
"Aku tidak terima penolakan kamu, Nadine. Kamu sudah berjanji untuk menunggu aku."
"Harry, aku minta maaf! Aku benar-benar tidak bisa menerima kamu. Perbedaan kita sangat banyak. Umur kita pun terpaut jauh. Aku sudah bukan gadis belia yang masih bisa bermain-main dengan cinta. Harry, sebaiknya kamu mencari gadis yang lebih pantas untukmu, bukan aku." Nadine menundukkan kepalanya, tangannya terus sang bertautan untuk mengusir semua kegelisahannya.
"Lihat aku, Nadine! Katakan kalau kamu tidak memiliki perasaan padaku! Katakan, kalau kamu tidak pernah menginginkan aku!" Harry mengangkat dagu Nadine dengan tangannya sehingga matanya dengan mata Nadine saling bertabrakan.
Tidak bisa dipungkiri, pesona pria yang pernah menjadi muridnya itu begitu mempesona. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sorot mata yang dalam itu. Sampai Harry mendekatkan wajahnya kemudian menyapu lembut bibir yang berwarna merah cherry itu, Nadine masih diam menikmati sentuhan lembut di bibirnya.
Merasa tidak ada penolakan dari Nadine, Harry pun semakin memperdalam ciumannya. Indra pengecap dia langsung menerobos masuk ke dalam rongga mulut. Mengabsen setiap sudut di dalamnya. Sampai terdengar suara orang berdehem di ambang pintu, dua insan yang sedang diselimuti oleh kabut gairah langsung melepaskan pagutannya.
"Permisi, Tuan! Ini pesanan Anda." Seorang pelayan datang membawa sebuah troli yang berisi makanan untuk dia hidangkan di atas meja. Setelah semuanya selesai, pelayan itu pun kembali pergi.
"Makanlah dulu, aku sangat lapar." Harry tersenyum senang. Untuk yang pertama kalinya dia akhirnya bisa mencium guru kesayangannya begitu lama.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya. Sejujurnya dia pun merasa lapar. Apalagi tadi dia melihat calon suaminya sedang bermesraan dengan sahabatnya sendiri.
"Nadine, aku tidak bisa melepaskan kamu. Apalagi, sebenarnya kamu juga menginginkan aku. Kamu tidak perlu terus membohongi dirimu sendiri. Jujurlah dengan kata hatimu! Aku di sini dua malam. Aku harap, kamu tidak akan mengecewakan aku." Harry menatap lekat wajah Nadine yang sedang menikmati makanannya.
"Harry, apa kamu serius padaku? Kalau kamu serius, aku menunggumu di rumahku. Bicaralah pada orang tuaku," ucap Nadine dengan suara yang bergetar. Meskipun dia merasa tidak yakin dengan keputusannya, tetapi Nadine berpikir, dia tidak mau menjadi madu sahabatnya. Apalagi calon suaminya itu sudah lama berpacaran dengan Luna sahabatnya.
"Baiklah! Aku akan ikut pulang bersama kamu dan langsung bicara pada orang tuamu. Aku sangat serius dengan perasaanku padamu, Nadine." Harry langsung menggenggam tangan Nadine kemudian mengecupnya dengan mata lurus menatap ke manik coklat Nadine.
Perlahan perasaan gelisah itu mulai mengikis. Hati Nadine terasa menghangat dengan semua sikap Harry padanya. Dia ingin memantapkan hati untuk bisa menerima murid yang dulu selalu mengejar cintanya itu.
__ADS_1
"Harry, kenapa kamu tidak menyerah untuk mengejar aku? Apa setelah mendapatkan aku, kamu akan berhenti mencintaiku dan mencari gadis lain yang lebih sepadan denganmu," tanya Nadine.
"Aku tidak akan pernah bisa berpaling darimu, Nadine. Karena kamu telah menjerat cintaku dalam pesona kamu," ucap Harry dengan menatap lekat Nadine.
Keduanya pun larut dalam obrolan. Mereka mengenang masa lalu dan bercerita kenapa Nadine bisa keluar dari SMA Garuda. Sampai suara ponsel Harry, membuat kedua insan itu menghentikan obrolannya. Harry langsung menerima panggilan telepon dari bosnya yang ternyata meminta dipesankan makanan untuk di antar ke kamarnya.
"Nadine, kita ke kamar Dave dulu! Setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Harry.
"Maksud kamu, Dave sahabat kamu yang bule itu?" tanya Nadine.
"Iya Bu Guru!" sahut Harry dengan tersenyum manis.
Sepertinya, aku memang harus melepaskan Aryo. Meskipun aku menyukainya, tetapi Aryo mencintai Luna bukan aku, batin Nadine.
Setelah Harry memesan makanan untuk bos dan istrinya. Dia pun mengajak Nadine untuk ikut ke kamar Dave. Namun, langkah kaki Nadine mendadak berhenti saat melihat Aryo dan Luna masuk ke sebuah kamar hotel. Dia pun meminta Harry untuk berangkat terlebih dahulu dan beralasan akan ke toilet. Perlahan Nadine berjalan menuju ke kamar hotel yang tadi dimasuki oleh sahabatnya itu. Mendapati kamar hotel yang tidak tertutup rapat, Nadine pun membukanya dengan tidak mengeluarkan suara. Dia langsung menutup mulutnya saat mendapati Aryo dan Luna sudah tidak memakai sehelai benang pun. Meskipun dia tahu kalau mereka sepasang kekasih, tetapi kenapa Aryo malah menyetujui rencana perjodohan itu?
Harry langsung membidik dengan kamera apa yang dilakukan oleh dua anak manusia itu di kamar hotel. Setelah mendapatkan gambar yang kurang pantas untuk dilihat, dia pun langsung menarik tangan Nadine agar menjauh dari sana. Harry bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari mata indah kekasih hatinya.
"Jangan melihatnya kalau itu menyakiti hatimu. Apa itu calon suami kamu?" tanya Harry dengan tidak menoleh sedikit pun ke arah Nadine.
"Iya! Perempuannya, itu sahabat aku. Mereka memang sudah lama berpacaran. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau hubungan mereka sudah sejauh itu." Nadine terus menunduk seraya mengikuti langkah kaki Harry menuju ke kamar hotel Dave.
"Lupakan dia! Aku yang akan menggantikan dia sebagai pengantin kamu," ucap Harry.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Harry sudah sampai di kamar Dave. Setelah dipersilakan masuk, dia pun langsung masuk begitu saja. Merasa Nadine malah terdiam dia depan pintu, Harry langsung menarik tangan Bu Guru Cantik itu untuk mengikutinya.
"Kamu kenapa ke luar lagi Harry? Aku dan Sevia sudah rapi berpakaian," teriak Dave saat melihat Harry kembali ke luar.
Dave sempat terkejut saat melihat sahabatnya itu membawa seorang gadis masuk ke dalam kamarnya. Dia sempat khawatir kalau yang dibawa oleh Harry itu Zee atau tidak mantan pacarnya yang berada di negara A. Namun, saat yang dilihatnya adalah seseorang yang sangat dikenalnya, dia pun bisa bernapas dengan lega.
"Harry, kamu ketemu di mana dengan Bu Guru?" tanya Dave dengan wajah kaget.
"Aku ketemu di restoran. Nadine, jewer murid kamu yang tidak hormat pada calon suami gurunya," suruh Harry dengan tersenyum lebar.
"Maksud kamu apa Harry? Apa kamu serius?" Dave semakin kaget dengan apa yang didengarnya.
"Tentu saja! Memang hanya kamu saja yang bisa menikah dengan Tante. Aku juga bisa! Iya kan Sayang?" Sepertinya sifat narsis Dave mulai menurun pada assistennya yang sukses mendapat cubitan dari Nadine.
"Hai Dave! Apa kabar?" tanya Nadine dengan mengulurkan tangannya.
"Aku baik, Bu Guru! Sebentar, istriku sedang berada di toilet dulu." Dave hanya tersenyum tanpa berniat menerima uluran tangan dari Nadine.
"Jangan mengajak bersalaman padanya, sini kita lebih baik duduk dulu!" ajak Harry.
Tak lama kemudian Sevia keluar dari kamar mandi. Dia pun terkejut melihat Harry bersama seorang gadis. "Maaf, aku pikir Pak Harry belum datang." ucap Sevia dengan cengengesan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...