Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 51 Pilihan Untuk Diandra


__ADS_3

Devanya sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia hanya menutup mulutnya, merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sepertinya sudah banyak hal yang Devanya lewatkan karena terlalu sibuk dengan kisah asmaranya.


"Kenapa gak bilang daru dulu? Apa itu yang membuat dua bocah itu memilih tinggal di sini dan kuliah online?" Sungguh Devanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Kenapa dia begitu terobsesi pada sahabatnya?


"Deva, aku mohon jangan bilang pada siapa pun! Aku tidak mau punya masalah. Biarkan aku merasa tenang tinggal di sini," pinta Diandra.


Devanya menghela napas kasar sebelum akhirnya dia berbicara. "Mulai malam ini, kamu tidur denganku saja. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak kita inginkan."


"Baiklah, aku akan membawa barang-barang aku ke sini. Oh iya, tadi Ion nitip ini sama aku." Diandra langsung memberikan surat undangan pesta anniversary perusahaan Orion.


"Kapan dia ke sini?" tanya Devanya heran.


"Tadi aku ketemu dia di ruang tengah saat mau naik ke sini. Apa mungkin Ion melihat Bang Ano dan Kamu tidur di sini?"


"Mungkin saja. Biarlah, biar kita sama-sama saling melepaskan."


Tapi hatiku rasanya sakit sekali, batin Devanya.


"Ya udah, aku ke kamarku dulu. Nanti aku angkut barang-barang aku ke sini," pamit Diandra.


Gadis cantik itu langsung berlalu menuju ke kamarnya. Di merasa sudah sangat gerah dan ingin segera membersihkan dirinya, setelah seharian berada di luar. Setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di kamar mandi, Diandra pun keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Dia tidak menyadari, ada sseorang yang memperhatikannya di balik rak buku yang menghalangi kamar tidur dengan ruang belajar.


Setelah memilih baju yang akan dipakainya, Diandra pun dengan santainya membawa baju itu ke tempat tidur. Dia mengambil hand body lotion dan memakaikannya ke seluruh tubuh. Sementara Davin, yang sedari tadi memperhatikan Diandra. Dimulai dari gadis itu keluar dari kamar mandi sampai memakai bajunya satu persatu, membuat pemuda yang belum genap berusia delapan belas tahun itu terus -terusan menelan ludahnya kasar.


Bagaimanapun, Davin seorang lelaki normal yang memiliki hasrat pada lawan jenis. Apalagi yang dilihatnya adalah bagian dari tubuh gadis yang disukainya.


Sial, kenapa tongkat baseball ku berdiri? Ah ... rasanya sangat tidak nyaman sekali. Aku ingin menuntaskannya.


Mata Davin terlihat naik turun. Antara melihat Diandra yang belum selesai berpakaian dengan tongkat baseball yang sepertinya memaksa ingin ke luar. Sampai akhirnya dia kalah dan langsung berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ah ... Davin mesumm ...," teriak Diandra kaget. Dia langsung menyilang tangan di dadanya.


Diandra ingin menangis serasa sudah diperawani oleh adik sahabatnya itu. Namun, saat terdengar sayup-sayup suara Davin memanggil namanya, Diandra pun penasaran dengan apa yang Davin lakukan di kamar mandi.


Diandra ingin membuka pintu kamar mandi. Akan tetapi dia merasa segan takut dibilang perempuan murahan. Pada akhirnya, dia hanya menunggu Davin di depan kamar mandi. Setelah terdengar namanya disebut dengan nada panjang, barulah Davin tidak memanggil namanya lagi.


Davin kenapa sebut namaku terus? Apa saking cintanya dia sama aku, sehingga namaku terus saja disebut.


Ceklek


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Nampak Davin dengan wajah cerah keluar dari kamar mandi. Namun, pemuda tampan itu sangat terkejut saat mendapati Diandra berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Kamu sedang apa di situ?" tanya Davin kikuk.


"Aku menunggu kamu, karena aku ingin sekali menjewer kamu yang sudah mengintip aku," geram Diandra dengan tangan yang sudah terulur ingin menjewer telinga Davin.


"Sudah hentikan!" suruh Davin. Dia langsung memegang tangan Diandra dan menatap lekat gadis itu. "Kami ingin menjewer aku? Ayo kita cari tempat agar kamu bisa dengan mudah meraih telingaku."


Davin pun langsung menarik Diandra agar mengikutinya ke tempat tidur. Saat sampai di sana, dia langsung duduk di tepi tempat tidur. Diandra yang tidak mengerti keinginan pemuda itu, dia hanya mengikuti begitu saja. Tanpa bicara lagi, Davin menarik Diandra agar duduk di pangkuannya.


"Ayo jewer telingaku! Dua-duanya pun tidak masalah," suruh Davin.


Diandra langsung mengulurkan kedua tangannya untuk menjewer telinga Davin seraya berkata, "Aku memang sangat ingin menjewer kamu bocah te ...."


Gadis manis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya saat ada benda kenyal yang menempel di bibirnya. Davin tidak menyia-nyiakan keterkejutan Diandra. Tangannya langsung menahan tengkuk gadis yang dicintainya. Meskipun dia masih belajar cara berciuman, tetapi nalurinya menuntun untuk memperdalam ciumannya.


Diandra seperti kehilangan akal, dia hanya diam mengikuti permainan Davin. Setelah keduanya, merasa kehabisan oksigen. Barulah Davin melepaskan pagutannya.


"Ingat Dian! Tubuhnya tidak bisa menolak aku meskipun bibirmu selalu memungkirinya. Hanya aku yang boleh memiliki kamu," ucap Davin dengan napas yang memburu.

__ADS_1


Tuhan, kenapa aku harus terjebak dengan bocah ini. Davin sudah melihat seluruh tubuhku, yang selama ini selalu aku tutup rapat. Yang menjadi suamiku pasti akan kecewa jika mengetahuinya, batin Diandra.


"Davin, apa kamu serius mencintai aku?"


"Aku tidak pernah berbohong soal hal itu."


"Baik, aku mau menerima kamu tapi kamu harus bisa membawa aku keluar dari rumah ini dan tanpa diketahui oleh Daddy."


"Bukan hal yang sulit buatku, aku akan menyiapkan rumah untuk kalian dan biaya bulanan, tapi ... Kamu harus menikah denganku."


"Kamu jangan gila, Vin! Umur kamu saja belum delapan belas tahun,"


"Kamu tinggal pilih saja, keluar dari sini tanpa diketahui oleh Om Harry tapi harus menikah denganku, atau tetap di sini dan tiap malam aku akan menyelinap ke kamar kamu."


Sial nih bocah! Kenapa dia memberikan pilihan yang sulit. Tapi demi Mama, aku harus mau memilih pilihan yang pertama, batin Diandra.


"Baik, aku pilih yang pertama tapi kamu harus mencukupi semua kebutuhan aku dan mama. Yang terpenting, kamu harus menyembunyikan aku dan mama dari Daddy."


"Tidak masalah, aku bisa membelikan kamu rumah mewah tanpa harus meminta ke papa. Tapi sekarang, aku minta DP dulu dari kamu."


Davin kembali menyerang bibir ranum Diandra. Membuat gadis manis itu mulai mengikuti permainan brondong yang terus saja mengejarnya. Meskipun dia ingin terbebas dari jeratan cinta Davin. Tapi sepertinya sedikit memanfaatkannya tidaklah buruk.


Aku tidak akan pernah melepaskan kamu Diandra. Selamanya kamu harus jadi milikku.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2