Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 42 Maksud kamu?


__ADS_3

"Ion, kapan pulang?" tanya Keano.


"Wow Bang Ano, kalian sedang makan berdua? Curang nih, aku gak ada kalian jalan-jalan berdua." Orion memasang muka masam saat melihat Keano berada di belakang Devanya dengan pipi yang hampir bersentuhan.


"Kamu kapan pulang?" Keano pun mengulang pertanyaannya kembali.


"Gak tahu, Bang! Opa Zidan lagi kesambet. Masa aku disuruh pegang perusahaan yang di sini," keluh Orion di seberang sana.


"Lalu, kuliah kamu?" tanya Keano lagi.


"Gak tahu, aki-aki itu keras kepala sekali."


"Jangan lari dari masalah! Cepat pulang dan selesaikan semuanya," ucap Keano kemudian dia beranjak menuju ke kursinya dan membiarkan Devanya bicara kembali dengan Orion.


Melihat Keano yang pergi ke kursinya, Devanya langsung menghela napas dalam. Sedari tadi dia menahan napas, merasa terhimpit di antara pria tampan dan mapan. Entah harus bersyukur atau mengeluh saat dia harus memilih salah satu di antara dua lelaki yang mempesona itu.


"Ion, aku makan dulu ya! See you," pamit Devanya.


"Makan yang banyak. Jangan lupa sebut namaku sebelum makan, agar aku ikut merasakan apa yang kamu makan sekarang bersama dengan Bang Ano."


Klik


Sambungan telepon itu langsung terputus saat Devanya mengklik tombol berwarna merah di layar ponselnya. Dia pun langsung memasukkan ponselnya ke kantong hoodie-nya. Saat Devanya akan mengambil makanan yang suah terhidang, tanpa sengaja dia melihat Keano yang sedang menatapnya dengan menumpukan dagu pada kedua tangannya.


"Gak makan, Bang?" tanya Devanya.


"Nunggu kamu," ucap Keano pelan lalu membenarkan duduknya.


Setelah keduanya berdo'a sebelum makan. Mereka pun langsung melahap hidangan yang tersedia dalam diam. Sampai semua makanan sudah habis di meja, keduanya masih betah tidak mengeluarkan suaranya.


"Kalau sudah selesai, ayo kita pulang!" ajak Keano.


"Iya, Bang!"


Bang Ano kenapa? Mukanya jadi serius sekali. Gak kayak tadi, apa karena tadi Ion menelpon? Masa Iya Bang Ano cemburu? Kan dia belum bilang cinta sama aku. Sudahlah, aku pusing memikirkan hari esok. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air. Kata mama juga kita tidak akan bisa menghindar dari jodoh yang sudah ditentukan sama Yang Maha Pencipta.

__ADS_1


Selama perjalanan pulang, keduanya masih saja terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Saat sampai di rumah Devanya, barulah Keano bersuara.


"Abang langsung pulang ya! Maaf gak bisa mampir," ucap Keano.


"Iya, Bang. Em ... Apa Abang marah sama aku?" tanya Devanya.


"Marah kenapa?" Keano langsung melihat ke arah gadis yang duduk di sebelahnya.


"Abang jadi diem. Apa karena aku nelpon Ion?"


Keano tidak langsung menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Abang gak marah karena Ion. Jangan berpikir yang tidak-tidak!"


"Syukurlah, aku turun dulu Bang!"


"Iya, salam saja buat Om dan Tante. Abang gak bisa mampir karena sedang terburu-buru."


Devanya pun langsung turun dari mobil Keano, meninggalkan pemuda tampan itu sendiri. Sementara Keano hanya menghela napas dalam. Sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya.


Aku bukannya marah, tapi aku tidak suka kamu berhubungan dengan lelaki. Apa tidak cukup kalau hanya aku yang ada di sisimu?


Keesokan harinya, Devanya dan Diandra sudah siap dengan baju kerjanya. Mereka langsung bergabung bersama keluarga lainnya yang sudah menunggu di meja makan. Nampak Harry dengan wajah yang berseri seperti habis menang lotre. Begitupun dengan Dave. Kedua lelaki dewasa itu seperti habis menang undian besar.


Sangat berbeda dengan mamanya Sevia yang terlihaaat lelah letih lesu. Wanita cantik itu seperti kurang berselera menikmati makanannya. Devanya yang merasa heran dengan mamanya akhirnya bertanya.


"Mama sakit?" tanya Devanya yang duduk disamping mamanya.


Sevia yang mendengar pertanyaan putrinya, dia pun langsung menengokan kepala. Dengan tersenyum tipis, Sevia mejawab pertanyaan Devanya. "Mama gak sakit, hanya butuh istirahat."


"Kalau Mama tidak enak badan, nanti Deva saja yang membereskan meja makan."


"Iya, makasih ya sayang!"


Mendengar apa yang dikatakan istrinya, Dave pun menghentikan makannya dan melihat ke arah Sevia. Terlihat jelas matanya sayu seperti kurang tidur. Dave hanya menghela napas lalu dia pun mengarahkan sendok yang sudah terisi makanan ke mulut istrinya.


"A ...." ucap Dave.

__ADS_1


Sevia melihat ke arah suaminya. Mendapatkan senyuman manis dari Dave dan kepala Dave yang menangguk, akhirnya dia pun membuka mulutnya. Suami istri yang sudah bukan pengantin baru lagi, kini makan sepiring berdua dengan Dave yang terus menyuapi Sevia dan sesekali menyuapi dirinya sendiri.


"Pah, jangan pamer kemesraan depan kita apa!" protes Devan.


"Papa gak pamer, cepat habiskan makannya. Bukannya hari ini kalian kembali ke negara A?" tanya Dave memastikan.


"Aku diundur, Pah!" ujar Davin.


"Kenapa? Setahun lagi kalian wisuda, sekarang mau malas-malasan kuliahnya?" tanya Dave yang kadang tidak mengerti dengan keinginan kedua putranya.


"Online aja, Pah. Saat ujian saja aku ke sana," ucap Davin.


"Kalian tuh, dulu saja minta cepat-cepat buat lanjut sekolah di sana. Sekarang giliran udah mau lulus malas-malasan," gerutu Dave.


Bagaimana ini, Davin akan terus ada di rumah. Apa setiap malam dia kan terus menyelinap ke kamarku? Meskipun tidak ngapa-ngapain, tapi kan aku takut terjadi hal yang enggak-enggak, batin Diandra.


"Dave, aku tunggu di mobil!" ucap Harry menyudahi sarapannya.


"Tunggu sebentar lagi ya, aku mau antar Via ke kamar dulu."


"Santai saja. Dian, Daddy berangkat dulu." Harry menepuk pundak putri sambungnya sebelum dia pergi dari ruang makan.


"Iya, Dad!" sahut Diandra.


"Sepertinya, Om Harry udah dapat jatah. Lihat saja mukanya cerah gitu," bisik Devanya.


"Maksud kamu?" tanya Diandra yang tidak mengerti maksud sahabatnya.


Devanya hanya mengangkat bahunya seraya melanjutkan sarapannya. Sementara Diandra terus mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud ucapan Devanya.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya! Klik, like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2