Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 66 Pernikahan Zee


__ADS_3

Tatkala semua orang tua berembuk tentang rencana pernikahan Zee dan Malvin. Nampak di sebuah ruangan yang serba putih, sepasang anak muda yang sama-sama bungkam. Malvin yang sekarang kondisinya mulai membaik, hanya bisa melihat gadis yang dicintainya selalu murung saat menjaganya di rumah sakit.


"Zee, aku minta maaf dengan apa yang telah terjadi di antara kita. Tidak seharusnya aku mengambil kesempatan saat itu. Seandainya aku lebih bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu, mungkin aku tidak mengecewakan kamu terlalu dalam," sesal Malvin.


"Semua sudah terjadi, Vin! Aku juga yang salah karena ceroboh asal meminum minuman itu." Zee menautkan jari jemarinya dengan kepala yang tertunduk.


"Zee, kamu percaya kan, kalau aku bukan sedang berlibur di villa keluarga Mona. Tapi aku disekap di sana. Mona memaksaku agar aku menerima cintanya dan menikahi dia. Namun, aku selalu menolak. Makanya dia tidak membebaskan aku selama sebulan lebih. Kamu tahu kan Zee, dari dulu kamu gadis yang aku cintai bukan dia." Malvin terus saja berusaha meyakinkan Zee. Dia takut kekasih hatinya salah paham padanya.


"Apa selama di sana, kamu pernah berhubungan badan?" tanya Zee dengan memalingkan muka.


"Nggak, Zee! Pernah sekali dia memberikan obat pada minumanku, tapi aku langsung sadar dan mencoba kabur dengan berusaha menyebrangi lautan berusaha bisa sampai ke pulau terdekat, tapi usahaku hanya sia-sia. Para pengawal menemukan aku yang mengambang di laut keesokan harinya," tutur Malvin.


"Malvin, apa kamu yakin hanya mencintai aku? Dan mau menerima aku apa adanya?" tanya Zee.


"Kenapa kamu bertanya begitu? Tentu saja aku akan menerima kamu apa adanya. Apalagi, aku yang telah merusak kamu." Entah kenapa jantung Malvin berdegup lebih kencang dari biasanya. Dia merasa telah terjadi sesuatu yang besar pada kekasihnya.


"Malvin, aku hamil. Sekarang usia kandunganku sudah jalan sepuluh minggu. Apa kamu akan bertanggung jawab atas perbuatan kamu waktu itu? Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka bisa menerima bayi yang aku kandung ini?" tanya Zee dengan menatap lekat pada Malvin yang sedang menyender di kepala ranjang.


"Zee, setuju atau tidak setuju keluargaku, aku akan menikahi kamu. Apalagi ada anakku di rahim kamu, kenapa kamu jadi meragukan aku?" tanya Malvin dengan menggenggam tangan Zee.


"Aku takut, keluarga kamu lebih memilih Mona sebagai menantunya karena dia putri seorang penguasa di negeri ini." Lagi-lagi Zee menundukkan kepalanya.


"Lihat aku, Zee! Aku hanya menginginkan kamu untuk menjadi pendamping hidupku dan ibu dari anak-anakku. Percaya padaku, Zee!"


Saat keduanya sedang terhanyut dengan pikiran masing-masing dengan mata yang terus saling berpandangan, terdengar suara pintu seperti ada yang membukanya dari luar. Nampak Mitha dan Allana yang datang untuk menjenguk keponakannya.


"Eh, Tante ganggu ya!" Mitha terlihat canggung dengan pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Nggak kho, Tan!" sahut Zee yang terlihat kikuk.


"Bagaimana keadaan Malvin sekarang, apa sudah boleh pulang?" tanya Mitha lagi.


"Sudah membaik, Tan! Mungkin besok juga sudah pulang," sahut Malvin.


"Syukurlah! Tante sudah menghubungi orang tua kamu, katanya sore ini mungkin sudah sampai di tanah air," ucap Mitha.


"Makasih, Tan!" ujar Zee dan Malvin.


"Tidak usah sungkan begitu! Oh iya, katanya pernikahan kalian akan dipercepat, apa benar begitu?" Mitha melihat ke arah Zee dan Malvin bergantian. " Tidak usah khawatir masalah Mona, Tante sudah meminta om kamu untuk membereskannya," lanjutnya.


...***...


Hari pun telah berganti, kini Malvin kondisinya sudah membaik. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pernikahan Zee dan Malvin dipercepat sehingga hanya anggota keluarga dekat saja yang mengetahuinya. Selesai acara akad nikah yang dilaksankan di kediaman Putra, semua anggota keluarga dan sanak saudara berkumpul untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Begitupun dengan Sevia yang masih nampak canggung berada di tengah-tengah keluarga Dave, tetapi sebisa mungkin dia bersikap biasa.


"Wah, Dave putrimu cantik sekali! aku mau mengangkatnya sebagai menantuku," seloroh Andrea yang sedang berbincang bersama Dave dan Al. "Apa istrimu yang dulu aku temui di bawah mejamu?"


"Memang Bang Andrea pernah bertemu dengan istrinya, Dave?" tanya Al yang merasa heran.


"Tentu saja! Mereka dulu kan cinta lokasi, bukan begitu Dave?" Andrea mengerlingkan matanya menggoda Dave.


"Ya mungkin bisa dibilang begitu, Om." Dave hanya menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Tidak apa, cinta itu memang tidak mengenal waktu dan tempat. Dia akan datang sesuka hatinya," ucap Andrea.


"Kenapa Abang tidak mengatakan apapun padaku kalau Dave sudah memiliki seorang kekasih di sana," keluh Al.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kelanjutan hubungan mereka akan sejauh ini. Aku pikir, Dave hanya bersenang-senang dengan gadis itu," jawab Andrea.


Mungkin iya, awalnya aku hanya mencari kesenangan. Tapi semakin lama aku mengenalnya, semakin aku tidak bisa lepas darinya. Sevia mampu membuat aku menjadi diri sendiri, batin Dave.


Sementara Sevia bersama dengan Icha dan lainnya. Entah kenapa, dia merasa canggung berkumpul bersama dengan Zee dan teman-temannya sehingga dia memilih untuk mengobrol dengan para orang tua.


"Via, pintar sekali kamu membuat anak! Lihat, dia sangat menggemaskan. Aku jadi ingin cepat-cepat punya cucu," ucap Kia mamanya Edelweiss.


"Icha yang duluan punya cucu. Tapi kenapa besan kamu cepat-cepat pulang. Dia seperti terpaksa menikahkan putranya dengan Zee," ucap Vio.


"Bang Zidan memang begitu, jangan diambil hati! Dia kurang suka berkumpul seperti ini." Mitha yang sedari tadi mendengarkan ikut menimpali. "Oh iya, Via. Nanti main ke rumah Tante, Keano pasti senang melihat bayi cantik yang seperti boneka ini."


"Insya Allah, Tan! Aku pamit dulu, sepertinya Devanya sudah mengantuk." Sevia pun akhirnya undur diri karena melihat putrinya seperti sudah tidak nyaman berada di sana.


Sesampainya di kamar, dia langsung menidurkan putrinya yang kemudian disusul olehnya. Rasa kantuk yang sudah tidak bisa ditahan lagi, membuat Sevia ikut tertidur bersama Devanya. Sampai dia tidak menyadari, kalau Dave sudah ikut bergabung bersama istrinya merajut mimpi bersama. Saat hari menjelang sore, barulah dia terbangun dengan tangan kekar Dave yang memeluknya dari belakang.


"Dave, aku mau bangun!" Sevia menyingkirkan tangan kekar suaminya.


Dave pun menurut apa yang disuruh oleh istrinya. Dia melepaskan Sevia dan kembali tidur bersama putrinya. Ibu muda itu hanya menggelengkan kepalanya melihat Dave yang terlihat masih mengantuk.


Menggemaskan sekali kalau sedang tidur begini, aku sampai ingin terus melihat wajah damainya yang sedang terlelap, batin Sevia.


"Via, jangan hanya melihatku saja! Berikan aku ciuman agar mataku bisa terbuka,"


...~Bersambung~...


Ayo ayo salam tempelnya buat Zee. Dikasih like komen, Alhamdulillah

__ADS_1


Dikasih bunga kopi, Alhamdulillah.


Dikasih vote dan rating ⭐⭐⭐⭐⭐ juga tetap Alhamdulillah.


__ADS_2