Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 145 Chip


__ADS_3

Dua hari sudah Dave berada di rumah sakit, Sevia dengan setia menemani suaminya. Apalagi, Dave begitu manja tidak mau Sevia tinggalkan ke mana pun. Saat dia bangun dari tidur dan tidak mendapati istrinya, maka Dave akan teriak dan mencari Sevia. Seperti pagi ini, Dave terbangun tidak mendapati istrinya.


"Via, Via, Sayang kamu di mana?" Dave langsung turun dari bed sambil menjinjing infus di tangannya.


Dia langsung menuju ke kamar mandi, namun tidak mendapati Sevia. Akhirnya, Dave pun keluar kamar untuk mencari istrinya.


"Suster, melihat istriku tidak?" tanya Dave saat melihat perawat yang lewat.


"Maaf, Mister! Saya tidak melihat istri Anda," sahut perawat itu.


"Ke mana Sevia? Kenapa tidak membangunkan aku kalau mau pergi?" Dave berjalan gontai masuk kembali ke dalam rumahnya.


Perutnya masih terasa sakit jika dia bergerak terlalu banyak. Saat Dave baru akan masuk ke dalam kamarnya, terdengar suara orang yang dicarinya dari belakang.


"Dave, kenapa ke luar? Ayo masuk lagi!" Sevia langsung memapah suaminya agar kembali masuk ke dalam kamar.


"Kamu dari mana? Aku mencarinya kemana-mana," tanya Dave dengan wajah cemasnya.


Entah kenapa pria bermata biru itu sangat takut jika istrinya pergi. Apalagi, dia selalu teringat dengan apa yang Sevia katakan saat bertemu ibunya. Dave berpikir, karena dia sakit maka Sevia akan meninggalkannya.


"Sayang, aku lapar! Anak-anak juga merasa lapar, jadinya aku cari sarapan dulu buat mereka. Aku juga udah beli bubur buat kamu," ucap Sevia dengan memperlihatkannya kantong plastik yang dibawanya.


"Nanti kalau mau pergi, kasih tahu aku dulu ya! Aku takut kamu pergi jauh tapi aku tidak bisa mengejar mu." Wajah Dave nampak sendu saat mengatakan apa yang dipikirkannya.


"Sayang, aku tidak akan pergi meninggalkan kamu, jadi stop berpikir yang buruk. Kamu tahu, terkadang apa yang selalu kita pikirkan, itu yang akan terjadi. Jadi, sebaiknya kita terus men-sugesti diri dengan hal yang baik."


Sevia membawa Dave untuk duduk di sofa yang tersedia. Dia pun menyiapkan bubur untuk sarapan Dave dan juga dia sendiri. Dengan telaten Sevia menyuapi suaminya dengan sesekali dia pun ikut makan dalam satu tempat dan satu sendok bersama dengan Dave.


"Via, kenapa kalau kamu yang suapi buburnya terasa enak?" tanya Dave dengan menatap lekat Sevia.


"Itu karena aku menyuapi kamu dengan penuh cinta. Benar kan kembar, kalau Mama gak bohong."


"Iya aku percaya," ucap Dave.


Setelah selesai sarapan, Dave pun meminum obat dan kembali tertidur. Sampai saat menjelang siang, Harry datang menjenguk sahabatnya untuk meminta sesuatu pada Dave.


"Dave, aku sudah melakukan apa yang kamu suruh. Tinggal membeberkan bukti penting yang akan membuat Keluarga Winata kehilangan kepercayaan dari semua penduduk negeri ini. Apa akan kamu keluarkan sekarang?" tanya Harry.


"Bagaimana keadaan Mona? Apa dia sudah ditangkap?" Bukannya menjawab, Dave malah balik bertanya.


"Sudah, kamu tahu tidak kalau Om Andrea kini terang-terangan menentang Keluarga Winata. Kemarin Pak Bambang memintanya untuk menghapus semua video yang beredar, tetapi dia menolaknya. Kata Barra, Mona mengancam Om Andrea akan mencabut ijin usahanya," tutur Harry.

__ADS_1


"Mona seperti membangunkan naga yang sedang hibernasi. Dia tidak sadar kalau apa yang dikatakannya ini akan membuat naga itu mengeluarkan apinya dan menghancurkan keluarga Winata," ucap Dave.


"Kamu benar, Dave. Om Andrea benar-benar tidak bisa disinggung. Bukan dia yang rugi jika ijin usahanya dicabut di negeri ini, tapi ribuan karyawan yang terancam jadi pengangguran." Harry men-jeda ucapannya sejenak. "Cepat berikan file yang kamu simpan, aku tidak sabar melihat keluarga itu kalang kabut saat kebusukannya terbongkar."


"Sebenarnya bukan hanya kakaknya yang busuk tapi adiknya juga, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya karena itu berkaitan dengan orang yang berarti untuk orang yang aku cintai," ungkap Dave.


"Maksud kamu?"


"Kamu tidak perlu tahu. Biarkan aku punya sedikit rahasia," ujar Dave.


"Baiklah aku tidak memaksa, karena nanti kamu sendiri yang akan mengatakannya." Harry tersenyum remeh pada Dave. Karena memang benar, Dave selalu mengatakan apapun yang dia ketahui padanya. Ibaratnya Harry sudah seperti flashdisk yang Dave pakai untuk menyimpan semua data miliknya.


Dave pun memanggil Sevia yang sedang duduk anteng seraya menonton berita di televisi. Ibu hamil itu nampak asyik dengan cemilan di pangkuannya seraya menonton berita tentang Mona yang memenuhi setiap stasiun televisi.


"Via, sini bentar!" pinta Dave.


"Kenapa? Apa kamu ingin ke toilet?" tanya Sevia dengan menyimpan cemilannya. Dia pun beranjak menghampiri Dave.


"Bukan, aku mau minta gelang kaki yang kamu pakai. Coba buka sebentar!" suruh Dave.


"Kenapa memangnya dengan gelang kakiku? Apa kamu mau menjualnya?" tanya Sevia.


Sevia pun langsung membuka gelang kaki yang dipakainya, kemudian dia memberikannya pada Dave. Setelah mendapatkan gelang kaki dari Sevia, Dave langsung membuka salah satu bandul yang ada di gelang kaki itu.


"Nih, aku percayakan padamu, Harry. Cepat berikan kejutan untuk Mona dan Keluarganya!" suruh Dave seraya memberikan sebuah chip pada Harry.


"Tenang saja! Kamu bisa mengandalkan aku," sahut Harry. "Kalau gitu, aku pulang dulu. Cepat pulih, kerjaan kita numpuk!"


"Ck! Kerjaan mulu yang diurus. Aku ingin berlibur dengan istriku. Nanti kita baby moon ya, sayang!" ajak Dave dengan tersenyum manis.


"Sudahlah! Aku pulang, lama-lama melihat kemesraan kalian bikin si Potter jadi berdiri." Harry pun langsung berlalu pergi meninggalkan Dave dan istrinya.


Bukan dia tidak mau menemani sahabatnya seperti waktu itu, tetapi sikap Dave yang terlihat manja pada Sevia membuat dia merasa tidak enak hati menjadi orang ketiga di antara pasangan itu.


Setelah kepergian Harry, Sevia pun melakukan video call pada Icha. Dia sangat merindukan putrinya. Setelah tersambung, Sevia pun langsung memberi salam.


"Assalamu'alaikum, Tante."


"Wa'alaikumsalam, bagaimana keadaan Dave?" tanya Icha di seberang sana.


"Alhamdulillah baikan! Devanya mana, Tante?"

__ADS_1


"Ada lagi main dengan Keano. Mereka begitu anteng main berdua. Meskipun Keano terlihat cuek tapi dia bisa menjaga Devanya," tutur Icha.


"Syukurlah! Boleh Via lihat gak, Tan. Via kangen sama Deva."


"Tentu saja boleh! Sebentar ya, Tante ke ruang bermain dulu."


Tak lama kemudian, nampak di layar Devanya.sedang bermain bola bersama dengan Keano. Putrinya itu nampak bahagia bermain bersama cucu ibu angkat suaminya.


"Hallo Devanya sayang, ini Mama." ucap Sevia.


"Mama Mama ...."


"Mama kangen sama Deva, baik-baik ya sama Enin."


"Mau Mama ...." terlihat Devanya merentangkan tangannya meminta digendong oleh Sevia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Papa juga kangen, Sayang. Maafkan Papa, mamanya Papa pinjam dulu." Hati Dave merasa tercubit melihat mata putrinya yang berkaca-kaca menahan tangis.


"Papa ... Mau Papa ...."


"Sabar ya sayangnya Mama. Nanti kalau Papa sudah sehat, Mama sama Papa pasti pulang. Tante, teleponnya Via tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Klik


Sambungan telepon langsung terputus karena Sevia langsung menekan tombol merah di layar ponselnya. Dia berpandangan dengan Dave yang sedari tadi melihatnya.


"Maafkan aku, karena sudah membahayakan diriku. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menyakiti Keluarga Putra. Mereka semua sudah sangat baik padaku," ucap Dave.


"Aku mengerti, semoga saja Allah memberi hidayah pada Mona. Sebenarnya aku kasian sama dia, karena cintanya tak berbalas, dia tega menyakiti orang lain. Dia terlalu terobsesi sampai-sampai menyia-nyiakan dirinya sendiri."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...


Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin juga karya Author yang keren ini


__ADS_1


__ADS_2