Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 62 Nasihat Orang Tua


__ADS_3

Semua mata tertuju pada suara langkah kaki yang menuruni tangga. Nampak Devanya dengan wajah yang tampak segar dan rambut yang setengah basah. Ditambah dress rumahan yang semakin mempercantik penampilan gadis bermata biru itu.


Keano tidak bisa melepaskan pandangannya. Sampai Devanya sudah berada di dekatnya pun, dia masih saja terpaku dengan tatapan yang memuja. Dia sampai lupa kalau saat ini, hatinya sedang kesal karena gadisnya, diam-diam bersama dengan sepupunya di sebuah danau.


"Maaf, lama menunggunya." Devanya langsung meminta maaf dan sedikit membungkukkan badannya.


"Tidak apa, cantik. Ayo duduk di samping Ano!" sahut Andrea.


Opa yang satu itu, selalu bisa memaklumi apapun yang dilakukan oleh orang yang disukainya. Meskipun dia tahu banyak kekurangan dari orang itu, tetapi jika dia sudah memilih seseorang untuk menjadi bagian dari keluarganya, maka dia akan memperjuangkannya.


"Ano, beri tempat untuk Deva duduk!" suruh Allana seraya menepuk pundak putranya yang masih terbengong.


"I-i-iya Mom," gugup Keano.


"Lihat cucu Opa, dia benar-benar terpesona dengan kecantikan Deva. Kamu bisa tenang cantik, cucu Opa dijamin hanya setia pada satu wanita dan itu kamu." Opa Andrea seperti tukang obat yang sedang promosi dagangannya.


Semoga saja benar, kalau aku satu-satunya gadis yang ada dalam kehidupan Bang Ano. Meskipun di luaran sana, banyak gadis yang mengharapkan cinta Bang Ano, batin Devanya.


"Duduklah!" suruh Keano seraya menggeser kursi agar Devanya duduk di sana.


"Makasih, Bang!" Devanya tersenyum manis. Tentu saja hati Keano seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang berterbangan.


Kini semuanya sudah duduk tenang di meja makan. Tidak ketinggalan si kembar dan Diandra yang sudah pulang dari rumah sakit. Mereka pun bergabung untuk makan malam bersama.


Setelah berdoa bersama, mereka pun makan dengan tenang. Tidak ada yang bersuara, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Sampai makanan yang ada di piring masing-masing habis tak bersisa barulah Andrea membuka suaranya.


Sudah menjadi peraturan tidak tertulis dalam Keluarga Wiratama. Mereka dilarang menyisakan makanan di piring. Sehingga semua anggota keluarga memilih makan secukupnya yang sekiranya akan habis dimakan. Karena jika menyisakan makanan, Andrea akan menyuruhnya untuk memberikan pada hewan ternak atau kucing dan semua itu harus dilakukan oleh orang yang tidak menghabiskan makanannya.


"Makanan yang enak dinikmati bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, rasanya menjadi sangat nikmat. Opa merasa senang, bisa berkumpul bersama di sini. Terima kasih Dave, Via sudah menyiapkan hidangan yang lezat ini," ucap Andrea.


"Sama-sama Om. Suatu kehormatan bagi keluargaku Om Andrea dan keluarga makan malam bersama dengan kami di sini," sahut Dave.


"Deva, Opa dan yang lainnya sudah berunding. Pernikahan kalian akan dilaksanakan di Villa Kenangan yang berada di puncak. Opa hanya ingin kisah cinta kalian terukir dalam sejarah Villa yang turun temurun dari keluarga Opa." Andrea menghela napas sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.

__ADS_1


"Sedangkan untuk resepsi, rencananya akan menyulap roof top gedung JS Group seperti negeri di atas awan. Apa cucu mantu Opa keberatan?" tanya Andrea.


"Tidak Opa, Deva setuju. Karena menurut Deva yang terpenting niat dan kesakralan acaranya," ucap Devanya dengan tersenyum manis.


"Bijak sekali menantu Papi, semoga kalian bisa membangun keluarga yang sakinah," puji Kendra yang sedari tadi diam.


"Terima kasih sayang, sudah bisa menerima putra Mommy. Semoga kebahagian selalu menyertai perjalanan cinta kalian," timpal Allana.


"Aamiin," lirih Devanya dan Keano.


"Oma hanya bisa berpesan, jagalah komunikasi. Harus saling terbuka dan berbagi cerita. Kalau ada hal yang tidak disukai dalam pasangan kita, bicarakan baik-baik, bukan langsung melepaskan ataupun mencari penggantinya." Mitha ikut menasehati cucunya. Apalagi, dia yang mengasuh Keano sedari kecil sehingga mengerti dengan sifat cucunya yang kurang bisa terbuka pada orang lain.


"Iya, Oma. Ano akan usahakan," ucap Keano dengan menundukkan kepalanya.


"Ano, Om hanya ingin menitipkan putri Om.Tolong jaga dia baik-baik. Jika Deva melakukan kesalahan, tolong ditegur tapi jangan dibentak apalagi bersikap kasar. Karena Om sebagai orang tuanya yang merawat putri Om dari kecil tidak pernah melakukan hal itu." Ada rasa sedih menyelinap di hatinya. Dia harus melepaskan putri kesayangannya hidup bersama dengan lelaki yang menjadi suaminya.


Meskipun dia yakin, Keano selalu bersikap baik dan lembut pada Devanya. Tetap saja kekhawatiran seorang ayah tidak bisa dipungkiri. Begitupun dengan Sevia yang sedari tadi hanya diam. Akhirnya dia pun angkat bicara.


Suasana yang mengharu biru tiba-tiba saja pecah di dengan celotehan Devan yang sedari memperhatikan apa yang para orang tua katakan. "Oma, bukannya suami-istri itu tiap malam pasti buka-bukaan dan berbagi ya?"


"Devan maksud Oma bukan begitu," sergah Dave.


"Itu buka-bukaan yang lain, Van. Maksud Oma, jangan menyembunyikan rahasia yang akan membuat sebuah hubungan retak karena kesalahpahaman," jelas Mitha dengan tersenyum.


"Devan, tahu dari mana kalau suami istri buka-bukaan tiap malam?" tanya Andrea dengan menahan senyum.


Wajah Devan langsung merah padam ditanya seperti itu oleh Andrea. Karena tidak mungkin baginya bicara jujur, kalau dia terkadang menonton film dewasa bersama temannya. Devan pun akhirnya hanya cengengesan sebelum menjawab pertanyaan Andrea.


"Anu Opa, Devan Devan tidak sengaja melihat ...."


"Devandra hentikan! Cepat masuk kamar!" Dave kelimpungan takut putranya bicara yang tidak-tidak tentang dia dan Sevia. Meskipun dia dan bosnya tidak jauh beda sebagai para buciner istri. Tetapi saat harus dibicarakan tentang kelakuannya bersama sang istri. Dave menjadi malu sendiri.


"Papa kenapa marah, aku kan hanya mau bilang gak sengaja lihat adegan seperti itu di film Hollywood," sanggah Devan.

__ADS_1


Untung aku bisa ngeles, bisa digantung sama papa kalau tadi keceplosan pernah lihat papa dan mama gak pake baju malam-malam, batin Devan.


Syukurlah Devan bukan bicara yang tidak-tidak. Tapi apa dia pernah melihat aku dan Via sedang anu ya? Bisa bahaya kalau sampai bocah itu pernah memergoki aku sedang anu-anuan, batin Dave.


"Seperti Opa mau pamit pulang saja karena hari sudah larut, ditambah perut Opa juga sudah kenyang. Jadinya mata mulai mengantuk," pamit Andrea.


"Oh Iya, Dave nanti sempatkan waktu untuk fitting baju di Er's boutique ya. Kalau bisa dalam waktu dekat agar Ara bisa langsung bisa menghandle semuanya," ucap Allana.


"Baik Kak!" sahut Dave.


"Abang juga pulang dulu, ya. Terima kasih makan malamnya," ucap Kendra seraya menepuk tangan Dave.


"Iya, Bang! sahut Dave dengan tersenyum.


Entah kenapa setiap kali dia bersama dengan suami kedua mantan iparnya itu, Dave selalu merasa sedang bersama dengan Abang angkatnya yang sudah tiada.


Setelah kepergian Keluarga Wiratama, Devanya dan mamanya serta Diandra membantu bibi membereskan meja makan. Sementara Keano dan kedua adiknya duduk di ruang tengah, sedangkan Dave langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Bang Ano, kenapa tidak nikahan di Maldives, Paris atau Bali gitu? Biar kita sekalian jalan-jalan," tanya Devan.


"Abang masih sibuk, belum bisa meninggalkan kantor. Kalau kalian mau jalan-jalan ke sana, nanti Abang kasih akomodasinya."


Beda kalau punya ipar tajir, kita nanyain kenapa malah mau dikasih buat liburan, batin Devan.


"Boleh deh, Bang. Aku sih mau jalan-jalannya ke pulau Jeju aja biar ketemu sama gadis-gadis sipit," ucap Devan.


"Siapa yang mau ke Pulau Jeju?"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2