Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 148 Ungkapan Harry


__ADS_3

Setelah kedatangan Nadine ke rumah Harry, kini pria yang selalu nampak serius itu bertekad untuk lebih membuka hatinya lebar-lebar menyambut cinta Rani dalam. Karena selama ini, meskipun mereka sudah sering melakukan hubungan badan layaknya suami istri seperti biasanya, di antara keduanya belum ada yang mengatakan kata cinta.


Seperti malam ini, di saat semua orang terlelap, Harry dan Rani baru saja melakukan olahraga malam yang membuat saraf-saraf menegang. Namun, setelahnya menjadi rileks dan membuat wajah menjadi berseri


"Rani, besok kita jalan-jalan yuk berdua saja!" ajak Harry.


"Jalan-jalan ke mana? Nanti anak-anak gimana? Aku kan masih menyusui Diandra," tanya Rani.


Benar juga ya, tidak mungkin aku membawa Rani pergi, sementara anak-anak gak ada yang menjaga. Harusnya aku menambah satu pengasuh biar sama-sama pegang satu anak. Jadi aku bisa bebas pergi berdua dengan Rani seperti Dave, batin Harry.


"Kita ke tempat yang dekat saja. Aku penasaran dengan obrolan para karyawan operator, katanya mereka sering kencan di taman seribu janji. Katanya di daerah sini," ucap Harry.


"Harry, kita sudah bukan ABG lagi, yang pacaran di tempat gelap-gelapan." Rani menahan senyumnya, dia ingin tertawa tapi takut Harry tersinggung, karena setahunya yang disebut taman seribu janji hanya sebuah lapang bola. Namun, setiap malam tidak pernah sepi oleh anak muda yang berpasang-pasangan di keremangan malam.


"Kita memang sudah punya anak, tapi kita masih muda," kilah Harry.


"Iya deh masih muda. Tapi kenapa kamu bisa tahu dengan apa yang dilakukan karyawan di luar jam kerja? Apa kamu suka menguping?" tanya Rani.


"Untuk apa aku menguping, aku kan bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan di perusahaan," jelas Harry.


"Maksud kamu? Kamu cenayang,"


"Nggak Rani! Aku hanya melihat melalui rekaman CCTV. Kamu tahu kan kalau semua sudut perusahaan sudah dipasang CCTV? Jadi, aku pasti mengetahui apa yang sedang terjadi di perusahaan," jelas Harry.


...***...


Beberapa hari kemudian, Rani mendapat telepon kalau Harry kecelakaan dan diminta untuk datang ke alamat yang di tuju. Dia dengan tergesa segera menuju ke alamat si penelpon. Rani panik, kilas bayangan masa lalunya saat Diwan kecelakaan dan meninggal berkelebat di ingatannya.


Saat sudah sampai di alamat yang diberikan si penelpon, Rani mengeryitkan dahinya heran. Rani kira alamat rumah sakit. Namun, ternyata bukan rumah sakit yang Rani datangi, tetapi sebuah rumah berlantai dua yang tampak megah.


Ting tong ting tong


Rani menekan bel yang terdapat di samping pintu gerbang. Seorang satpam pun datang untuk membukakan pintu.


"Maaf, Pak! Saya diminta datang ke sini. Katanya suami saya ada di sini," ucap Rani

__ADS_1


"Nama Mbak siapa?" tanya satpam itu.


"Aku Rani,"


"Oh, Mbak Rani, ayo masuk!" ajak satpam itu.


Rani pun langsung mengikuti dari belakang. Dia mengedarkan pandangan matanya, melihat ke sekeliling halaman yang terdapat sebuah taman dengan bunga-bunga yang tersusun rapi. Saat dia sedang asyik menikmati keindahan bunga-bunga yang terawat dengan baik, satpam mengagetkannya dan menyuruh dia untuk masuk.


"Silakan, Mbak!" ucap satpam seraya membukakan pintu.


"Terima kasih, Pak." Rani pun tersenyum manis pada satpam itu.


Baru saja Rani melangkahkan kakinya akan masuk ke dalam ke rumah, dia langsung dikagetkan dengan suara orang-orang yang menyambut kedatangannya.


"Selamat ulang tahun Rani! Semoga panjang umur," seru Sevia dan yang lainnya.


"Terima kasih, Via!"


"Jangan berterima kasih padaku, semua ini ide suami kamu loh. Aku gak nyangka kalau Harry bisa romantis," ucap Sevia seraya melirik ke arah Harry.


Sevia tidak menanggapi apa yang Dave katakan. Dia fokus melihat Harry yang datang dengan sebuket bunga mawar putih di tangannya.


"Selamat ulang tahun, sayang. Semoga panjang umur dan kebahagiaan selalu jadi milik kita," ucap Harry dengan memberikan buket bunga yang dibawanya.


"Harry, kamu tidak apa-apa?" Bukannya menerima buket bunga yang Harry berikan, Rani justru diam mematung dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku tidak apa-apa. Maaf Rani, kalau aku telah mengerjai kamu. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku ...."


"Kamu jahat Harry! Kamu tahu, aku begitu panik saat mendapat telepon itu. Tapi ternyata itu bohong." Rani langsung menundukkan kepalanya dengan air mata yang bercucuran.


"Rani, maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu sedih. Aku hanya ingin memberikan kamu kejutan," jelas Harry yang mulai panik karena tidak mendapatkan respon seperti yang dia harapkan.


"Kamu tahu kan, kenapa aku bisa sama kamu, kamu juga tahu kan, kepergian suami pertama aku karena apa. Harusnya kamu tidak membohongi aku dengan membangkitkan trauma masa lalu aku," sesal Rani.


Semua orang terdiam mendengar apa yang Rani katakan. Mereka lupa kalau Rani pernah mengalami pengalaman yang tragis karena ditinggal mati oleh suami pertamanya.

__ADS_1


"Rani, maafkan aku! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Harry sendu.


Harry segera memeluk Rani. Dia tidak peduli sahabat dan pengasuh serta pembantu di rumahnya melihat apa yang dia lakukan. Harry hanya ingin meyakinkan Rani kalau dia benar-benar menginginkan Rani seutuhnya. Bukan hanya tubuh tapi hati dan masa depannya agar selalu berada di sisinya.


"Rani, aku juga minta maaf. Aku telah jahat melupakan Diwan. Padahal dia begitu baik padaku. Tolong maafkan semua orang yang ada di sini, terutama Harry. Dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya padamu," timpal Sevia yang sukses membuat semua yang ada di sana melotot tidak percaya. Mereka terkejut, kenapa Sevia malah membongkar rencana yang sudah tersusun rapi.


Sevia kenapa harus mengatakannya pada Rani. Kalau sudah seperti ini, berarti sudah bukan kejutan lagi, batin Harry.


"Rani, tatap mataku! Kamu lihat ke dalam hatiku, pasti ada cintamu di situ. Aku ingin jadi yang terbaik dan berarti bagi hidupmu." Harry menghela napas sejenak.


"Rani, aku mencintaimu dengan setulus hatiku. Ku mohon hiduplah bersamaku sampai kita menua nanti." Harry langsung berjongkok di depan Rani dan memberikan sebuah kotak yang bertabur permata di atasnya.


"Harry, aku ...."


"Aku mengerti jika kamu belum siap dengan perasaan kamu sekarang. Aku tidak akan memaksa kamu untuk secepatnya memiliki perasaan yang sama denganku. Bukankah kita akan sama-sama berusaha untuk saling mencintai dan menerima satu sama lain? Aku menunggu waktu di saat hatimu sudah dipenuhi oleh namaku," potong Harry.


Rasanya dia tidak ingin mendengar kata maaf dari Rani karena dia belum bisa mencintai seutuhnya. Harry hanya mencoba memahami dengan apa yang Rani rasakan.


"Kamu tidak perlu menunggu aku terlalu lama, karena aku ... karena aku ... karena aku juga sama dengan apa yang kamu rasakan." Rani menghela napas sejenak.


"Harry, aku pun mencintaimu. Ku harap kamu jangan menyia-nyiakan perasaan aku sama kamu," pinta Rani.


"Iya, aku janji!" sahut Harry.


"Kamu jangan khawatir Rani, Harry orang yang sulit jatuh cinta, tapi saat mencintai seseorang, maka dia akan mencintainya tanpa syarat" timpal Dave.


"Terima kasih Harry!" ucap Rani dengan mengeratkan pelukannya pada Harry.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


Sambil menunggu Brondong Tajir, yuk melipir juga ke karya Author yang lain.


__ADS_1


__ADS_2