Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 60 Kamu nyerah?


__ADS_3

Malam yang dingin menusuk kulit, harus Davin lewati di ruang perawatan Devan. Meskipun dia terus teringat dengan Diandra, tetapi Davin tidak mungkin meninggalkan saudaranya sendiri. Bagaimana pun apa yang Devan rasakan, dia pun merasakannya juga.


Kasian juga Davin. Pasti tadi dia sedang bersiap buat indehoy, batin Devan.


Devan kemudian memejamkan matanya yang terasa berat. Sementara Davin masih berkutat dengan ponselnya. Tak lama kemudian, Orion datang menemuinya. Karena tadi Davin memberi tahu kalau alergi Devan sedang kambuh.


"Bro, mau-maunya tunangan sama Luna, anak pecicilan gitu." Davin merasa kurang setuju jika sahabatnya itu bertunangan dengan Luna.


"Ya mau gimana lagi, kakak kamu malah pilih Bang Ano. Aku kan gak mungkin rebutan sama saudara sendiri. Lagipula bukankah cinta tidak harus memiliki tapi bisa sembunyi-sembunyi," kelakar Orion.


"Ck! Awas aja macam-macam sama Kak Deva, aku bikin usaha kamu kolaps," ancam Davin.


"Klise banget Bro ancamannya. Gak kamu gak opa, ngancem aku tuh gak ada variasinya," cibir Orion.


"Kamu di ancam sama Opa Zidan? Gara-gara apa?" tanya Davin penasaran.


"Vanya dan Luna," jawab Orion singkat.


"Maksud kamu? Kenapa kakak jadi terlibat?" Davin semakin heran dengan maksud ucapan dari sahabatnya.


"Opa, nenek, kakek, papa minta aku untuk tidak menjalin hubungan dengan kakak kamu. Salah aku apa coba? Apa mencintai seorang gadis dan gadis itu mencintai aku adalah sebuah kesalahan?" tanya Orion dengan wajah kusut.


Orion tertekan dengan keadaan, saat semua orang memintanya untuk tidak mendekati Devanya. Apalagi, dia melihat kedekatan Keano dan Devanya secara langsung saat dia akan memberikan undangan ke rumah Devanya dan


setelah pesta pertunangan berakhir. Waktu itu, dia langsung melacak keberadaan Devanya. Namun saat tiba di tempat, ternyata dia melihat hal sangat tidak ingin dilihat. Hati Orion sakit saat melihat Keano sedang memeluk Devanya.


"Kamu nyerah? Pantas saja kamu tidak berjuang sedikit pun untuk kakak. Tapi tidak apa sih, kakak akan menikah bulan depan dengan Bang Ano. Aku juga mau minta sama kamu, agar tidak menggangu kakak lagi. Apalagi sampai mengancamnya," sinis Davin.


"Apa katamu?!!!" pekik Orion. "Secepat itu? Bagaimana bisa?" sambungnya.


"Tentu saja bisa. Tidak ada alasan untuk kakak menolak perjodohan itu. Apalagi lelaki yang dia cintai tidak mau memperjuangkannya. Menurutku keputusannya sudah benar," jawab Davin enteng.


Aku memang pengecut, hanya bisa menjadikan gadis yang aku cintai sebagai kekasih yang aku sembunyikan. Bahkan, saat terbongkar oleh keluargaku, aku memilih mundur dan membiarkannya bersama Bang Ano. Bukannya aku tidak mencintainya. Tapi jika tetap bersamaku, pasti banyak masalah yang akan terjadi padanya. Aku tidak ingin melihat Vanya menangis diam-diam seperti mama yang selalu menyembunyikan kesedihannya dari papa, batin Orion.

__ADS_1


Melihat sahabatnya yang hanya diam tidak membantah ucapannya seperti biasa. Ada rasa bersalah di hati Davin, karena dia tahu perasaan Orion pada kakaknya tidak jauh berbeda dengan perasaannya pada Diandra. Hanya saja mereka mengungkapkannya dengan cara yang berbeda.


"Ion, kenapa bengong? Kamu marah sama aku?" tanya Davin.


"Kenapa aku harus marah? Apa yang kamu katakan benar semua. Aku harus ikhlas Vanya bersama dengan Bang Ano. Karena dia juga tulus mencintai Vanya seperti aku mencintainya," jawab Orion.


"Syukurlah kalau kamu sudah melepaskan Kakak."


"Siapa bilang aku sudah melepaskannya? Aku dan Vanya sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan kami saat wisuda nanti dan itu masih dua bulan dari sekarang. Kalau Vanya menikah bulan depan, berarti aku jadi brondong simpanannya," kekeh Orion.


"Dasar Ion!"


Keduanya terus saja mengobrol sampai mata mereka sudah tidak kuat lagi menahan kantuk, barulah keduanya tertidur di sofa dengan berdempetan. Bukan hal yang aneh bagi keduanya karena sebelum Davin Devan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Mereka bermain bersama. Bahkan menginap bergantian.


Pagi harinya, Diandra, Devanya dan kedua orangtuanya datang menjenguk keadaan Devan. Mereka sangat terkejut melihat Davin dan Orion tidur berpelukan. Apalagi keduanya tidak memakai baju.


"Davin, Ion bangun!" Dave langsung membangunkan putranya.


Bukannya bangun, Davin semakin mengeratkan pelukannya pada Orion. Begitupun dengan Orion yang malah bicara ngelantur. Membuat orang yang melihatnya menahan senyum.


"Davin bangun!" sentak Dave.


Mendengar suara tinggi papanya, seketika Davin membuka mata dan langsung terperanjat melihat papa mamanya sedang menatapnya. Ditambah lagi ada Diandra yang melihat aneh kepadanya.


Tidak jauh berbeda dengan Orion yang sama-sama kaget saat melihat keluarga sahabatnya sudah ada di sana. Apalagi saat melihat Devanya yang menatapnya horor. Orion pun hanya cengengesan untuk mengusir kegugupannya.


Sial! Gara-gara kebiasaan tidur tidak pakai baju, pasti mereka mengira aku belok," gerutu hati Orion.


Bagaimana ini? Nanti Diandra malah mengira aku yang tidak-tidak," ringis hati Davin.


"Cepat kalian cuci muka! Kelakuan kalian tuh ...." Dave tidak melanjutkan ucapannya. Dia tidak mungkin bicara yang tidak-tidak soal putranya. Walau bagaimanapun, ucapan orang tua adalah do'a bagi anaknya.


Tanpa menunggu disuruh dua kali, kedua pemuda tampan itu langsung berebutan masuk ke kamar mandi. Mereka sampai saling senggol saat sudah sampai di pintu kamar mandi. Bagaimana tidak, pintu kamar mandi yang tidak begitu lebar, menjadi rebutan Davin dan Orion agar masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ion, ngalah apa sama yang lebih muda." Sewot Davin saat dia tidak bisa masuk dengan leluasa.


"Hey! Umur kita hanya beda setahun, aku tidak terima dipanggil tua. Sudah jelas aku brondong kakak kamu," sungut Orion.


Sevia dan Dave langsung membelalakkan matanya mendengar apa yang Orion katakan. Mereka tidak menyangka Orion akan bicara seperti itu di depannya.


Kalaupun benar Deva dan Ion pernah berhubungan. Apa harus bocah itu bicara seperti itu?" pikir Dave.


"Orion, Davin, apa kalian akan berada di kamar mandi bersamaan?" tanya Dave.


"Kata Papa harus cuci muka. Ya aku langsung ke kamar mandi," jawab Davin.


"Iya bener, kan Om yang nyuruh," elak Orion.


Davin langsung menyelinap masuk ke kamar mandi saat Orion berbicara dengan papanya. Dia tidak mau istrinya melihat dia yang berantakan.


"Astaga kalian tuh. Maksud Om gantian, gak harus rebutan seperti itu. Apalagi barengan berada di kamar mandi. Apa kalian mau gadis-gadis cantik ini berpikiran yang tidak-tidak?" Dave merasa sangat gemas dengan kelakuan anaknya.


"Oh iya, aku lupa." Orion cengengesan mendengar apa yang Dave katakan. "Vanya, aku gak belok loh. Aku normal dan sanggup membuat kamu hamil berkali-kali," sambungnya.


"ORION!!!" geram Dave.


"Peace Om. Canda doang juga. Udah ah aku mau mandi." Orion. langsung berbalik akan masuk ke kamar mandi, tapi rupanya dia sudah keduluan oleh Davin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan saat tadi Orion bicara Dave.


Sial! Keduluan Davin, umpat Orion dalam hati.


Dave hanya menahan senyum melihat Orion yang hanya mematung di depan pintu kamar mandi. Pemuda tampan itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan menatap Devanya yang sedang menatapnya. Dia pun langsung tersenyum manis pada gadis yang dia cintai.


Maafkan aku Vanya! Lebih baik kamu membenci aku daripada harus terus-menerus terluka karena aku.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2