu," ucap Sevia.


"Gak usah malu! Kakak aku orangnya asyik kho," Reina terus menarik tangan Sevia karena memang kakaknya sudah menunggu di depan gerbang.


Sesampainya di depan kampus, terlihat seorang pemuda yang sedang menelpon dengan membelakangi arah gerbang kampus. Reina langsung menghampiri pemuda itu dan langsung menepuk pundaknya.


"Bang, Ayo biar gak kemalaman!" ajak Reina yang sukses membuat pemuda itu terlonjak kaget.


Namun, kekagetannya semakin bertambah saat dilihatnya gadis yang dulu pernah dia temui di pulau tempatnya bekerja, " Sevia!" tunjuk Adam.


"Abang kenal dengan sahabatku?" tanya Reina.


"Iya, kamu ingat gadis yang pernah Abang ceritakan?" tanya Adam.


"Ingat! Jadi, dia Sevia," tunjuk Reina yang dijawab anggukan oleh Adam.


"Ceritain apa Rei? Memang Abang kamu kenal sama aku ya?" Sevia terlihat bingung dengan apa yang kakak beradik itu bicarakan.


"Tidak apa, Via! Kenalin ini kakakku, Bang Adam," ucap Reina yang langsung memperkenalkan Adam sebagai kakaknya.


"Sevia," ucap Sevia mengulurkan tangannya.


"Aku sudah mengenalmu saat kita bertemu di pulau Cinta, tapi tidak apa-apa kita berkenalan lagi. Aku Adam," ucap Adam dengan menyambut uluran tangan Sevia.


"Yang di tepi pantai itu?" tanya Sevia memastikan.


"Iya, kamu yang langsung dibawa pergi oleh kekasihmu," sahut Adam.


"Maaf, kalau aku melupakanmu." Sevia cengengesan karena merasa malu melupakan pria di depannya. Padahal Adam pernah menghiburnya saat dia sedang sedih.


Padahal aku selalu mengingatnya, tapi ternyata dia sudah melupakanku, batin Adam.

__ADS_1


...~Bersambung~...


Jangan lupa sawerannya ya kakak, biar othor lebih semangat updatenya.


__ADS_2