
Setelah perbincangan di rumah Keluarga Putra, Dave dan Tasya pun diambil sampel darahnya untuk dicocokkan. Setelah seminggu pengambilan sampel darah itu, terbukti kalau Dave dan Tasya dari garis keturunan yang sama. Entah perasaan seperti apa yang kini Tasya rasakan. Karena sesungguhnya, dia tidak berharap kalau ternyata masih bersaudara dengan Devan.
"Tasya, meskipun kita belum lama saling mengenal satu sama lain. Tetapi ternyata, kita sama-sama memiliki darah Pradipta yang sama. Kamu jangan sungkan sama Om. Mulai saat ini, Om yang akan jadi wali kamu."
"Terima kasih, Om. Tapi itu tidak perlu. Cukup tahu saja kalau aku keturunan Pradipta. Om tidak usah melakukan banyak hal untuk aku," ucap Tasya dengan suara yang bergetar.
"Tidak, kamu berhak mendapatkan apa yang dimiliki oleh Keluarga Pradipta. Meskipun sekarang Keluarga itu sudah tidak ada," ucap Dave. Dia menundukkan kepalanya. Rasa malunya memiliki ibu dan kakek nenek yang sudah berbuat jahat pada Keluarga Putra membuat dia enggan memakai nama keluarganya.
"Tidak usah, Om. Aku menolaknya. Keberadaan ayahku tidak mereka ketahui. Aku merasa tidak pantas untuk menerima pemberian dari Om." Lagi-lagi Tasya menolak.
"Baiklah! Tapi boleh kan kalau Om jadi wali kamu?"
Aku merasa tidak percaya masih memiliki hubungan darah dengan Keluarga Devan. Apalagi dengan papanya yang bule itu. Kalau papanya berwajah asia sepertiku, mungkin aku masih bisa mempercayainya, batin Tasya.
"Baik, Om! Terima kasih untuk kebaikan Om," ucap Tasya.
"Baguslah kalau begitu. Devan cepat antar Tasya bereskan baju-bajunya. Mulai hari ini dia akan tinggal di rumah kita," suruh Dave.
"Apa? Maksud Om?"
"Kamu sudah setuju Om jadi wali kamu. Jadi kamu harus tinggal di rumah Om, agar Om bisa menjaga kamu," jelas Dave.
Devan hanya tersenyum dalam hati. Akhirnya dia bisa membawa Tasya ke rumahnya. Dengan semangat empat lima, pemuda tampan itu mengantar Tasya ke rumahnya.
"Van, memang tidak apa aku tinggal di rumah kamu?" tanya Tasya ragu.
"Gak apa, mamaku orangnya baik kho!" sahut Devan.
"Aku khawatir akan merepotkan keluarga kamu," ucap Tasya.
"Tidak akan. Kamu jangan sungkan begitu. Kita kan masih keluarga," ucap Devan.
Keduanya langsung terdiam saat Devan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana. Tanpa bicara lagi, Tasya langsung ke luar mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Disusul oleh Devan setelah pemuda itu mengunci mobilnya terlebih dahulu.
Tasya langsung mengemasi baju-bajunya yang tidak seberapa banyak itu. Setalah di rasa siap, dia pun langsung berbalik berniat untuk menemui Devan. Namun, betapa kagetnya gadis itu saat mendapati Devan tepat berada di belakang tubuhnya.
"Hati-hati," ucap Devan dengan merangkul pinggang Tasya saat gadis itu hilang keseimbangannya.
__ADS_1
"Ka-kapan kamu masuk? tanya Tasya gugup.
"Tadi, saat kamu membereskan baju," jawab Devan seraya membenarkan posisi berdiri Tasya.
"Makasih," ucap Tasya dengan pipi yang bersemu merah.
"Pipi kamu merona, apa kamu suka sama aku?" Devan menggoda Tasya dengan menaik-turunkan alisnya.
"Pede banget kamu!"
"Hahaha ... Ternyata benar adik sepupu menyukai kakak sepupunya. Tenang saja, aku bisa minta Papa untuk ...." Devan tidak melanjutkan ucapannya saat tangan Tasya membekap mulutnya.
Perlahan Devan menurunkan tangan itu dengan mata yang menatap lekat wajah khas asia yang mendominasi wajah cantik Tasya. Dengan mata sipitnya dan alis yang melengkung terlihat rapi. Entah setan datang dari mana, perlahan Devan menurunkan tangan Tasya yang membekapnya. Dengan kepala yang semakin menunduk dan terus menunduk. Hingga saat jarak tinggal beberapa senti lagi, Tasya pun memejamkan matanya.
Dada keduanya bergemuruh hebat, seperti ada sesuatu yang ingin dilepaskan. Hingga saat bibir keduanya saling menempel, Devan pun mulai menyesapnya sedikit demi sedikit. Ini memang bukan pengalaman pertama baik untuk Devan maupun Tasya. Sampai akhirnya dua insan itu larut dalam permainan yang tanpa sadari mereka lakukan.
"Maaf!" ucap Devan setelah melepaskan pagutannya.
"Tidak apa, salahku juga. Ayo!" jawab Tasya datar. Hatinya merasa tercubit saat Devan mengucapkan kata maaf. Entah kenapa dia merasa tidak senang saaat pemuda itu merasa menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan.
Kamu jangan berharap terlalu tinggi, Tasya. Dia tidak mungkin memiliki perasaan yang lebih kepadamu. Kebaikanmu yang membuat aku berpikir untuk menggantungkan hidupku padamu. Meskipun aku tahu kalau kamu lebih muda dariku, batin Tasya.
Selama perjalanan pulang. Baik Devan maupun Tasya tidak ada yang bersuara. Mereka berdua bungkam larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai mobil yang Devan bawa berhenti di depan sebuah rumah yang megah, barulah pemuda itu bersuara.
"Pak Kumis, gerbang," teriak Devan.
Bukan hal yang aneh buat saatpam di rumahnya. Jika ada ang berteriak meminta dibukakan gerbang, sudah pasti tuan muda di rumah itu. Karena yang lainnya hanya menyalakan klakson mobil.
"Pak Kumis, sini dulu!" Lagi-lagi Devan berteriak saat melihat gerbang rumahnya sudah terbuka.
"Ada apa lagi, Den?" tanya Pak Kumis.
"Tolong beliin bakso yang ada di depan perumahan. Tasya kamu mau gak?"
"Boleh deh!"
"Dua ya, jangan lupa saus sambalnya dipisah. Sama beliin tempe bandung dan rampeyeknya juga. Ini uangnya, kembaliannya buat Pak Kumis." Devan pun memberikan tiga lembar uang kertas yang berwarna merah muda pada Pak Kumis.
__ADS_1
"Siap Den!"
Lumayan kembaliannya banyak, batin Pak kumis.
Setelah memberikan uang pada satpam rumahnya, Devan pun melajukan kembali mobilnya. Dia memarkirkannya tepat di belakang mobil papanya. Rupanya Dave langsung pulang setelah tadi bertemu di rumah sakit.
"Devan, kenapa kamu menyuruh satpam itu untuk membeli bakso. Bukankah tadi kita melewatinya?"
"Sengaja, biar Pak Kumis ada uang tambahan. Kalau kita sengaja memberinya, nanti kebiasaan dan terus menerus mengharapkan diberi. Sudah yuk! Papa dan Mama pasti sudah nunggu di dalam," ajak Devan.
Devan pun langsng keluar dari mobilnya. Diikuti oleh Tasya yang terus menguntitnya dari belakang. Setibanya di dalam, terlihat mama dan papanya sedang menonton televisi dengan Dave tiduran di paha istrinya. Sementara mamanya Devan, dengan setia menyuapi buah anggur hijau pada suaminya. Tasya langsung mematung di tempatnya. Seumur-umur, dia belum pernah melihat orang tuanya semesra itu.
Sementara Devan langsung menghampiri mamanya dan mencium wanita yang sudah lewat empat puluh tahun itu. Tentu saja Dave langsung bangun dari tidurnya saat menyadari putranya sudah datang. Dia melihat ke arah pintu tengah dan nampak di sana Tasya sedang mematung sendiri.
"Tasya sini! Kenalin ini istri Om. Namanya Sevia. Panggil saja Tante Sevia," Dave langsung merangkul istrinya yang sudah diambil alih oleh Devan.
"Sore, Tante!" sapa Tasya.
"Sore, Sayang. Keponakan Papa cantik, matanya sipit seperti orang jepang," puji Sevia.
Memang Tante Yura memiliki darah jepang. Tapi sayang nasibnya sangat tragis. Makanya aku ingin merangkul gadis ini, karena aku tidak ingin ada Yura Yura yang lain yang memiliki darah Pradipta, batin Dave.
"Tentu saja cantik, Om-nya juga tampan. Makanya Mama tergila-gila sama Papa."
"Mulai deh narsisnya Papa keluar, padahal aku yang paling tampan di rumah ini."
"Anak sama Papa sama narsisnya. Maaf ya Tasya, mereka memang terkadang seperti itu."
"Tidak apa, Tan. Aku malah senang melihat kehangatan keluarga ini."
"Ayo Tante tunjukkan kamar kamu. Biarkan saja mereka berdua. Akan pusing jika kita melihatnya terus," ajak Sevia seraya merangkul pundak Tasya.
Hati gadis itu menghangat dengan apa yang dilakukan oleh mamanya Devan. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik yang membuat dia keluar dari pekerjaan yang menyeramkan itu. Apalagi, kini dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, Meskipun itu bukan keluarganya sendiri.
Ayah, terima kasih sudah memiliki keluarga sebaik Om Dave. Aku janji akan jadi anak baik, agar ayah tenang di alam sana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....