Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 69 Uang Nafkah


__ADS_3

Gadis bermata biru itu pulang ke rumah dengan rasa penasaran di hatinya. Dia ingin sekali menemui Orion dan memintanya untuk menghapus semua video itu. Akan tetapi, dia merasa khawatir akan ada rasa yang belum tuntas diantara mereka, sehingga Devanya memutuskan untuk menghubunginya lewat ponsel.


"Hallo Ion!" sapa Devanya saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Hallo, ini dengan Luna tunangannya. Ada perlu apa?" ketus Luna di seberang sana.


Mendengar suara Luna di seberang sana, Devanya pun langsung memutuskan panggilan teleponnya. Dia langsung beranjak pergi menuju ke kamar Davin, yang ternyata tidak dikunci. Tanpa curiga sedikit pun, Devanya langsung masuk ke dalam kamar adiknya.


Namun siapa sangka, dia harus menyaksikan pemandangan yang membuat matanya hampir keluar semua. Dengan tangan yang menutup mulutnya, Devanya mematung di ambang pintu. Bagaimana tidak, dua anak manusia sedang berpagutan penuh gairah di atas tempat tidur. Dengan tangan Davin yang menjelajahi bukit kembar Diandra.


"Deva, kenapa berdiri di ambang pintu?" tanya Sevia saat dia baru keluar dari kamarnya.


Belum sempat Devanya menjawab, mamanya sudah berdiri di belakang gadis bermata biru itu. Devanya dengan cepat berbalik dan membawa Sevia menjauh dari kamar Davin.


"Mama aku lapar, kita bikin seblak yuk Mah!"ajak Devanya.


"Boleh juga, tapi kamu yang masak ya! Mama lagi malas masak," Sevia mengajukan syarat pada putrinya.


"Bilang saja Mama gak bisa bikinnya," Cebik Devanya yang sukses mendapat cubitan di hidungnya.


"Kalau sudah tahu jawabannya, gak usah dikatakan. Udah mama tunggu di taman belakang. Kayaknya enak makan sambil lihat ikan berenang," ucap Sevia.


"Yang enak itu makan sambil lihat bule berenang di pantai, Mah."


"Ngapain lihat bule di pantai, di rumah juga setiap hari Mama lihat. Memang kamu lupa kalau masih keturunan bule?" tanya Sevia.


"Yang di rumah itu bulenya beda, kalau di pantai kan gak pake baju." Devanya dan Sevia terus saja mengobrol seraya berjalan menuju ke dapur. Ibu dan anak itu benar-benar akan makan seblak seperti apa yang Devanya inginkan.


Sementara Davin dan Diandra langsung kelimpungan mendengar suara Sevia. Mereka langsung sembunyi di bawah selimut. Berharap mamanya tidak melihat apa yang mereka lakukan. Beruntung Devanya bisa mengalihkan perhatian mamanya.

__ADS_1


"Vin, aku deg-degan. Kamu sih, aku mau kerja malah di tahan di sini. Bagaimana kalau nanti aku dipecat?" gerutu Diandra.


"Ya gak apa-apa, kan ada aku yang bekerja."


"Ck! Kamu kerja? Kuliah aja belum kelar. Kalau kerja, kenapa tidak kasih uang nafkah sama aku," Diandra sedikit meremehkan suami brondongnya.


Diandra hanya tahu kalau Davin memang punya banyak uang tapi itu uang jajan dari papanya. Dia tidak pernah tahu apa yang Davin lakukan di luar jam kuliahnya. Dia juga tidak tahu alasan pastinya kenapa anak kembar sahabat mamanya memilih kuliah online padahal mereka sudah tingkat akhir.


"Don't judge books by the cover babe! Aku kerja tapi aku gak mau bilang kerja apa, karena aku ingin kamu mengetahui tanpa aku beri tahu. Soal uang nafkah? Aku lupa kalau belum kasih kamu uang jatah," Davin segera beranjak menuju lemari bajunya. Dia mengambil sebuah kartu sakti berwarna gold, kemudiannya menghampiri Diandra kembali.


"Ini apaan?" tanya Diandra saat Davin menyerahkan kartu sakti padanya.


"Uang nafkah dari aku seperti yang kamu minta. Berarti nanti aku bisa minta hak aku sama kamu. Bukankah kita sudah suami istri?"


"Aku gak mau dipaksa, Vin! Kalau kamu gak ikhlas kasih, aku gak mau menerimanya." Diandra tidak mau menerima kartu sakti yang Davin berikan padanya.


Davin hanya menghela napas dalam mendengar apa yang istrinya katakan. Dia menjadi bingung dengan sikap Diandra yang terkadang bicara penuh penolakan padanya. Tetapi saat dia menciumnya, gadis itu tidak pernah menolak.


"Aku gak paksa kamu. Uang ini hak kamu, kalau kamu tidak bisa memberikan hak aku, itu terserah kamu." Davin langsung menyimpan kartu sakti ke telapak tangan Diandra.


Tanpa bicara lagi, dia pergi menuju ke perusahaan yang baru saja dia bangun bersama dengan kembarannya. Davin tidak ingin terjadi keributan dengan Diandra. Sebisa mungkin dia mencoba mengerti dengan sikap Diandra.


Sementara Diandra, hanya melongo dengan apa yang Davin lakukan. Dia tidak menyangka suaminya akan tersinggung dengan ucapannya itu. Namun, Diandra pun tidak memiliki niat untuk membujuk Davin.


Kenapa Davin seperti yang tersinggung ya? Apa aku sudah keterlaluan bicara seperti tadi? Tapi kan memang benar, dia belum pernah memberi uang sebagai nafkah seorang suami pada istrinya, batin Diandra.


Dia pun langsung beranjak pergi menuju kamar mamanya. Saat tiba di sana, dia sangat kaget saat melihat Rani sudah bisa melangkahkan kakinya. Meskipun belum bisa berjalan dengan lancar seperti sebelumnya, tetapi kini Rani sudah bisa melangkah sampai tiga langkah.


"Mama!!!" pekik Diandra.

__ADS_1


" Dian, sini sayang!" panggil Rani dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.


Diandra langsung menghambur ke pelukan mamanya. Dia sangat bahagia karena akhirnya bisa melihat Rani kembali berjalan. Meskipun belum bisa berjalan dengan normal.


Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan dengan keharuan yang memenuhi dadanya. Mereka sangat bahagia karena sebentar lagi bisa pergi jauh dari kehidupan Harry. Meskipun Rani bisa memaafkan Harry tetapi untuk melanjutkan pernikahannya, dia merasa sudah tidak bisa lagi. Apalagi belakangan ini, Harry sering mengajaknya tidur bersama seperti layaknya sepasang suami istri.


Maafkan aku Harry! Mungkin pernikahan kita tidak bisa aku pertahankan lagi. Entah kenapa, aku merasa tidak layak berada di sisi kamu. Semoga kamu bisa mendapatkan seorang istri yang lebih baik dari aku, batin Rani.


Keharuan mereka pun berakhir, saat Sevia masuk ke kamar Rani dengan membawa satu mangkuk seblak di tangannya. Sahabatnya itu memang tidak pernah lupa untuk memberi Rani makanan apapun yang Sevia makan.


"Wah wah wah ... Aku gak diajakin nih! Dapat kabar bahagia apa nih sampai pelukan segala?" tanya Sevia seraya menyimpan nampan di nakas samping tempat tidur.


"Mama udah bisa jalan, Tan!" seru Diandra dengan wajah yang berbinar.


"Apa??!! Jalan??!!" pekik Sevia tidak kalah heboh dari Diandra.


"Iya, Via. Aku udah bisa melangkah sampai tiga langkah," ucap Rani.


"Alhamdulillah akhirnya sahabat aku kembali jalan," ucap Sevia dengan mata yang berkaca-kaca. Dia pun langsung menghambur memeluk Rani.


"Makasih, Via. Berkat kamu merawat aku, akhirnya aku bisa sembuh. Aku tidak pernah menyangkal akan bisa kembali berjalan seperti semula." Suara Rani terdengar serak karena menahan tangis bahagia. Dia sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat menyayanginya.


Terima kasih Via. Mungkin aku tidak bisa membalas semua kebaikan kamu, tapi aku janji, sebisa mungkin aku akan selalu ada untuk kamu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin juga karya teman othor yang keren ini!



__ADS_2