Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 10 Orion Sakit


__ADS_3

Tiga hari sudah, Devanya tidak berangkat ke kampus. Tiga hari pula Orion selalu terlihat murung dan melamun. Dia sudah mencoba menghubungi Dave maupun Devanya tetapi selalu di luar jangkauan. Orion pun sudah meminta bantuan pada neneknya tapi tetap ponsel mereka tidak bisa dihubungi.


"Aku harus bagaimana? Sepertinya, aku harus menemui Opa Andrea. Tapi, nanti Bang Keano tahu bagaimana? Bisa diledekin sama dia," gumam Orion.


Gavin yang tanpa sengaja mendengar apa yang Orion katakan, dia hanya mengulum senyum. Padahal dia juga tahu ke mana keluarga Devanya pergi dan dalam rangka apa, tapi dia tidak mau memberitahu pada Orion. Biarkan saja sahabatnya itu nelangsa. Dia ingin tahu sejauh apa perasaan Orion pada Devanya


Maafkan aku, Ion! Aku tidak akan memberi tahu di mana gadis yang aku sukai berada. Biarlah hari-hari dia tenang tanpa kamu yang selalu mengganggunya, batin Gavin.


"Vin, kamu mau magang di mana? Tempat aku aja, Vin. Biar aku ada temannya di kantor. Aku malas ke kantor, apalagi ketemu Om Arfaaz yang suka iseng," ucap Orion tiba-tiba.


Mendengar Orion mengajak bicara padanya, Gavin pun langsung menyahut. "Gimana nanti aja, kemarin aku ajuin magang di pabrik Cikarang."


"Ck! Ngapain jauh-jauh? Udah bareng sama aku aja. Nanti aku yang bilang ke dosen pengajuan kamu diganti."


"Boleh deh! Tapi kamu yang urus ya, aku terima beres aja." Gavin tersenyum senang membayangkan dia akan terima beresnya saja.


"Oke, gak masalah! Tapi nanti kamu jadi assisten aku aja," sahut Orion.


Yah, aku harus berhadapan dengan bos seperti Orion yang selalu bersikap menyebalkan kalau lagi kumat, gerutu Gavin dalam hati.


"Dian, kalau kamu mau, kamu juga boleh magang di tempat aku," tawar Orion.


"Nggak, Vin makasih! Aku udah ajuin ke tempat lain bareng De ...." Diandra langsung menghentikan ucapannya. Dia lupa kalau sedang mengerjai Orion.


Pembicaraan mereka pun terhenti saat ada dosen yang masuk ke dalam kelas. Namun, selama kelas berlangsung, Orion pun kembali melamun memikirkan gadis bermata biru. Tiga hari tidak melihatnya, membuat dia merasa benar-benar kehilangan.


...***...

__ADS_1


Pagi ini, langit nampak mendung dengan gerimis yang membasahi bumi. Orion masih bergelung dalam selimutnya. Sungguh pemuda itu merasa sangat malas untuk keluar dari apartemennya. Apalagi, sudah dua hari ini badannya sedikit panas, kepalanya pusing karena dia terus memporsir tubuhnya untuk bekerja dan kuliah. Dia sengaja melakukannya agar tidak terus-terusan teringat dengan Devanya.


Merasa kepalanya yang semakin berat, Orion pun segera mengambil ponselnya. Dia berencana untuk menghubungi neneknya dan meminta asisten rumah tangga di rumah neneknya mengirimkan bubur dan obat ke apartemen dia.


"Hallo, assalamu'alaikum," ucap Orion saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Wa'alaikumsalam, iya Ion ada apa?" tanya Icha


"Nek, kepalaku sakit sekali. Tolong suruh Bi Sumi ke apartemen buat bawa bubur dan obat?" pinta Orion.


"Iya, Nenek nanti minta tolong ke Om kamu untuk bawain bubur dan obat ke sana. Sekarang Nenek sedang di luar kota. Bi Sumi juga ikut," ucap Icha.


"Iya, Nek! Ion tutup dulu, assalamu'alaikum."


Orion pun langsung menutup ponselnya. Di kembali memejamkan matanya berharap saat bangun tidur sakitnya sudah hilang. Tidak lama kemudian, ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen Orion dengan membawa bubur di dalam tentengannya.


Arfaaz yang mendapat kabar dari tantenya, kalau Orion sakit, dia pun langsung menuju apartemen keponakan sekaligus bosnya itu. Tak lupa dia meminta Kejora untuk datang memeriksa keadaan Orion.


Orion pun langsung bangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah Arfaaz kemudian kembali memejamkan matanya. Entahlah, Orion enggan bangun saat melihat siapa datang.


"Ion bangun! Vanya udah datang loh ke tanah air," goda Arfaaz.


"Beneran, Om? Bukannya dia kuliah di luar negeri?" tanya Orion yang langsung terbangun dari tidurnya.


"Ngapain, Om bohong. Nanti deh Om minta tolong suruh jagain kamu. Tapi kamu harus makan bubur dulu, biar nanti tinggal minum obat kalau Kejora datang," suruh Arfaaz.


"Iya, Om. Tapi beneran kan kalau Vanya gak jadi kuliah di luar negeri?" tanya Orion

__ADS_1


"Iya, masa Om bohong."


Mana aku tahu anaknya Dave mau kuliah di luar negeri atau dia sini. Dulu Dave yang diam-diam suka sama Zee. Sekarang malah anaknya Zee yang diam-diam suka sama anaknya Dave. Aku iya-in ajalah daripada dia gak makan bubur. Masalah Devanya jadi kuliah di luar negeri apa nggak urusan belakangan, batin Arfaaz.


Orion pun mulai memakan buburnya tapi baru saja beberapa suap, dia sudah menghentikan. Mulutnya terasa pahit meski dia terus berusaha memakannya.


"Sudah Om, aku sudah kenyang." Orion pun menyimpan kembali sisa buburnya ke atas nakas.


"Makannya sedikit amat, Ion.


"Mulutku pahit, Om.


Tak lama kemudian, Kejora datang untuk memeriksa keadaan putra sahabatnya. Melihat kedatangan Kejora, Arfaaz pun langsung menyuruh Kejora memeriksa Orion. Setelah Kejora memeriksa keadaan Orion dan bertanya apa yang dirasakannya, dia pun membuat kesimpulan.


"Ion, dirawat aja ya! Biar nanti di infus dan mendapat penanganan yang tepat," saran Kejora.


"Aku males di rumah sakit."


"Nanti Om minta Vanya menemani kamu, mau kan?"


"Ya udah deh, tapi beneran kan Om? Lagi gak bohongin aku," tanya Orion.


"Iya!"


Daripada aku dimarahin Zee dan Om Al karena gak bisa jagain Orion, mending aku bohongin saja nih bocah. Lagipula, aku bohong untuk kebaikan dia juga.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2