
Dinding rumah sakit menjadi saksi bisu tangisan pilu seorang gadis. Tasya begitu terpuruk dengan kepergian keluarga satu-satunya. Dunianya terasa runtuh seketika saat harus menerima kenyataan ayah yang menjadi pegangan hidupnya, ayah yang selalu menyayanginya harus pergi selama-lamanya.
Devan dan semua tetangga Tasya membantu gadis itu untuk pemakaman ayahnya. Mereka mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Meskipun hatinya hancur lebur, tetapi Tasya sebisa mungkin bersikap tegar.
Di depan pusara ayahnya, Tasya masih betah berdiam diri. Lama dia berada di sana, tidak peduli jika para pelayat sudah kembali pulang. Gadis itu terus menangis dalam hatinya, karena dia tidak ingin air matanya sampai jatuh ke makam sang ayah.
"Tasya, ayo kita pulang! Langitnya sudah gelap!" ajak Devan.
"Kamu duluan saja, aku masih ingin di sini."
"Kamu ingat, sekarang kamu tanggung jawabku. Apa kamu lupa, pesan terakhir ayahmu? Beliau sudah menitipkan kamu sama aku."
Tasya terdiam. Dia tidak lupa dengan apa yang ayahnya katakan saat menjelang kematiannya, yang meminta Devan untuk menjaga Tasya. Ayahnya juga bilang, kalau beliau akan merestui jika sampai Tasya berjodoh dengan Devan.
Gadis itu memejamkan matanya sejenak dan menghirup udara dalam-dalam. Sebelum akhirnya dia bangun dari duduknya. "Ayah, aku pulang dulu. Semoga ayah tenang di sisi-NYA."
Devan mengikuti langkah kaki Tasya yang berjalan mendahuluinya. Dia bisa mengerti kesedihan yang gadis itu rasakan. Hingga akhirnya tercetus sebuah ide agar Tasya tidak merasa sendiri saat di rumah.
"Tasya, bagaimana kalau kamu pulang ke rumahku saja? Mamaku baik kho!" Devan melirik sekilas ke arah gadis itu.
"Aku pulang ke rumah saja. Aku tidak ingin merepotkan keluargamu," ucap Tasya pelan.
"Kalau kamu masih sedih, besok gak apa tidak masuk kerja juga."
"Tidak usah! Besok aku akan masuk kerja. Kalau di rumah, aku pasti ingat ayah terus. Aku tidak boleh sedih terlalu lama. Sekarang tidak ada orang yang peduli sama aku lagi." Tasya menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak saat mengingat kalau kini dia hanya sebatang kara.
"Jangan sedih! Ada aku yang akan menjagamu," ucap Devan seraya merangkul pundak Tasya. "Ayo kita cari makan dulu! Cacing di perutku sudah berteriak minta di isi. Mereka bilang, lapar lapar lapar."
Devan dengan konyolnya memperagakan para cacing itu berteriak seperti seekor kera yang berjingkrak-jingkrak. Meskipun candaannya tidak nyambung, tapi sukses membuat Tasya tersenyum tipis, setipis kertas tissue.
Kini keduanya sedang berada di kedai bakso. Devan teringat dengan kakaknya yang suka sekali makan bakso. Jadinya dia berinisiatif mengajak Tasya mampir ke kedai bakso yang mereka lewati. Meskipun awalnya gadis itu seperti enggan makan, tetapi akhirnya dia pun ikut makan walaupun tidak sampai habis satu mangkuk.
"Kho gak dihabiskan?" tanya Devan melihat ke mangkuk Tasya yang masih setengahnya.
"Aku kenyang," jawab Tasya.
"Tasya, apa kamu mau jadi assisten pribadiku? Nanti gajinya lebih gede dari seorang sekretaris. Tapi kamu harus siap sedia setiap kali aku butuhkan dan juga kamu harus menyiapkan segala sesuatunya. So, kamu harus tinggal di apartemen bersamaku." Devan menatap lekat wajah Tasya yang masih terlihat murung.
__ADS_1
Dia sengaja memberikan tawaran itu agar Tasya tidak larut dalam kesedihannya jika tinggal sendiri di rumah. Lagipula, di apartemennya ada dua kamar. Mungkin tidak akan jadi masalah jika mereka tinggal bersama.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya. Untuk saat ini, aku belum bisa berpikir jernih."
"It's oke! Aku menunggu jawaban kamu secepatnya," sahut Devan.
...***...
Lain Devan lain pula dengan Davin. Saudara kembar itu menghadapi suasana yang berbanding terbalik. Devan yang ikut bersedih dan prihatin dengan apa yang terjadi pada Tasya. Sementara Davin sedang dihujani ucapan selamat oleh orang-orang tercintanya. Dia sengaja langsung pulang ke rumah mamanya dan memberi tahu kabar tentang kehamilan Diandra.
Tentu saja hal itu membuat Keluarga Sky dan Pattinson begitu bahagia karena akan hadir anggota baru lagi dalam keluarga mereka. Sevia dan Rani pun sepakat untuk makan malam bersama sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehamilan Diandra.
"Dian, tolong kasih tahu Deva untuk makan malam di sini. Devan juga kenapa belum pulang padahal sudah magrib," ucap Sevia.
"Iya, Mah. Devan tadi siang sih sedang meeting tapi gak tahu setelah itu," jawab Diandra.
"Oh, sekalian kasih tahu juga untuk cepat pulang." Sevia terus saja mengaduk adonan brownies yang akan dia tuang ke loyang.
Meskipun dia tidak pintar memasak, tetapi Sevia pandai membuat brownies. Jadinya, dia selalu bagi tugas dengan Rani jika ada acara seperti ini. Rani yang memasak bersama dengan bibi, sedangkan dia menyiapkan kue-kue dan buah.
Dian yang mendapat tugas untuk menghubungi Devanya, dia pun segera pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Setelah mendapatkan benda pipih itu, Diandra langsung mencari kontak sahabatnya dan menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Iya Dian kenapa?" tanya Devanya di seberang sana.
"Kata mama, makan malam di rumah mama. Ada hal yang mau mama umumkan. Kamu ...."
Diandra tidak melanjutkan ucapannya saat dia mendengar suara orang mendessah di seberang sana. Pikirannya langsung travelling ke mana-mana. Sampai Davin dari kamar mandi langsung memeluknya dari belakang.
"Kenapa bengong?" tanya Davin heran.
Diandra tidak menjawab apa yang suaminya tanyakan. Dia hanya menunjuk pada ponselnya yang masih terhubung dengan Devanya. Davin yang tidak mengerti maksud istrinya, langsung berbicara pada kakaknya.
"Kak Deva, kamu apakan istriku sampai bengong di tempatnya?" tanya Davin dengan suara kencang.
"Kamu, Vin. Kakak gak apa-apain. Orang Kakak lagi di dipijitin sama Bang Ano. Emang Dian kenapa? Apa dia kesurupan? Bacain ayat kursi, Vin! Magrib-magrib gak boleh bengong, setannya sedang berkeliaran." Panik Devanya
"Bukan kesurupan sama setan tapi kamu Deva! Kenapa tadi malah mendessah bikin otak aku jadi kotor?" sewot Diandra.
__ADS_1
"Eh, Kho aku sih. Emang kapan aku ... Sudahlah, tadi kamu mau apa nelpon aku?"
"Nanti makan malam di rumah mama Devanya, kakak ipar aku yang cantik.
"Oh, siap-siap. Tolong bilangin sama mama juga, aku ingin rujak kedondong campur jambu batu yang ditumbuk. Bye bye adik ipar aku yang sensian.
Klik
Devanya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ibu hamil itu tidak mau mendengar ocehan Diandra yang dia pikir sedang PMS, sehingga sering uring-uringan dan cepat marah.
"Devanya nyebelin, main tutup-tutup saja," gerutu Diandra.
"Udah sayang, jangan marah-marah terus. Memang Mama sedang nyiapin buat makan malam keluarga besar kita?" tanya Davin yang tidak tahu menahu urusan para wanita di rumah itu.
"Iya, Devan juga suruh cepat pulang! Tapi tadi nelpon gak diangkat-angkat."
"Dia mungkin pulang telat. Tadi kasih tahu aku kalau ayahnya Tasya meninggal. Dia sedang membantu proses pemakaman sekaligus menemani dia. Kasian gadis itu, dia hidupnya sebatang kara," jelas Davin.
"Apa? Jadi Tasya ...."
"Iya, kita harus memperlakukannya dengan baik agar dia tidak merasa sendiri dan frustrasi. Terkadang orang jahat itu asalnya dari orang baik yang merasa dunia ini tidak adil padanya." potong Davin.
"Aku kan gak jahat sama dia. Aku hanya khawatir, dia akan jadi pelakor. Karena semasa kuliah dulu dia dan teman-temannya jadi ayam kampus. Entah sekarang, mereka masih seperti itu atau sudah berubah."
"Waspada boleh, tapi tidak baik kalau kita berpikiran buruk pada orang lain."
"Dewasa sekali suamiku, siapa sih istrinya?"
"Tentu saja kamu. Lagipula, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari umurnya. Contohnya saja ...."
Devan tidak melanjutkan ucapannya. Dia khawatir Diandra akan tersinggung dengan apa yang akan dia katakan, sehingga pemuda tampan itu memilih untuk mengecup singkat istrinya. Namun sepertinya, sebuah ciuman singkat terasa kurang bagi Diandra. Dia pun berinisiatif untuk mencium Davin.
Hingga akhirnya pergulatan lidah pun tidak dapat mereka hindari. Keduanya menjadi terbakar gairah. Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu mampu menghentikan suasana panas yang menyelimuti kamar itu.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan!...
__ADS_1
...Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....