
Selepas makan siang bersama, Sevia mendadak menjadi pendiam. Dia rasanya ingin menangis, hatinya merasa tidak rela melihat Dave mendapatkan perhatian lebih dari sahabat-sahabat perempuannya. Meskipun dia tahu, mereka murni bersahabat, tetap saja hati Sevia merasa tersentil.
Flashback on
"Dave makan yang banyak biar kamu cepat pulih," ucap Zee dengan menyimpan sayur di piring Dave.
"Benar, Dave. Nih aku kasih kamu daging, biar cepat sehat," timpal Kejora.
"Kamu juga harus minum susu biar lebih pinter lagi hack-nya." Edelweiss pun tidak mau ketinggalan dengan kedua sahabatnya. Dia menyimpan segelas susu coklat di depan Dave.
"Del, susu kan dia udah dapat jatah. Lebih baik minum jus biar segar," ucap Kejora.
"Sudah sini aku suapi!" Zee langsung mengambil piring Dave berniat untuk menyuapi saudara angkatnya. Namun, Dave segera menolaknya saat sudut matanya melihat Sevia yang menundukkan kepalanya.
"Sudah, Zee, Edel, Ra! Aku bisa makan sendiri. Makasih ya perhatiannya," ucap Dave.
"Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu, kamu hebat bisa membuat Keluarga itu mendekam di balik jeruji besi. Kamu tahu, mereka tuh suka keterlaluan." Zee mengerucutkan bibirnya sebal.
Dia masih belum lupa dengan kejadian Mona menyandera Malvin dan memaksanya untuk menikah dengannya. Ditambah lagi, kemarin Mona mencoba untuk membunuhnya.
"Iya benar, aku juga pernah kena labrak dia. Padahal aku gak sengaja menyenggolnya, eh dia malah nampar aku," timpal Edelweiss mengenang saat masa sekolah dulu.
"Mending kamu cuma ditampar, aku malah duel sama pengawalnya. Hanya karena mobil dia aku salip," ucap Kejora yang ikut mengenang masa sekolahnya dulu.
"Iya sudah, sekarang semua sudah berlalu. Mona tidak akan menggangu kita lagi. Ayo Via suapi aku," pinta Dave.
Akhirnya Sevia menyuapi Dave. Meskipun begitu, ibu hamil itu masih saja jadi pemurung.
Flashback off
Dave yang merasa tidak nyaman dengan sikap Sevia yang seolah-olah mendiamkannya, dia pun langsung menghampiri istrinya yang sedang bermain bersama Devanya di kamar.
"Dek, Mama kenapa? Kho diemin Papa ya? Memang Papa bikin salah apa?" tanya Dave melas seolah-olah berbicara pada putrinya.
"Mama ...." Devanya menciumi wajah mamanya yang terlihat murung, membuat Sevia tersenyum samar mendapat perlakuan seperti itu dari anaknya.
"Via, jangan mendiamkan aku seperti ini. Kalau aku salah, tolong bilang padaku. Apa kamu merasa menyesal telah merawat aku?"
"Bukan seperti itu, Dave. Aku merasa malu berada ditengah-tengah kalian," elak Sevia.
__ADS_1
"Via, please jangan terpengaruh dengan sikap mereka. Aku, Zee dan yang lainnya hanya bersahabat seperti aku dengan Harry. Kalau kamu tidak suka melihat aku skin ship dengan yang lain. Aku usahakan akan menghindarinya." Dave benar-benar tidak tahan melihat sikap Sevia yang mendiamkan dirinya.
"Terima kasih, Dave." kedua sudut Sevia terangkat sempurna membentuk bulan sabit. Kini hatinya semakin yakin kalau cinta Dave hanya untuknya. Bukan untuk cinta gadis yang dulu pernah disukai Dave ataupun Edelweiss, gadis yang menyukai suaminya sejak kecil.
"Aku tidak menerima ucapan terima kasih kamu. Aku hanya akan menerima layanan kamu di atas tempat tidur," bisik Dave.
"Mulai deh nakalnya keluar. Dave, kapan kita pulang ke kota industri? Aku sudah kangen ingin makan soto Betawi yang di dekat wisma," tanya Sevia.
"Kalau kamu mau, besok kita pulang. Harry pasti pulang juga, ada meeting penting dengan klien."
"Oh, ya sudah kita pulang bareng saja sama mereka."
...***...
Keesokan harinya, Dave dan Sevia pulang ke rumah yang ada di kota industri. Saat sampai di sana, ternyata ada Nadine yang sedang menunggu kedatangan Harry. Entah tahu dari siapa, Nadine bisa sampai di rumah dinas Harry. Sevia dan yang lainnya langsung menuju ke lantai atas, tinggallah Harry bersama dengan Nadine di ruang tamu.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Harry ketus.
"Kenapa? Memangnya gak boleh kalau aku menemui putraku?" tanya Nadine.
"Boleh saja, asal tidak menggangu. Aku ke atas dulu, lelah." Harry langsung beranjak pergi. Dia enggan sekali berurusan lagi dengan Nadine.
"Ada apa lagi? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Harry dengan nada dingin.
Melihat Harry yang akan beranjak pergi, Nadine pun langsung mengejarnya. Dia memegang tangan kekar Harry lalu mengelusnya lembut.
"Harry, aku sudah memikirkannya berulangkali. Demi Gavin, sebaiknya kita rujuk! Aku minta maaf dengan semua kesalahanku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Nadine dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
Harry memejamkan matanya mendapatkan sentuhan lembut dari Nadine. Dia tidak pernah menyangka, ternyata perasaannya masih tersimpan rapi untuk Nadine. Namun, dia langsung tersadar saat mendengar suara nampan yang jatuh dari ruang tengah.
"Rani." lirih Harry.
Harry pun segera melepaskan tangan Nadine yang sedang memberikan sentuhan lembut untuk menggodanya. Dia tidak sadar kalau ada hati seorang istri yang hancur melihat kemesraan suami dan mantan istrinya.
Rani pasti berpikiran yang tidak-tidak. Aku tidak boleh membiarkan dia salah paham, batin Harry.
"Maaf mengganggu kalian, aku akan membuat minuman yang baru," ucap Rani segera membereskan minuman yang tumpah.
"Rani, tunggu sebentar!" pinta Harry langsung menghampiri istrinya.
__ADS_1
Harry pun langsung meraih tangan Rani dan membawanya ke hadapan Nadine. Dia pun langsung merangkul pinggang Rani hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Nadine, aku ucapkan terima kasih dengan niat baikmu. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah bahagia bersama Rani dan anak-anak. Aku harap, kamu tidak usah datang lagi untuk menemui aku," ucap Harry menatap lekat
"Apa? Kamu lebih memilih pembantu itu dibandingkan aku? Apa karena berpisah denganku, selera kamu jadi rendah?" tanya Nadine dengan memandang sinis pada Rani.
Sialan babu itu! Mana Adjie sekarang bermasalah. Film juga gak laku di pasaran dan Dion ternyata dipecat jadi CEO. Aku tidak akan membiarkannya! Harry harus jadi milikku lagi! Hanya Harry sekarang harapanku, batin Nadine.
"Kamu hanya melihat luarnya Rani saja. Hatinya jauh lebih cantik dari kecantikan wajah kamu," bela Harry.
Mendengar apa yang Harry katakan, Rani langsung mendongak melihat wajah suaminya. Dia tidak menyangka, Harry akan membelanya di depan Nadine. Wanita yang pernah mengisi penuh hati suaminya.
"Cih! Kamu terlalu hiperbola memuji pembantu itu. Jelas-jelas aku lebih cantik dari dia. Buktinya, tadi kamu begitu menikmati sentuhan aku." Nadine berdecih meremehkan Rani.
"Nadine, jaga ucapan kamu! Rani istriku dan aku tidak akan membiarkan orang lain menghinanya. Sebaiknya kamu pulang sekarang dan jangan kembali lagi ke sini." Harry menarik napas sejenak dan menghembuskannya dengan kasar.
"Jangan gila kamu Harry! Aku masih punya hak untuk bertemu dengan Gavin. Kecuali, kamu memberikan Gavin padaku."
"In your dreams. Kamu lupa, sudah ada hitam di atas putih? Sudah jelas tertera di situ, kalau kamu sudah tidak berhak apapun pada Gavin. Silakan ke luar, aku mau istirahat!"
Sialan! Kenapa aku sampai lupa dengan surat perjanjian itu? Aku hanya membaca sekilas poin-poinnya. Sebaiknya aku baca kembali untuk mencari celah agar aku bisa mendapatkan uang dari Harry, batin Nadine
Tanpa bicara lagi, Nadine pun langsung pulang tanpa berniat untuk melihat putranya. Dia hanya akan menjadikan Gavin sebagai alat untuk mendapatkan uang dari Harry.
Setelah kepergian Nadine, Harry langsung memeluk erat Rani. Dia butuh kekuatan untuk melepaskan semua hal tentang Nadine. Meski bagaimana pun, masih ada sisa cinta di hatinya untuk wanita yang sudah membuatnya terluka.
"Rani, bantu aku melepaskan semua hal tentang Nadine. Aku tidak mau kembali terjebak dalam pesonanya," lirih Harry.
"Kita sama-sama belajar untuk saling mencintai pasangan yang Tuhan pilihkan untuk kita. Aku sudah menerima kamu dengan ikhlas sebagai imam aku, aku harap kamu juga meneguhkan hati kamu untuk menerima aku sebagai makmum kamu. Bukan hanya karena napsu semata ataupun karena keadaan yang memaksa kita untuk bersama."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin cerita keren yang satu ini.
__ADS_1