
Suara gamelan mengalun dengan indah menyambut kedatangan rombongan keluarga Sky. Ki Lengser pun sudah siap dengan gayanya yang khas untuk menyambut pengantin. Ki Lengser memiliki ciri khas sebagai seorang kakek berperawakan bungkuk dengan memakai baju adat serba hitam. Dengan sarung yang diikat di pinggang dan ikat kepala (totopong) khas sunda. Selain itu, Aki Lengser mempunyai tingkah lucu, unik, kecerdasan yang tak terlalu duga, serta serba bisa.
Selain Ki Lengser, ada pula Ma Ambu sebagai pendamping Ki Lengser dan beberapa Nyai Ronggeng yang menari dengan apik menyambut kedatangan calon pengantin pria. Namun, Devan dan Orion terus bergidik ngeri saat mereka di rayu oleh Ma Ambu yang diperankan oleh Om cantik.
Apalagi saat Ma Ambu terus menggoyangkan bokongnya dengan dada yang sengaja dia busungkan di depan Devan dan Orion. Kedua pemuda itu merasa sangat geli melihatnya.
"Udah cepetan pergi!" usir Devan dengan memberikan saweran pada Ma Ambu.
"Lagi dong akh!" rayu Ma Ambu dengan suara manja.
"Nih cepetan pergi!" Orion memberikan uang segepok yang berwarna biru pada Ma Ambu itu. Dia berharap cewek kaleng-kaleng itu cepat pergi dari hadapannya.
Namun perkiraannya salah. Bukannya pergi, Ma Ambu malah bergoyang semakin heboh di depan pemuda itu. Tentu saja membuat riuh semua orang yang sedang menonton upacara adat penyambutan pengantin. Apalagi laki-laki cantik itu berusaha untuk mencolek dagu kedua pemuda tampan itu. Sampai akhirnya Devan dan Orion hilang kesabaran.
"STOP!!! HENTIKAN!!!" teriak Devan
"PENGAWAL!!! SINGKIRKAN DIA!!!" suruh Orion dengan wajah yang merah padam menahan kemarahannya.
Dengan sigap kedua pengawal yang selalu menjaga Orion dari jauh langsung menangkap Ma Ambu dan membawa pergi jauh dari hadapan Orion. Namun, Ma Ambu tidak diam saja, dia terus meronta dengan mulut yang tidak bisa diam.
"Hei lepaskan! Apa salahku? Aku hanya menjalankan tugas," pinta Ma Ambu.
Merasa tidak ada yang menggubris apa yang dikatakannya, dia pun kembali meminta dilepaskan. "LEPASKAN AKU!" Kini Ma Ambu bicara dengan nada bass-nya.
Namun kedua pengawal itu tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Ma Ambu. Mereka membawanya ke rumah yang digunakan untuk berganti pakaian dan berdandan sebelum tampil. Hingga mereka tiba di rumah itu, tanpa sungkan lagi pengawal itu memasukkan Ma Ambu ke dalam kamar dan mengurungnya di sana.
Sementara itu, upacara adatnya dibubarkan dan langsung ke acara inti. Diandra begitu gugup saat kedua keluarga saling berhadapan. Apalagi, di sana ada kakek yang baru dikenalnya belum ada sehari.
Sesaat semuanya terdiam. Hingga akhirnya terdengar suara Dave memulai percakapan untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Dave
"Wa'alaikumsalam," Kompak semua irang yang hadir.
__ADS_1
"Sebelumnya, Saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Keluarga Diandra. Atas kedatangan kami yang serba dadakan ini. Namun, kami datang ke sini karena memiliki niat yang baik untuk lebih mempererat tali kekeluargaan di antara Keluarga Davin dengan Keluarga Diandra." Dave menghela napas sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.
"Adapun kedatangan kami ke sini, tidak lain dan tidak bukan untuk mempersunting Ananda Diandra Dewantara sebagai istri dari putra saya yang bernama Davindra Ocean Sky." Dave bernapas dengan lega karena akhirnya bisa mengatasi kegugupannya.
"Terima kasih karena Keluarga Davin berkenan datang ke gubug kami. Sebagai orang tua, saya tidak bisa mengambil keputusan sepihak tentang masa depan cucu saya. Untuk itu, saya meminta ijin sejenak untuk bertanya pada Diandra langsung." Pa Iwan langsung menengok ke arah Diandra yang duduk di sampingnya.
"Dian, apa bersedia menjadi pendamping hidup Nak Davin? Melewati susah senang kehidupan bersama. Berbagi suka dan duka berdua. Serta akan setia sehidup semati dengan Nak Davin." tanya Iwan pada cucunya.
Diandra hanya diam tidak menjawab apa yang kakeknya katakan. Sejujurnya dia masih ragu jika harus hidup bersama dengan Davin hingga tua nanti. Tapi dia pun tidak mungkin menolak laki-laki yang sebenarnya sudah menjadi suaminya itu. Sehingga Diandra pun hanya menganggukkan kepala untuk menyetujui keputusan tersebut.
"Coba katakan, Dian! Apakah kamu bersedia menerima lamaran Nak Davin?" tanya Iwan lagi.
"Iya, Kek!" sahut Diandra pelan.
"Alhamdulillah," kompak semua orang.
Davin tersenyum lebar dengan memandang lekat istrinya. Dia sangat bahagia karena akhirnya Diandra bisa menerima dia di hadapan semua orang. Pemuda itu pun langsung maju untuk menghampiri Diandra yang duduk dihimpit oleh kakek dan mamanya.
"Davin, mau ke mana?" tanya Sevia segera menarik tangan putranya.
"Davin, duduk! Acaranya belum selesai," suruh Dave.
"Pah, Bukannya Dian sudah menerima aku dengan tangan terbuka? Lalu untuk apa ada acara lagi?" tanya Davin heran.
"Ya untuk men-sahkan pernikahan kamu dengan Diandra."
Setelah berdebat kecil dengan papanya, Davin akhirnya kembali menurut untuk kembali duduk. Sampai akhirnya acara ijab kabul pun segera dilaksanakan setelah Pak Penghulu datang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Diandra Dewantara binti Diwan Dewantara dengan maskawin satu unit rumah lantai dua dengan luas lahan 15x25 meter persegi dibayar tunai."
Tak ada kecanggungan dalam diri Davin, saat dia melapalkan bacaan ijab dan kabul membuat semua orang yang mendengarnya terkesima dengan nada suara Davin yang penuh dengan keyakinan.
"Bagaimana saksi sah?"
__ADS_1
"Sah," Kompak semua orang yang hadir.
"Alhamdulillah." Semuanya mengucap syukur kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.
Setelah prosesi ijab kabul selesai, Diandra pun mencium punggung tangan Davin. Begitupun Davin mencium kening Diandra. Namun, perasaan yang dulu mereka rasakan saat pertama kali mereka menikah karena sandiwara, sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh Davin dan Diandra sekarang. Meskipun keduanya menikah dengan orang yang sama.
Satu persatu prosesi pernikahan adat Sunda berjalan dengan baik meskipun ada sedikit kendala karena ulah duo iseng Devan dan Orion. Waktu pengantin pria menginjak telur, sebagai makna harapan dan kesetiaan, tiba-tiba saja sepatu pengantin hilang sebelah karena Devan menendangnya entah ke mana.
Belum lagi saat acara huap lingkung, Orion dan Devan kompak memakan nasi yang seharusnya dimakan oleh pengantin dengan saling menyuapi. Tapi ternyata suapan dari Davin dimakan oleh Orion sedangkan dari Dian untuk Davin dimakan oleh Devan. Sampai tukang rias beberapa kali mengulanginya.
Merasa gemas melihat kelakuan putranya, Sevia pun langsung menarik tangan Devan agar menjauh dari kembarannya. Dia tidak habis pikir, kenapa dua anak muda itu suka sekali iseng pada orang-orang terdekatnya. Karena Sevia tahu, Devan maupun Orion, hanya akan iseng pada orang yang mereka anggap sudah dekat dengannya.
"Ikut Mama!" ajak Sevia.
Devan hanya menurut dengan apa yang dikatakan oleh mamanya. Dia maupun Orion tidak pernah berani membantah titah dari sang bunda ratu mama tercinta.
"Kalian tahu, kenapa mama ajak kalian ke sini?" tanya Sevia saat sudah berada di kamar Diandra.
"Paling Mama mau marah. Udah kelihatan kalau Mama lagi kesal," jawab Devan sekenanya.
"Kamu betul! Mama lagi kesal pada kalian berdua. Belum puas membuat kekacauan di pesta pernikahan saudara kamu? Apa begini cara kalian mengungkapkan perasaan sayang pada Davin dan Diandra?"
"Maaf, Mah. Aku salah!"
"Iya, Tan. Maaf, aku khilaf!"
"Mama tidak butuh kata maaf kalian. Mama hanya minta, hentikan kekonyolan kalian," tegas Sevia.
"Iya, Mah!" Kompak keduanya.
"Kalian tidak boleh keluar dari sini sebelum acaranya selesai."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Ayo yang punya vote bisa dipakai buat kondangan sama Rani dan Sevia. Daripada Angus ya kakak....