Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 26 Rani Pulang


__ADS_3

Wajah Diandra nampak berseri-seri setelah tadi mendengarkan penjelasan dokter. Tak henti dia bersyukur, saat dokter mengatakan masih ada harapan untuk mamanya bisa berjalan kembali seperti biasanya. Dengan langkah tergesa dia berjalan menuju ke ruang perawatan Rani. Namun, saat di persimpangan jalan dia harus bertabrakan dengan seorang pemuda tampan yang sekarang tingginya sudah melebihi dia.


"Davin, Devan," panggil Diandra lirih.


"Hallo Kakak manis, kenapa syok melihat kami. Apa karena sekarang aku bertambah tampan," goda Devan dengan mengedipkan matanya.


"Kalian dari dulu memang tampan, kenapa ada di sini?" tanya Diandra masih dengan kekagetannya.


"Tentu saja mau menjenguk Tante Rani. Kalau kita tampan, kenapa Kak Dian dulu menolak Davin? Sampai akhirnya kita sekolah ke luar negeri karena patah hati." Devan langsung berjalan menuju ke ruangan Rani.


Dia sengaja meninggalkan kembarannya yang tidak bisa move on dari putri sahabat mamanya. Sementara Diandra hanya tersenyum samar mendengar apa yang Devan katakan. Diandra berharap saat si kembar kembali, Davin sudah melupakan semuanya. Tapi ternyata masih diungkit juga.


"Tidak menyapaku?" tanya Davin dengan menatap lekat Diandra.


"Apa kabar, Vin? Ayo kita ke ruangan mama, biar cepat pulang," ajak Diandra.


"Baik, Pacar!" bisik Davin seraya berlalu pergi meninggalkan Diandra yang mematung di tempatnya, sedangkan Davin mengangkat sudut bibirnya sebelah melihat Diandra yang terdiam.


Sesampainya di ruangan Rani, terlihat Devan yang sedang berpelukan dengan mamanya. Anak manja itu selalu saja menempel pada Sevia jika berada di rumah. Davin yang juga sangat merindukan mamanya langsung menarik kerah adiknya agar melepaskan pelukannya.


"Gantian," ucap Davin.


"Aku masih kangen sama Mama, kamu sabar dulu apa." Devan sangat kesal dengan apa yang Davin lakukan.


"Sudah sini, peluk berdua. Mama juga sangat kangen dengan kalian. Tapi darimana bisa tahu kalau Mama ada di sini?" tanya Sevia.


"Tadi ke rumah gak ada siapa-siapa, kata Pak Marno, Mama ke rumah sakit mau menjemput Tante Rani," jawab Devan.


"Iya, kebetulan sekali kalian datang. Bisa bantu mama bawakan barang-barang. Om Harry dan Papa sedang meeting jadi tidak bisa jemput," ucap Sevia seraya mencium pucuk kepala dua anak kembarnya bergantian.

__ADS_1


"Tante gak dapat pelukan?" tanya Rani.


"Tentu saja dapat pelukan." Dua anak kembar itu langsung memeluk Rani bersamaan. Setelah melepaskan pelukan Rani mereka saling memberi kode dan langsung menghambur memeluk Diandra.


Namun, Devan hanya berpura-pura memeluk Diandra dari belakang, karena dia ingin memberi kesempatan pada kembarannya untuk memeluk gadis yang dicintainya. Diandra yang mendapatkan serangan dadakan dari adik sahabatnya, akhirnya hanya diam.


"I miss you," bisik Davin.


"Udah pelukannya! Ayo bantu Mama pindahin Tante Rani ke kursi roda," tegur Sevia.


Davin pun dengan terpaksa melepaskan pelukannya pada Diandra. Dia dan kembarannya segera memindahkan Rani ke kursi roda. Setelah semuanya siap, mereka pun langsung pulang ke rumah.


"Mah, Kak Vanya magang di mana? Aku mau jemput dia," tanya Devan.


"Kamu itu ikut-ikutan Ion aja, Van. Yang lain panggil Deva, kamu panggil Vanya." Sevia tersenyum mengingat putranya yang satu ini sebelas dua belas dengan Orion keisengannya.


"Soalnya terlalu mirip dengan namaku. Mama dan Papa gak kreatif cari nama," ketus Devan.


"Wah, nanti habis nganterin Tante Rani, kita main ke sana yuk! Pasti ada Bang Ano juga. Aku mau belajar meracik obat," ucap Devan


Saat mereka sedang asyik berbincang, mobil pun sudah sampai di halaman rumah Sevia. Yang langsung disambut oleh Leha dan Mimin serta pembantu rumah yang lainnya. Rani pun langsung dibawa ke kamarnya yang ada di lantai di bawah.


"Dian, mau tinggal di sini juga, kan? Masih ada kamar kosong, mau di bawah atau di atas?" tanya Sevia saat mereka berada di kamar Rani.


"Dian sama Mama aja, Tan."


"Jangan! Nanti kalau Daddy kamu tidur di sini, bagaimana?"


"Tidur di kamar aku aja, Mah. Biar aku tidur di kamar Devan," timpal Davin yang belum pergi dari kamar Rani, sedangkan Devan sudah pergi ke Perusahaan JS Group untuk menemui Keano, sekaligus menjemput Devanya.

__ADS_1


"Boleh, kalau kamu tidak keberatan. Biar kamar samping untuk perawat yang sudah Mama pilih untuk menjaga Tante Rani." Sevia langsung menyetujui usulan Davin, membuat Diandra menjadi bimbang.


Bagaimana ini? Tinggal bersama Daddy, aku tidak suka melihat Anne berkeliaran di rumah. Tapi kalau tinggal di sini, nanti Davin terus menagih janji padaku. Kenapa juga aku malah bilang akan menerima dia kalau Davin bisa jadi sarjana sebelum dua puluh tahun, batin Diandra.


...***...


Sore harinya, semua keluarga dan kerabat berkumpul di rumah Dave dan Sevia. Termasuk Icha dan Aldrich. Setelah acara syukuran bersama anak-anak yatim dan Ustadz yang diundang ke rumah, kini mereka saling bercengkrama bersama di ruang keluarga.


Sementara Rani berada di kamar ditemani oleh Harry yang sedari tadi terdiam. Mereka saling membisu larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Harry yang memulai berbicara.


"Rani, aku minta maaf tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Sampai Dave dan Sevia memaksa aku agar mengijinkan membawa kamu ke sini," ucap Harry dengan menundukkan kepalanya.


Dia sadar dengan apa yang dilakukannya salah. Tapi entah kenapa, setiap kali Anne datang menemuinya di ruang Kerja, dia seperti terhipnotis saat mencium wangi parfum yang dipakai gadis itu, sehingga dia pun melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.


"Kamu sudah cukup menjaga aku sampai sejauh ini. Aku hanya bisa berterima kasih dengan apa yang sudah kamu berikan padaku. Harry, maafkan aku karena menjadi istri yang tak sempurna." Rani menghela napas dalam sebelum dia melanjutkan bicaranya.


"Harry, lebih baik kamu menikahi Anne. Daripada harus terus-menerus berbuat dosa. Aku tidak apa-apa. Aku dan Diandra bisa menjaga diri," ucap Rani dengan suara yang bergetar.


"Rani, apa maksud kamu? Aku dan Anne ...."


"Aku sudah tahu semuanya, aku tidak menyalahkan kamu karena aku sadar kalau aku tidak bisa apa-apa," potong Rani.


"Maafkan aku! Aku tahu aku salah tapi aku tidak bisa menikahi dia karena sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan kamu." Harry langsung pergi dari kamar Rani.


Dia tidak menyangka semuanya akan terungkap. Harry tidak mau melepaskan Rani tapi dia tidak bisa meninggalkan Anne. Saat dia mau keluar dari kamar Rani, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Diandra yang akan masuk ke dalam kamar mamanya.


"Dian, tolong jaga mama dulu. Daddy mau ke luar sebentar."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2