
Sinar mentari masuk menyelusup masuk lewat celah jendela. Sevia terbangun saat putri kecilnya merengek ingin minta ASI. Betapa kagetnya ibu muda itu saat mendapati hari sudah siang. Namun, akhirnya dia teringat kalau sedang tidak sholat jadi rasanya tidak masalah kalau bangun telat dan tidak melaksanakan kewajibannya.
Setelah memberikan ASI pada putrinya, Sevia pun mengajak buah hatinya untuk membersihkan diri. Kini kedua ibu dan anak itu sudah nampak rapi dan wangi.
"Sayang, ayo kita bangunkan papa! Pasti papa ketiduran di sana," ajak Sevia.
Sevia mencari Dave ke ruang kerjanya, tetapi ternyata kosong. Hanya terlihat monitor yang masih menyala. Devanya terlihat senang melihat begitu banyak gambar di sana. Namun Sevia secepatnya keluar dari ruangan itu takut ada sesuatu yang salah dia pegang.
"Dave ke mana? Pagi-pagi udah hilang," gumam Sevia. "Sayang, Mama mau minum dulu ya!"
Sevia pun membawa putrinya menuju ke dapur. Saat akan membuka lemari es, terlihat ada sebuah note yang menempel ke sana.
Via, aku ke luar dulu ada urusan. Untuk sarapan kamu dan baby D sudah aku pesankan. Mungkin nanti istrinya Harry akan datang ke apartemen untuk menemani kamu agar tidak bosan. Sandi pintu apartemen, tanggal pernikahan kita.
^^^with love,^^^
^^^Hubby^^^
Kedua sudut bibir Sevia terangkat membentuk bulan sabit. Hatinya merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian dari Dave. Meskipun Dave sering nampak cuek tetapi dia selalu memberikan perhatian yang tidak pernah dia duga.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Sevia pun segera beranjak membuka pintu yang otomatis terkunci jika pintu sudah tertutup. Tanpa sandi dan finger print, pintu apartemen Dave tidak akan mau terbuka.
"Hai, Aku Nadine! Kamu pasti Sevia," sapa seorang wanita cantik yang berdiri dengan anggun di depan pintu.
"Hai! Iya, aku Sevia. Pasti istrinya Pak Harry," tebak Sevia. "Ayo masuk, Mbak!" lanjutnya.
"Wah, putrimu cantik sekali! Sangat mirip dengan papanya," puji Nadine.
"Makasih, Mbak! Memang Deva mirip sekali dengan Dave, aku hanya melahirkan dan merawatnya saja. Karena wajahnya sudah didominasi oleh wajah Dave," seloroh Sevia.
__ADS_1
"Tidak apa, aku juga entah mirip siapa anakku nanti?" Nadine mengelus perutnya yang belum kelihatan membuncit seraya mendudukan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Mbak Nadine juga sedang isi?" tanya Sevia.
"Iya, baru tiga bulan. Padahal aku tidak pake pencegah kehamilan. Mungkin karena Harry stres memikirkan pekerjaannya dan juga Dave yang terbaring koma sehingga mempengaruhi hormonnya," tutur Nadine.
"Dave koma? Berapa lama?" tanya Sevia kaget.
"Mungkin ada delapan bulanan. Saat kondisi Dave sudah membaik. Mungkin pikiran Harry juga sudah tenang sehingga akhirnya keinginan aku untuk segera memiliki anak terwujud," ungkap Nadine.
"Maaf, Mbak! Jika merepotkan," sesal Sevia.
"Tidak apa! Harry sangat menyayangi Dave seperti adiknya sendiri. Dari semasa sekolah, mereka sudah dekat dan ternyata Dave mengambil kelas akselerasi agar bisa lulus bareng dengan Harry." Nadine terus menceritakan tentang Dave dan Harry yang seperti amplop dan perangko.
"Apa sekarang Pak Harry juga ikut dengan Dave?" tanya Sevia.
"Tentu saja! Harry pasti ikut ke manapun Dave pergi. Yang aku dengar, Malvin sudah ditemukan tapi katanya masuk rumah sakit. Aku kurang jelas mendengar pembicaraan Harry di telpon."
...***...
Sementara di rumah sakit internasional, terlihat Dave, Harry dan Barra nampak seperti sedang berdiskusi di depan ruang operasi, sedangkan Zee berpelukan dengan Edelweiss dan Kejora. Zee sangat kaget saat tadi pagi ditelepon oleh Dave dan menyuruhnya untuk ke rumah sakit. Namun, dia lebih kaget lagi saat mengetahui kalau Mona mengurung Malvin di villa mewah di sebuah pulau pribadi milik keluarganya. Dari yang didengarnya, Mona memaksa Malvin untuk menikahinya. Bahkan rencananya, besok mereka akan melangungkan pernikahan di bawah tangan.
"Barra, apa kamu sudah memberitahu keluarga Pratama?" tanya Dave.
"Anak buahku sudah menelponya, tapi orang tua Malvin tidak ada di tanah air. Mereka menetap di luar negeri," jelas Barra.
"Bukankah, Om Zyan itu omnya Malvin? Kenapa tidak menghubunginya?" saran Harry.
"Aku kurang tahu silsilah keluarga Pratama. Kalian kan tahu kalau mereka menutup informasi ke publik tentang keluarganya," keluh Barra. "Orang kaya memang selalu begitu, giliran ada kejadian seperti ini saja, keluarganya tidak ada yang menyadari kalau anaknya disandera." lanjutnya.
__ADS_1
"Cukup Barra! Kamu menyinggungku," potong Dave.
"Oh! Aku lupa, keluargamu termasuk salah satunya." Ledek Barra.
"Sudah! Aku akan menghubungi Om Andrea. Aku yakin pasti dia tahu. Seingatku istrinya Om Andrea memiliki darah yang sama dengan keluarga Pratama." Dave pun segera menghubungi Andrea untuk memberitahukan keadaan Malvin.
Setelah keduanya berbincang dan ternyata Andrea merasa tidak suka membicarakan Keluarga Pratama, akhirnya istrinya Andrea yang datang untuk menjadi penanggung jawab Malvin dan segera menghubungi keluarganya.
Setelah hampir satu jam mereka menunggu di depan ruang operasi, akhirnya lampu ruangan itu padam, pertanda operasi sudah selesai. Zee langsung menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana operasinya, Dok? Apakah berjalan dengan lancar?" tanya Zee.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, Nona. Meskipun kamu sedikit kesulitan mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya. Sekarang, tinggal menunggu pemulihannya saja," jelas Dokter itu.
"Makasih, Dok!" kompak Zee dan yang lainnya.
"Kamu tenang, Zee. Malvin pasti baik-baik saja!" Dave berusaha menghibur adik angkatnya.
"Dave, apa sebaiknya aku melepaskan dia? Kamu, tahu kan kalau keluarga Mona sekarang yang sedang berkuasa di negeri ini. Aku khawatir kalian kena dampaknya." Zee menundukkan kepalanya. hatinya benar-benar bimbang. Meskipun dia sangat membutuhkan Malvin, tapi dia takut hubungannya dengan Malvin justru berdampak tidak baik pada usaha orang tuanya dan orang yang ada di sekelilingnya.
"Kamu jangan takut, Zee! Aku menyergap villa itu tidak memakai baju dinas. Pasti mereka mengira kalau aku orang bayaran. Lagipula, Dave sudah mematikan semua CCTV yang ada di pulau ini. Setelah Malvin sembuh lebih baik kalian langsung menikah dan tinggal di luar negeri saja sampai Mona melupakan obsesinya. Paling tidak sampai anak kalian sudah beranjak besar," saran Barra.
"Nanti aku pikirkan lagi. Papa juga harus tahu dengan rencana kita. Dia pasti sangat khawatir jika aku mendadak hilang," ucap Zee sendu.
"Kita pasti akan selalu ada di belakang kamu, Zee. Yang penting sekarang kamu jangan sampai stres! Ingat ada bayi kalian yang sangat membutuhkan perhatianmu," timpal Kejora yang sedari tadi diam memperhatikan obrolan sahabatnya.
"Makasih semuanya, kalian memang sahabat terbaikku."
...~Bersambung~...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya kak! Langsung klik like, comment, vote, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, gift dan favorite.
Simpanan Brondong Tajir up sehari 2 bab ya, othor usahakan tiap jam 9 sama jam 2 siang