
"Apa yang kalian ributkan? Kenapa suaranya sampai ke atas?"
"Sorry, Dave kita ganggu kamu. Kalian lanjutkan saja, kita mau pulang," ucap Harry langsung menarik tangan Nadine.
Meskipun Nadine terlihat menolak untuk pulang, tetapi Harry di tetap memaksanya. Dave hanya melihat dari atas tanpa ada niatan untuk ikut campur. Dia merasa tidak enak hati dengan Harry, khawatir sahabatnya itu akan salah paham padanya.
"Dave, mereka kenapa?" tanya Sevia yang datang dengan menepuk pelan putrinya agar tertidur kembali.
"Itu urusan rumah tangga mereka. Deva mau bobo lagi apa mau main sama Papa?" tanya Dave pada putrinya dengan mencium pipi chubby Devanya.
"Kita lihat berkeliling dulu, Dave. Aku ingin kenal dengan rumah Suamiku," jawab Sevia.
"Boleh, sini Papa yang gendong!" Dave langsung mengambil alih Devanya agar dia menggendongnya
Pasangan suami istri itu langsung berkeliling melihat-lihat rumah mereka dimulai dari lantai dua yang di mana mereka berada kemudian lanjut ke lantai bawah dan terakhir ke kolam renang yang belum ada airnya.
Sementara itu, Harry yang terus menarik tangan Nadine sampai rumahnya yang memang ada di belakang rumah Dave. Langsung membawa Nadine masuk ke kamar. Dia sangat kesal, karena istrinya itu seperti memuja Dave dengan semua ketampanan dan kekayaan yang Dave miliki. Bukannya dia tidak kalau sedari dulu Nadine sering mencuri pandang pada Dave. Tapi Harry tidak menyangka kalau itu akan berlanjut sampai sekarang.
"Nadine, katakan padaku! Apa kamu menyesal menikah denganku karena aku tidak memiliki apa yang kamu inginkan?" tanya Harry.
"Kalau iya kenapa? Kamu tuh kasar sama aku Harry. Seenaknya kamu menyeret aku sampai rumah," sentak Nadine.
"Lalu, mau kamu apa sekarang?" tanya Harry.
"Mau aku? Aku hanya mau rumah yang sebagus rumah Dave," jawab Nadine.
Aku tidak pernah menyangka ternyata kamu matre, Nadine. Kenapa kamu tidak bisa menerima aku apa adanya? Kalaupun aku membeli rumah yang sama seperti Dave, aku khawatir kamu semakin menginginkan apapun yang dimiliki oleh Dave dan aku pasti akan kerepotan memenuhi setiap keinginan kamu, batin Harry.
"Aku tidak bisa memberikan kamu rumah sebagus itu, karena aku tidak punya uang sebanyak itu. Kalau kamu keberatan untuk tinggal di rumahku, terserah apa yang akan kamu lakukan." Harry langsung keluar rumah tanpa bilang mau ke mana pada Nadine.
__ADS_1
Dia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai akhirnya saat di pertigaan, dia memotong jalan akan berbelok ke arah kanan tanpa permisi, sedangkan ada sebuah mobil dari belakang yang tidak tahu kalau akan ada mobil yang berbelok sehingga kecelakaan itu terjadi. Mobil Harry tertabrak oleh mobil yang dari belakang.
Warga yang melihat langsung menolong korban kecelakaan dan membawanya ke rumah sakit. Harry tidak mengalami luka serius, sedangkan pengemudi yang menabrak mobil Harry mengalami luka serius karena mobil bagian depannya ringsek akibat benturan yang cukup keras. Harry yang masih dalam keadaan sadar segera menghubungi sahabatnya.
"Hallo, Dave! Tolong aku, sekarang aku lagi di rumah sakit. Tadi mobilku ada yang menabrak dari belakang. Kamu cepat ke sini!" Harry langsung bicara panjang lebar saat panggilan teleponnya tersambung dan diangkat oleh Dave.
"Apa? Aku segera ke sana!" Dave langsung memutuskan teleponnya tanpa bertanya Harry ada di rumah sakit yang mana.
"Sayang, kita mainnya nanti saja, Harry kecelakaan. Aku akan mengantar kalian dulu ke rumah Tante baru menemui Harry." Dave langsung menurunkan Sevia yang kini sedang berada di pangkuannya. Acara makan siang plus-plus mereka pun akhirnya tidak bisa dilanjutkan.
"Iya, gak apa." Sevia tersenyum dengan merapikan bajunya sebelum mereka pulang.
Setelah semuanya siap, mereka pun segera pulang.
Dave langsung menuju ke rumah sakit setelah mengantarkan Sevia. Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menuju ke ruang IGD. Nampak Harry yang terbaring di bed rumah sakit, Dave pun segera menghampirinya.
"Aku baik-baik saja, hanya lecet sedikit sama jidatku yang terbentur stir," jawab Harry. "Aku khawatir dengan supir yang menabrak aku. Pasti lukanya parah karena kap depan mobil dia ringsek," lanjutnya.
"Nanti kita menengoknya, untuk biaya pengobatan dia biar aku yang tanggung. Bagaimana kejadiannya sampai tabrakan begitu?" tanya Dave.
Harry pun menceritakan semuanya dengan detail. Hanya saja dia tidak menceritakan tentang penyebab kekesalannya secara rinci. Bagaimana pun dia tidak mau kalau Dave tahu yang sebenarnya tentang rumah tangga dia dengan Nadine.
"Siapa namanya?" tanya Dave setelah Harry selesai bercerita
"Aku tidak tahu, coba tanya pada perawat itu," tunjuk Harry.
Dave pun segera bertanya pada perawat yang sedang menangani pasien yang lain. Setelah mendapatkan jawaban apa yang diinginkannya, dia kembali menemui Harry.
"Kondisinya kritis, sekarang sudah dipindah ke ICU. Kata perawat sebentar lagi kamu juga dipindah ke ruang perawatan. Mereka masih menyiapkan ruangannya," ucap Dave. "Apa istrimu sudah tahu?"
__ADS_1
"Gak usah memberitahu dia, Dave. Aku harap, kamu juga tidak datang ke rumahku saat aku gak ada." Terasa perih hati Harry saat mengingat wanita yang dicintainya tidak bisa menghargai perasaannya.
"Harry, kamu jangan khawatir. Bukankah kamu tahu selama ini aku selalu bersikap cuek sama dia?" tanya Dave yang bersamaan dengan kedatangan perawat yang akan membantu Harry pindah ke ruang perawatan.
Setelah memastikan keadaan Harry baik-baik saja, Dave pun segera melihat korban akibat kecelakaan itu. Namun, saat sampai di depan ruang ICU, Dave kaget melihat keberadaan Sevia di sana. Dave pun langsung bergeser menghampiri istrinya.
"Via , kenapa ada di sini? Devanya mana?" tanya Dave heran.
"Suami Rani kecelakaan, Dave. Kalau Devanya aku titip ke Tante," jawab Sevia.
"Apa? Suami sahabat kamu?" Dave semakin kaget saat mengetahui korban kecelakaan itu suami sahabat istrinya.
Bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka tahu Harry lah yang telah memotong jalan, batin Dave.
"Iya Dave, tadi Rani menyuruh suaminya untuk cepat-cepat pulang karena ada mertuanya di rumah, tapi ternyata dia malah kecelakaan di jalan" jelas Sevia.
Berarti suami Rani dan Harry memang sedang sama-sama kurang fokus karena masalah pribadi mereka. Semoga saja Rani dan suaminya tidak menyalahkan Harry dengan kecelakaan itu, batin Dave.
"Rani, aku turut prihatin dengan apa yang terjadi dengan suami kamu," ucap Dave.
Mendengar Dave memanggil namanya, Rani pun mendongak melihat ke arah suami sahabatnya. Dia hanya menganggukkan kepala tanpa bicara sedikit pun. Mulutnya seakan terkunci rapat saat menerima kabar tentang kecelakaan suami yang sangat dicintainya. Dia sengaja menyuruh Diwan untuk cepat-cepat pulang karena tidak kuat mendengar ocehan mertuanya yang selalu bertanya kenapa dia tidak kunjung hamil. Rani yang malas memberitahu tentang kehamilannya hanya membiarkan saja ibu mertuanya berpikir seperti itu karena jika dia menanggapi pasti akan ada hal lain yang dia protes. Tapi jika Diwan ada, ibu mertua Rani tidak berani bicara yang tidak-tidak di depannya.
Yang kuat Mas, aku tidak akan sanggup jika kamu harus pergi. Hanya kamu lelaki yang begitu sabar menghadapi aku. Hanya kamu lelaki yang selalu membela aku. Hanya kamu lelaki yang bisa menerima segala kekuranganku. Aku mencintaimu sangat sangat mencintaimu, jerit hati Rani.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite ya!...
...Terima kasih 🙏🏻...
__ADS_1