
Setelah mendapatkan uang yang diinginkannya, Nadine pun langsung pulang. Saat melewati apartemen Harry, dia sudah bersiap akan membuka pintu apartemen suaminya. Namun, dia mengurungkan niatnya saat ada panggilan telepon masuk ke ponselnya. Nadine langsung bergegas ke luar untuk menemui seseorang yang menunggunya.
"Lama banget sih," tanya Aurel temannya Nadine.
"Bentar doang, udah yuk kita ke mall. Aku udah dapat uang untuk shopping. Kamu jadi kan nginap di rumahku?" tanya Nadine.
"Jadi dong! Memang suami kamu pergi ke mana?" tanya Aurel lagi.
"Katanya tugas ke luar kota. Udah deh, biarin aja tuh bocah nyari duit yang banyak buat aku. Lebih baik kita senang-senang," ucap Nadine.
"Baik Bu Guru," ucap Aurel.
"Udah deh, Rel. Aku ngajar hanya dua tahun karena gak betah. Gak ada yang bisa bikin cuci mata," sanggah Nadine.
"Aku gak nyangka kamu kembali lagi ke sini. Aku pikir keluarga kamu gak akan kasih iin kamu ke sini lagi," ucap Aurel.
"Sudahlah jangan ingetin aku lagi. Aku gak mau mengingatnya."
Nadine langsung menyela ucapan sahabatnya saat dia kuliah di universitas negeri terbaik yang ada di kota Jakarta. Dia sengaja mengambil kuliah jauh dari kota kelahirannya karena Nadine ingin bebas dari keluarganya yang selalu mengekang dia. Namun, saat dia sedang ikut pesta lajang. Polisi menciduk semua orang yang sedang berpesta karena ada beberapa orang yang membawa barang haram ke acara pesta sehingga keluarga Nadine langsung menyuruh dia kembali ke kota kelahirannya.
Sementara itu, setelah kepergian Nadine Dave langsung memeluk Sevia dari belakang. Dagunya dia diamkan di bahu istrinya, kemudian dia berkata, "Aku gak nyangka istriku bisa jadi wanita tangguh. Tapi aku suka gaya kamu saat tadi mengusir Nadine dengan halus."
"Apa aku terlihat hebat?" tanya Sevia.
"Sangat hebat! Tapi kenapa dulu kamu tidak melakukan hal yang sama dengan Ines?" tanya Dave dengan tangan yang sudah naik ke atas gundukan kenyal.
"Karena aku gak mau harus kehilangan lagi. Apalagi ada Devanya di antara kita. Aku gak mau dia merasakan sakitnya jadi anak broken home. Dave, jangan tinggalkan aku!"
__ADS_1
Dave tidak menjawab apa yang Sevia katakan. Dia hanya membalikkan badan Sevia agar menghadap ke arahnya. Lalu menangkup pipi Sevia dengan kedua tangannya.
"Lihat aku, Via! Aku tidak mungkin meninggalkan seorang wanita yang berharga dalam hidupku. Kehilanganmu adalah kerugian terbesarku, jadi kamu jangan khawatirkan hal itu. Kalau ada lagi perempuan yang mencoba mendekati aku, kamu harus lebih berani dari tadi karena aku akan mendukungmu dari belakang."
Saat Dave akan memajukan wajahnya dan meraup candunya, terdengar suara tangisan Devanya di dalam kamar bersamaan dengan suara bel yang berbunyi. Pasangan suami istri itu akhirnya membagi tugas. Dave membuka pintu depan sedangkan Sevia menemui putrinya.
"Via, ayo kita ke apartemen Harry! Makanannya sudah datang," ajak Dave.
"Sebentar, aku ganti popok Deva dulu. Sepertinya sudah penuh." Sevia dengan terampil mengganti popok sekali pakai putrinya. Setelah selesai, dia pun langsung menggendong Devanya untuk diajak ke apartemen Harry.
Tanpa permisi lagi, Dave langsung masuk ke dalam apartemen milik Harry. Dia sudah terbiasa keluar masuk apartemen sahabatnya. Namun, Dave merasa ada yang aneh saat melihat salah satu pintu kamar tidak tertutup dengan rapi. Dia pun segera membuka pintu itu.
"Harry, apa yang kamu lakukan? Tadi istrimu mencari ke apartemenku," tanya Dave saat melihat Harry dan Rani tidur berpelukan.
"Dia demam, Dave. Tadi aku tidak sengaja mendengar dia mengigau terus memanggil nama suaminya, makanya aku segera menghampiri dan ternyata badannya panas. Saat aku mengompresnya, dia memegang tanganku erat. Akhirnya aku ikut tiduran di samping dia," jelas Harry.
"Kenapa Dave? Siapa yang mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Sevia yang baru masuk ke kamar karena tadi dia menunggu di sofa depan televisi.
Untung saja Harry sudah bangun, bisa salah paham kalau Sevia sampai melihat, batin Dave.
"Kita makan saja dulu, setelah makan baru bawa Rani ke rumah sakit. Kamu sedang menyusui, kalau telat makan nanti kualitas ASI-nya kurang bagus buat Deva," ajak Dave.
"Memang iya, Dave? Kenapa dokter gak pernah bilang begitu ya?" tanya Sevia.
Mana aku tahu. Aku hanya ngarang agar kamu mau makan dulu, batin Dave.
Akhirnya ketiga orang dewasa itu memakan makanan yang dibawa oleh Dave. Karena ketiganya sama-sama lapar sedari pagi belum makan dengan benar, akhirnya semua makanan pun habis tak bersisa. Setelah menghabiskan makanannya, Harry pun segera menggendong Rani untuk dibawa ke rumah sakit, sedangkan Sevia tidak diijinkan ikut oleh Dave karena merasa khawatir dengan Devanya.
__ADS_1
Di sinilah sekarang dua sahabat itu berada. Sebuah ruangan rawat inap VIP dengan fasilitas yang lengkap. Setelah berunding, akhirnya diputuskan Harry yang akan menjaga Rani karena tidak mungkin jika Dave dan Sevia yang memiliki balita. Sementara Harry merasa bertanggung jawab atas Rani.
"Jam tujuh malam aku pulang. Kamu jangan mengambil kesempatan dengan kondisi Rani, Bro. Dia sedang hamil empat bulan dan kamu masih berstatus sah suami Nadine," pesan Dave sebelum dia pulang.
"Kamu tenang saja, Dave! Aku tidak mencintainya. Aku hanya merasa bersalah dengan apa yng terjadi padanya. Soal kejadian yang tadi kamu lihat di apartemen, itu karena ketidaksengajaan," jelas Harry.
"Bagus, Lelaki sejati tidak akan menyakiti wanitanya. Aku percaya sama kamu!" Dave menepuk pundak sahabatnya pelan dan tersenyum penuh kebanggaan.
"Dave, katamu tadi Nadine datang ke apartemen kamu. Beneran dia mencari aku?" tanya Harry.
"Iya, dia mencari kamu. Tapi aku bilang kalau kamu sedang tugas ke luar kota," jawab Dave.
"Apa dia lama di apartemen kamu?" tanya Harry dengan penuh selidik.
"Lumayan, dia pulang setelah aku beri uang," jawab Dave dengan santainya.
"Apa uang? Memangnya kalian ngapain dulu?" tanya Harry kaget.
"Dia ngobrol dulu dengan Sevia. Aku kasih dia uang karena dia butuh buat beli susu sama kebutuhan bulanannya," terang Dave.
"Untuk apa dia masih minta sama kamu? Dia kan tiap bulan aku kasih lima puluh juta," tanya Harry.
"Mana aku tahu, kamu tanyakan saja pada istrimu. Aku pulang dulu, kasian Sevia sendiri." Dave langsung beranjak pergi setelah berpamitan pada Harry.
Kini tinggal Harry dengan pikirannya yang bercabang. Dia tidak menyangka gadis yang dinikahinya suka menghabiskan uang. Apalagi, gadis itu seseorang yang dia kagumi dan terlihat sempurna di matanya.
Nadine, kapan kamu melihat ke arahku dengan hatimu. Selama ini aku yang begitu menginginkanmu, tapi hatiku sangat sakit saat kamu begitu berharap pada sahabatku sendiri. Memang aku tidak sekaya Dave, tapi aku memiliki cinta yang begitu besar untukmu.
__ADS_1
...~Bersambung~...