Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 124 Bumerang


__ADS_3

Semakin hari hubungan Devan dan Tasya semakin dekat. Sosok Devan yang iseng, humoris dan easy going mampu membuat Tasya menjadi dirinya sendiri. Tasya menjadi lebih ceria dari hari-hari sebelumnya.


Sangat berbeda dengan Orion, keisengannya bermain dengan para gadis menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Luna yang sedang menghadiri pesta ulang tahun temannya, tanpa sengaja memergokinya di sebuah klub malam.


"Oh, jadi begini kebiasaan kamu sekarang? Bermain dengan para gadis itu seperti don yuan?!" sentak Luna dengan berkacak pinggang.


"Ayolah, Luna! Lebih baik kamu gabung saja bersama kami. Kita hanya main di sini, iya gak guys?" Orion terus menggelengkan kepalanya, merasa penglihatannya sedikit mengabur


"Yoi ... Gabung aja sini cantik!" ajak seorang lelaki temannya Orion.


"Minggir kalian! Kalian beri apa dia sampai teler begitu? Pengawal cepat angkat Ion!" suruh Luna.


Dua orang pria kekar segera datang menghampiri Orion dan langsung memapahnya. Sementara teman-teman Orion hanya diam membisu melihat apa yang terjadi.


"Dengar ya! Kalau terjadi sesuatu pada Orion, Maka kalian akan aku tuntut. Ingat! Aku Aluna Candra Kirana akan menuntut kalian semua!" berang Luna.


"Hahaha ...." Bukannya takut, teman-teman Orion malah menertawakan apa yang Luna lakukan. Yang sukses membuat gadis itu semakin kesal.


Dengan menghentakkan kakinya, Luna pergi dari ruang VIP. Tempat Orion berkumpul bersama temannya. Gadis itu terus saja menggerutu menahan kekesalan pada calon suaminya.


"Dasar Ion ogeb, bodoh, gak pintar, bloon, hokcay, orang-orang model gitu dijadikan teman. Apa dia gak tahu kalau mereka berniat tidak baik sama dia? Untung saja tadi aku mendengar bisik-bisik salah satu gadis itu yang menyebut namanya. Kalau tidak, dia bisa diapa-apain sama mereka."


Saat tiba di mobilnya, terlihat Orion sudah didudukkan di kursi belakang oleh kedua pengawalnya. Luna pun langsung masuk begitu saja ke dalam mobil.


"Dasar bege!" Luna menoyor kepala Orion yang menyandar ke sandaran kursi.


"Pak, ke apartemen aku saja!" suruh Luna. "Gak mungkin aku bawa dia ke rumah Opa Zidan, bisa ngamuk nanti. Kan kasian Ion kalau sampai dimarahi oleh Opa yang galak itu," gumamnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah apartemen elit. Luna yang masih kesal pada Orion, terus saja mencubit bagian tubuh pemuda itu sesuka hatinya. Dia kesal pada Orion karena bermain dengan gadis lain di belakangnya. Tetapi rasa cintanya yang besar selalu memaafkan dengan apa yang Orion lakukan selama ini.

__ADS_1


"Om Bram, memangnya Luna jelek ya sampai Ion selalu selingkuh di belakang aku?" tanya Luna pada pengawal yang merangkap supirnya dengan cemberut.


"Non Luna cantik. Den Ion saja yang belum melihat dengan jelas kecantikan Non Luna luar dalam," jawab Bram.


"Berarti kalau Ion lihat kecantikan Luna luar dalam, dia akan setia sama Luna?" tanya gadis yang baru berusia delapan belas tahun itu.


"Ya sudah pasti, Non."


"Oke deh Om. Akan Luna usahakan agar Ion melihat kecantikan Luna luar dan dalam." Terlihat Luna menganggukkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda memahami dengan apa yang pengawalnya katakan.


Namun berbeda dengan kedua pengawal itu. Mereka jadi meringis khawatir Luna menyalah artikan maksudnya. Meskipun Luna pintar di bidang akademik tetapi dia masih polos dalam berhubungan dengan seorang lelaki. Karena sedari kecil Orion menjadi pangeran impiannya.


Setibanya di apartemen Luna, pengawal itu memapah Orion sampai di kamar Luna. Namun saat akan membantu Orion mengganti baju, Luna melarangnya.


"Jangan Om! Luna gak mau ya, tubuh calon suami Luna dipegang-pegang oleh orang lain. Biar Luna saja yang ganti. Om Bram dan Om Jhon lebih pulang saja. Tapi kalau mau, bisa menunggu di luar apartemen," suruh Luna.


"Tapi, Non. Bahaya seorang gadis berduaan dengan seorang laki-laki," ucap Bram.


Bram dan Jhon saling memberi kode mata hingga akhirnya mereka pun ke luar dari apartemen Luna. Sementara Luna langsung membuka kancing baju Orion satu persatu. Matanya melotot sempurna melihat otot-otot yang tercetak jelas di depan matanya.


"Wah ... Dada Ion seperti artis. Kayaknya enak buat dicubit-cubit." Luna terus saja mencubit bagian tubuh Orion. Dari dada leher sampai ke perut hingga meninggalkan bekas warna merah di kulit putih Orion.


Namun, saat dia akan mencubit bagian yang terbungkus rapi. Luna menghentikan gerak tangannya seraya memperhatikan sesuatu yang terlihat menonjol. "Itu apaan ya! Perasaan waktu dulu Ion disunat, kecil kho! Luna kan ikut mengantar dia waktu dibawa ke dokter," gumamnya.


Luna terus saja mengamati. Sampai rasa penasarannya membuncah, dia pun mencoba untuk merabanya. "Oh, ternyata Ion masih pake batok kayak dulu dia habis disunat."


Setelah rasa penasarannya tersalurkan, Luna segera mencari handuk kecil untuk membersihkan badan Orion. Sebelum dia mengganti baju Orion. Gadis itu begitu telaten mengelap badan tunangannya dengan sesekali kembali mencubit dada pemuda itu. Dia terus saja tersenyum melihat tanda merah yang memenuhi badan Orion.


Selesai membersihkan badan Orion, Luna mengambil kaos miliknya yang menurutnya berukuran paling besar. Tetapi dia begitu kesusahan saat akan memakaikannya pada pemuda itu. Hingga akhirnya, dia membiarkan Orion tidur tanpa baju dengan tangan mungilnya memeluk posesif pemuda itu.

__ADS_1


Sebenarnya Ion dikasih obat apa? Kenapa dia tidur terus? Tapi gak apa deh, biar bisa aku peluk.


Pagi harinya, pasangan muda-mudi itu sangat terkejut ketika mendengar suara yang menggelegar. Mereka yang masih tertidur pulas seraya berpelukan, langsung terperanjat.


"ORION, LUNA, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"


"Eh baskom, panci, wajan, teko ...." Luna langsung menutup mulutnya saat melihat Opa Zidan dan kedua orangtuanya ada di kamar apartemen.


Tidak jauh berbeda dengan Luna, Orion pun sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat bangun tidur. Dia terus saja mengucek matanya untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya bukanlah mimpi. Tangannya terulur mencubit pipi Luna yang ada di sampingnya.


"Ion, apa-apaan sih? Sakit tahu!" gerutu Luna.


"Kamu yang apa-apaan, Luna? Kenapa kamu membawa Ion ke mari bukan ke rumah Opa?" tanya mamanya Luna.


"Kho Mama bisa tahu sih kalau aku bawa Ion ke sini? Aku kan gak bilang ke Mama," tanya Luna.


"Lihat tuh, Mah! Kelakuan anak kesayangan Mama. Buat malu Papa saja! Pengawal juga, kenapa mereka baru bilang tadi pagi? Bukannya semalam?" geram papanya Luna.


"Nazril, kita percepat saja pernikahan mereka. Lihat tubuh Orion sampai banyak tanda merah begitu. Aku tidak ingin kalau sampai ada janin dari hasil di luar nikah," ucap Opa Zidan dingin. Matanya tidak lepas dari kedua anak muda di depannya.


"Opa, bukannya nanti nunggu aku selesai S2?" protes Orion.


"Nanti maupun sekarang sama saja Orion. Ujung-ujungnya kalian juga akan menikah. Keputusan Opa sudah tidak bisa diganggu gugat. Minggu depan, kalian harus menikah."


"Serius Opa? Luna tidak keberatan kalau dipercepat jadi besok," ucap Luna cengengesan.


"LUNA!!!" seru kedua orangtuanya.


Sial banget! Kenapa juga bisa satu ranjang dengan gadis pecicilan itu. Ini juga, kenapa aku gak pake baju? Sial sial sial!

__ADS_1


...~Bersambung~...


Jangan lupa sawerannya ya kakak! Yang punya vote boleh dihibahkan daripada hangus. By the way any way busway apapun dukungan dari kakak readers semua, Othor ucapkan terima kasih.


__ADS_2