Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 39 Apa kamu keberatan?


__ADS_3

Melihat Devanya yang terdiam, Keano pun langsung menghampiri gadis itu yang sedang duduk di kursi malas. Menyadari Keano datang menghampirinya, Devanya pun langsung membenarkan duduknya yang sedang selonjoran dan memberi tempat untuk Keano duduk


Kenapa aku jadi merasa canggung? Padahal biasanya enggak, batin Devanya.


"Kenapa?" tanya Keano yang melihat Devanya seperti salah tingkah.


"Enggak, Bang. Anu, apa Bang Ano tidak keberatan dengan pertunangan ini?" tanya Devanya gugup.


Keano tidak langsung menjawab pertanyaan gadis di depannya. Dia hanya menatap lekat gadis yang ada di sampingnya. Membuat Devanya lagi-lagi salah tingkah dengan apa yang Keano lakukan.


"Abang tidak keberatan. Apa kamu keberatan?" tanya Keano.


"Itu aku ...."


"Abang tahu kalau Abang salah, karena menjadi orang ketiga di antara kamu dan Ion. Tapi Abang juga tidak bisa terus menerus membohongi hati Abang. Maafkan Abang kalau egois dengan perasaan Abang." Keano menautkan kedua tangannya dengan kepala yang menunduk ke bawah.


"Aku butuh waktu untuk meyakinkan hatiku," ucap Devanya.


"Kalau kamu merasa keberatan dengan pertunangan kita, cincinnya kamu simpan saja. Tapi tolong, saat akan bertemu dengan opa dipakai kembali."


"Bang, maafkan aku!"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Perasaan memang tidak bisa dipaksa. Tapi Abang minta, kasih Abang kesempatan untuk mengisi hatimu." Keano melihat ke arah Devanya yang sedang menunduk.


"Tidurlah sudah malam! Abang ke kamar dulu," ucap Keano dengan menepuk pundak Devanya.


Devanya masih terdiam di tempatnya. Namun, saat Keano sudah bangun dari duduknya, dia baru angkat bicara. "Kenapa Abang tidak memberitahu aku tentang rencana opa. Apa Ion juga tahu?"


Keano yang akan pergi akhirnya kembali duduk di samping Devanya lalu berkata, "Abang kira, Om Dave sudah memberitahu kamu. Kalau soal Ion, mungkin dia sudah tahu."


...***...


Keesokan harinya, Devanya masih saja terlihat murung. Apalagi, dia masih tidak bisa menghubungi Orion. Diandra yang selalu berada di sisi Devanya jadi merasa khawatir dngan keadaan sahabatnya.


"Deva, jangan murung terus! Ion pasti baik-baik saja," ucap Diandra saat mereka menuruni tangga akan sarapan bersama.


"Dian, kemarin itu Ion habis dimarahi gara-gara aku sama Opa Zidan. Bagaimana aku gak khawatir?" ucap Devanya sendu.


"Aku yakin, Ion baik-baik saja. Bukankah Opa-nya begitu memanjakan dia dan selalu menuruti permintaan cucunya?" tanya Diandra.


"Kalau soal uang memang baik tapi aturannya gak bisaa dibantah."


"Sudahlah, Kak! Gak usah melow gitu mikirin Ion. Nih lihat! Dia sedang liburan dengan cewek cantik," serobot Devan yang berjalan di belakang kakaknya.

__ADS_1


Dia langsung memperlihatkan foto Orion dengan seorang wanita cantik berwajah Asia. Terlihat di sana Orion sedang merangkul pundak gadis itu sedangkan gadis cantik itu merangkul pinggang Orion. Kalau di lihat dari postingannya, Orion baru saja mengunggah foto itu tiga puluh menit yang lalu.


Bisa-bisanya dia bermesraan dengan cewek itu, sementara aku begitu mengkhawatirkannya. Orion kamu keterlaluan sekali, geram Devanya dalam hati.


Saat sampai di meja makan, nampak para orang tua sudah menunggu para anak muda untuk sarapan bersama. Mereka sedang asyik berbincang. Devanya dan yang lainnya yang baru datang, langsung menyapa para orang tua.


"Selamat pagi." Kompak Devanya, Diandra dan si kembar.


"Pagi, ayo duduk!" sahut Allana. "Oh, iya Deva. boleh Tante minta tolong? Ano katanya mau sarapan di kamar. Bisa tolong antar sarapan untuknya? Dia sedang sedikit flu."


"Bisa, Tante!" sahut Devanya.


"Kita sarapan saja dulu, setelah selesai kamu sarapan baru antar sarapan buat Ano ya!" suruh Allana.


"Baik, Tan!"


Setelah Opa Andrea memimpin doa sebelum makan, suasana hening pun memenuhi meja makan. Sampai saat semuanya sudah selesai makan, barulah ada yang bersuara.


"Tante, Bang Ano sarapannya apa?" tanya Devanya.


"Sebentar ya Tante siapkan!"


Allana langsung menyiapkan sarapan untuk putra sulungnya. Sementara yang lain hanya tersenyum. Sampai akhirnya Devan yang merasa bibirnya gatal langsung angkat bicara.


"Maksud kamu apa, Devan?" tanya Dave yang kaget mendengar apa yang putranya katakan.


"Memang Papa tidak tahu, kalau Davin sangat tergila-gila pada Kak Dian. Sudahlah mending dinikahkan bareng saja sama Kak Vanya." Lagi-lagi Devan bicara asal membuat wajah Diandra merah padam karena malu.


Pletak


Tanpa bicara lagi, Davin langsung menyentil adik kembarnya sebelum dia bicara. "Lihat! Calon kakak ipar kamu mukanya sudah merah padam."


Bugh!


Diandra yang duduk di samping Davin langsung memukul laki-laki yang selalu mengejarnya itu. "Kalau ngomong jangan asal," ketus Diandra


"Sudah sudah! Kalian masih kecil sudah cinta-cintaan. Tapi dulu, Opa juga nikah sama oma kalian saat umur masih delapan belas tahun dan masih pakai seragam putih abu." Andrea langsung tersenyum saat mengingat masa mudanya dulu.


"Beneran, Opa?" tanya Davin antusias.


"Iya, tanya saja sama oma kalau tidak percaya."


"Opa kamu pakai trik waktu itu. Jadinya mau tidak mau Oma harus mau menikah sama dia," beber Mitha yang sedari tadi diam.

__ADS_1


"Serius, Oma? Opa akan berguru pada Opa," ucap Devan antusias.


"Aku juga." Davin pun tidak mau kalah dengan adiknya.


"Astaga! Kalian belajar dulu yang benar. Ingat kuliah kalian jadi mangkrak karena kelamaan liburan di sini," seru Dave.


Pusing melihat kelakuan adik kembarnya, Devanya pun langsung berlalu pergi menuju ke kamar Keano dengan membawa nampan di tangannya. Setelah dia mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Devanya langsung masuk ke dalam kamar yang luas dengan nuansa putih mocca yang mendominasi.


Dilihatnya Keano yang masih tertidur dengan piyama garis-garis. Devanya pun langsung menyimpan nampan yaang dibawanya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.


"Bang, bangun! Sarapan dulu." Devanya menggoyangkan tangan Keano yang tidak tertutup selimut.


Perlahan Keano membuka matanya dan langsung tersenyum saat melihat Devanya ada di depan matanya. Dia pun bangun dari tidurnya dan menyender pada head board. Tangannya menepuk tempat yang kosong di sampingnya agar Devanya duduk.


"Makasih!" ujar Keano.


"Abang sakit apa? Aku disuruh Tante Lana bawakan sarapan untuk Abang," tanya Devanya.


"Sedikit, hanya pusing."


"Ini sarapannya, Bang!" Devanya memberikan sepiring nasi dan lauknya yang sudah Disiapkan oleh Allana.


Keano pun menerimanya dan tersenyum senang. Meskipun dia tahu kalau mamanya yang menyiapkan semuanya, tapi dia senang karena Devanya yang mengantarkan sarapan ke kamarnya.


"Mau sarapan bersama?" tawar Keano sebelum dia memasukkan makanan ke mulutnya.


"Ga usah, Bang. Aku udah sarapan," tolak Devanya.


"Temani Abang sarapan ya!"


Devanya hanya mengangguk menanggapi permintaan Keano. Matanya terus berkeliling melihat ke segala penjuru kamar Keano. Sampai akhirnya matanya tertahan pada sebuah foto yang berbingkai indah di atas meja kerja Keano.


"Bukankah ini fotoku?" tanya Devanya saat dia sudah mengambilnya dan melihat dari dekat.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu up mampir juga ke karya teman othor yuk!


__ADS_1


__ADS_2