Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 115 Candaan Yang Keterlaluan


__ADS_3

Jalanan malam ibu kota yang tampak lengang membuat Devan menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama untuk dia sampai di rumah kakaknya. Namun, setibanya di sana, Devan tidak langsung turun dari mobilnya. Dia teringat terus dengan Tasya. Apalagi, saat dia tahu kehidupan seperti apa yang gadis itu jalani.


"Kenapa aku ingat terus sama dia? Kasihan juga, dia harus banting tulang mencari uang untuk biaya kuliah dan makan dia sehari-hari. Sampai-sampai dia mau jadi ayam kampus. Berarti, sudah banyak cowok yang sentuh dia dong," gumam Devan.


"Sudahlah! Ngapain aku pikirkan gadis itu, gak penting banget." Devan pun langsung turun dari mobilnya dan mengeluarkan semua buah-buahan yang dia beli di pasar induk.


"Pak ... Pak Kumis ... Bantuin dong!" teriak Devan pada satpam rumah Devanya.


Satpam yang dipanggil Pak Kumis langsung berlari ke arah Devan yang menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang. "Mas Devan, ada apa dini hari datang ke sini?"


"Tuh ibu hamil ingin dibeliin buah. Padahal tinggal suruh siapa kek. Ini mah harus aku yang cari," gerutu Devan.


"Biasa itu mah, Mas. Namanya juga ibu hamil. Nanti kalau tidak dituruti bisa-bisa nangis," ucap Pak Kumis seraya mengambil beberapa kantong buah.


Devan berlalu begitu saja meninggalkan Pak Kumis di belakangnya. Dia langsung menuju ke pintu depan dan bersiap akan menekan bel. Akan tetapi, pintu rumah sudah terbuka lebih dulu sebelum dia benar-benar menekannya. Terlihat Keano keluar dengan piyama yang melekat di tubuhnya.


"Dapat gak, Van?" tanya Keano.


"Dapat nih!" Devan langsung menunjukkan satu kantong plastik besar buah delima pada kakak iparnya.


Keano langsung menautkan keningnya kaget dengan apa yang dibawa oleh Devan. Apalagi, di belakang Devan terlihat Pak Kumis membawa beberapa kantong buah. "Banyak sekali!"


"Biar gak ganggu aku lagi, Kak Vanya mana?" tanya Devan.


"Sudah tidur, dari tadi dia nungguin kamu sampai ketiduran. Nanti uang kirim uang gantinya," jawab Keano.


"Gak usah, Bang. Gak nyampe satu juta, tapi kalau mau diganti seratus juta sih gak apa. Lumayan buat nongki-nongki," kelakar Devan.


"Tidak masalah, nanti Abang transfer."


"Gak usah, Bang. Canda doang, aku langsung pulang ya, Bang." Devan pun langsung berbalik setelah dia memberikan kantong plastik yang ada di tangannya.


"Makasih, Van!"


Keano menatap punggung kokoh adik iparnya. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Dia tahu meskipun Devan terkadang terlihat menggerutu, tetapi dia pasti akan menuruti juga.


"Pak, buah yang itu tolong simpan di meja dapur. Biar besok bibi yang membereskannya. Kalau Bapak mau ambil saja," ucap Keano.


"Iya, Tuan! Kalau begitu saya permisi ke dapur dulu," sahut Pak Kumis.


Setelah Devan hilang dari penglihatannya, Keano pun langsung masuk ke dalam rumah dengan satu kanong buah delima di tangannya. Dia sengaja membawa buah itu ke kamar agar saat Devanya bangun bisa langsung memakannya.


Sementara Devan langsung menancap gas agar cepat sampai di rumahnya. Dia tidak ingin ketahuan mamanya pulang dini hari. Namun ternyata, kepulangannya di saat yang tidak tepat. Tanpa sengaja dia melihat satpam di rumahnya menyelinap ke kamar pembantu. Devan yang penasaran, akhirnya sedikit menguping di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Sial! Ternyata mereka mau ongkang-ongkang. Aku gerebek aja kali ya, biar seru. Gak akh, nanti aku dimarahin papa gangguan orang yang mau bercocok tanam. Mereka kan suami istri," gumam Devan.


Setelah mendapatkan ide yang menurutnya tidak akan berbahaya, dia pun langsung mengambil panci dan mengisinya dengan sedikit air. Setelah menyalakan kompor dan menyimpan di atasnya, dia pun menunggu panci itu gosong hingga mengeluarkan bau asap yang sangit.


"KEBAKARAN KEBAKARAN!!!" teriak Devan pura-pura panik.


Satpam dan pembantu rumah Devan yang baru saja akan ngebor minyak pelumas, mereka langsung kaget dan buru-buru keluar hanya dengan memakai sarung saja. Membuat Devan tertawa terbahak-bahak melihat keadaannya.


Tidak jauh beda dengan pekerja lain yang melihat keadan mereka. Membuat pasangan pengantin baru itu merasa heran karena semua orang tertawa bukannya panik terjadi kebakaran.


"Hahaha ... Bi kenapa gak pake baju?" tanya Devan.


"Astaga!" Leha langsung lari kembali ke kamarnya. Sementara satpam itu langsung melihat tidak suka pada Devan.


"Den, candaan kamu itu keterlaluan!" sengit Jojo.


"Kenapa? Mang Jojo gak suka? Aku juga gak suka melihat pos satpam kosong, yang ternyata orangnya sedang bersenang-senang," ketus Devan seraya berlalu.


"Ada apa ini ribut-ribut? Kalian tahu sekarang jam berapa?" tanya Dave di ambang pintu dapur.


Mister Dave bangun lagi, sial! Aku pasti dapat masalah karena keisengan anaknya, batin Jojo.


"Gak ada, Pah. Tadi aku mau bikin kopi, tapi pancinya malah gosong karena kehabisan air," elak Devan. Dia tidak mau kalau sampai papanya tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bisa-bisa Jojo dipecat karena ketahuan lalai meninggalkan pos satpam.


"Baik, Mister!" sahut Jojo.


Devan langsung berlalu menuju ke kamarnya. Namun, saat melintas di samping papanya, Dave berbisik padanya, "Tidak usah melindungi orang yang tidak bertangung jawab. Tanpa kamu membuat keributan pun, Papa tahu apa saja yang terjadi di rumah ini."


"Ck! Iya aku tahu, semua sudut di rumah ini sudah dipasang CCTV."


Devan terus saja berjalan menuju ke kamarnya. Saat tiba di sana, dia langsung merebahkan diri dan mengambil ponsel yang di kantong celananya. Alisnya saling bertautan saat melihat sebuah pesan dari M-Banking. Meskipun awalnya dia merasa heran karena ada saldo masuk ke rekeningnya sebesar sertus juta, tetapi akhirnya dia ingat denagn apa yang Keano katakan.


Bang Ano kebanyakan duit kali ya! Beli delima segitu aja, dia kasih ganti seratus juta. Tapi lumayanlah buat kasih jajan gadis-gadis itu. Bukankah kita harus banyak bersedekah? batin Devan.


"Eh ada pesan dari nomor baru," gumam Devan seraya membuka pesan di aplikasi hijau.


08584664xxxx : [Hai Van,Ini aku Tasya]


08584664xxxx : [Van, sorry tadi jaketnya kelupaan. Nanti aku balikin kalau udah aku cuci ya!]


08584664xxxx : [Makasih untuk semuanya.]


Devan hanya tersenyum membaca pesan dari gadis yang tadi menemaninya. Dia bahkan lupa kalau jaketnya belum dikembalikan oleh gadis itu.

__ADS_1


Padahal gak dibalikin juga gak apa. Tapi biarlah, siapa tahu dia butuh uang lagi untuk pengobatan ayahnya. Mungkin aku bisa bantu dia dengan kasih dia pekerjaan agar tidak lagi jadi ayam kampus, batin Devan.


...***...


Pagi harinya, Keano terbangun saat Devanya sudah tidak ada di sampingnya. Pria tampan itu langsung mencari keberadaan istrinya. Hingga saat di mencari ke balkon kamar, nampak di sana Devanya sedang asyik memakan Delima yang dibawa oleh Devan. Bahkan ibu hamil itu sudah menghabiskan setengahnya.


"Ay, sudah sarapan belum?" tanya Keano seraya menghampiri istrinya.


"Ini aku sedang sarapan," jawab Devanya.


"Ay, sudah habis sebanyak ini?!"


"Hehehe ... Iya, Bang. Enak sih Bang manis. Apalagi kalau bikin rujak belimbing wuluh pasti rasanya segar sekali," Devanya menjilat bibirnya berkali-kali. Membayangkan rasa asam-asam segar di lidahnya.


Kenapa saat Deva yang ngidam, keinginannya aneh-aneh. Semoga saja anakku baik-baik saja, Keano meringis dalam hatinya.


"Ay, sarapan yang berat dulu ya! Makan delimanya nanti dilanjut lagi," saran Keano.


"Abang gak suka aku makan delima?" tuduh Devanya. Entah kenapa ucapan Keano seperti larangan di telinganya.


"Bukan begitu, Ay. Temani Abang sarapan dulu di bawah yuk! Abang lapar," kilah Keano.


"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Abang sudah mandi belum?"


"Belum, ayo kita barengan!"


"Gendong," pinta Devanya manja.


Tanpa bicara lagi, Keano langsung mengangkat tubuh Devanya yang terlihat sedikit berisi. Sekilas dia mencium bibir tipis itu lalu membawanya ke kamar mandi. Didudukkannya ibu hamil itu di dalam bathtub dengan hati-hati. Tak lupa dia pun mengisi bsthtub itu dengan air hangat.


"Bang, mau lanjut yang tadi gak?" tanya Devanya dengan malu-malu.


Keano tersenyum mendengar apa yang istrinya tanyakan. Baru kali ini Devanya memberi kode padanya agar mereka bermain jungkat jungkit di pagi hari. Dengan senang hati pria tampan menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Tentu saja, Ay. Abang senang kamu berinisiatif duluan."


"Abang ikh, bikin malu aja!" Devanya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Membuat Keano semakin gemas melihatnya.


Akhirnya keduanya pun larut dalam acara mandi pagi plus-plus. Mandi pagi yang penuh dengan peluh dan lenguhan kenikmatan. Yang membuat tubuh menegang dengan sengatan-sengatan yang memabukkan. Namun, membuat rilekks saat sudah mendapatkan pelepaasan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2