Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 83 Mahakarya Diandra


__ADS_3

" Beneran? Tumben kamu minum kopi. Bukankah kamu tidak suka minum kopi?" tanya Sevia heran.


"Anu Mah, tadi pas makan siang ada pelayan yang tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajuku." Bohong Davin.


"Benarkah? Pasti kulitmu merah. Ayo Mama obati!" Sevia langsung panik. Dia pun segera mengambil kotak obat yang ada di laci meja kerja putranya.


Melihat semua itu, Davin hanya memejamkan mata. Berharap mamanya tidak menemukan sesuatu yang dia sembunyikan. Sementara Dave langsung memalingkan muka menahan tawa dengan apa yang dilihatnya.


"Pah, tumben gak kerja?" tanya Davin saat melihat papanya sedang menahan tawa.


"Papa ambil cuti. Katanya Mama mau pulang kampung. Mau nyekar ke makam eyang. Makanya kita ke sini mau ajakin kamu dan Diandra untuk ikut pulang kampung," jawab Dave.


Saat Davin ingin bicara, Sevia datang dengan kotak obat di tangannya. Pemuda itu pun mengurungkan niatnya untuk membuka suara. Dia memilih diam, menerima apapun yang Sevia lakukan.


"Cepat buka bajunya, bagian mana yang tertumpah kopi?" tanya Sevia.


"Gak usah deh, Mah. Gak apa-apa," tolak Davin.


"Gak bisa, bagaimana kalau kulit kamu jadi kaya luka bakar. Kalau dibiarkan nanti infeksi," paksa Sevia.


"Iya, Vin. Nurut saja sama mama kamu. Papa juga kalau kenapa-napa diobatin sama mama pasti langsung sembuh," ucap Dave seraya merentangkan tangannya di sandaran sofa.


Papa apa-apaan sih? Malah jadi kompor meleduk. Bukannya Papa ngertiin kek, batin Davin.


"Ayo cepat buka bajunya! Mama buru-buru mau pulang kampung," suruh Sevia.


Davin perlahan membuka kembali kemeja. Namun, baru saja dia membuka beberapa kancing kemeja. Mamanya sudah memekik kaget saat melihat tanda merah di dadanya.


"Davin, kamu main cewek?" tanya Sevia dengan nada mengintimidasi. "Atau kamu ... Gadis mana yang sudah kamu nodai? Mama tidak mau tahu, kamu harus membawa gadis itu ke rumah. Dengar Davin! Kamu boleh patah hati karena Dian tidak menerima cinta kamu tapi kamu jangan merusak anak gadis orang untuk melampiaskan kekesalan kamu," lanjutnya.


"Nggak, Mah. Gak merusak anak gadis orang. Tadi aku gatal jadi aku cubit-cubit sendiri agar gak gatal," kilah Davin.


"Serius kamu? Jangan sampai Mama tahu kalau kamu sedang berbohong," tegas Sevia.

__ADS_1


Glek


Davin menelan ludahnya kasar. Dia tidak tahu bagaimana reaksi mamanya dan mamanya Diandra kalau mereka menikah diam-diam. Dia khawatir kalau mamanya tidak menyetujui karena dia masih usia anak sekolah. Sehingga akan menjauhkan Diandra darinya. Meskipun hanya untuk sementara.


"Sudahlah, Mah. Ayo kita berangkat! Rani pasti sudah menunggu. Oh iya, Davin, bilang sama Diandra nanti menyusul ke kampung. Nenek dan kakeknya sudah kangen," ucap Dave menengahi.


"Apaan sih, Pah? Mama sedang nasehatin anak mama biar tidak kebablasan meskipun tinggal lama di negara barat," sanggah Sevia.


"Sayang, kalau masalah kebablasan atau enggak tergantung masing-masing orangnya. Buktinya Papa juga lama tinggal di luar negeri saat seusia Davin, tapi tidak pernah melakukan hal di luar batas. Bahkan Mama yang pertama kali merasakan dan melihat barang pusaka Papa," ucap Dave.


"Malu, Pah. Jangan bilang-bilang depan anak," ucap Sevia dengan pipi yang merona.


"Sayang, justru biar Davin mengerti agar bisa menjaga diri. Agar gadis yang pertama kali dia sentuh itu istrinya," ucap Dave lagi.


"Tenang saja, Pah! Aku kan anak Mama dan Papa, sudah pasti merasakan nikmat dunia itu dengan istriku." Davin tersenyum lebar merasa bangga pada dirinya sendiri.


"Ya sudah, Mama dan Papa berangkat dulu. Tadi nelpon kamu gak diangkat, Dian juga sama. Nanti suruh Dian agar menyusul ke kampung," ucap Sevia.


"Iya, Mah. Nanti kalau Dian kembali pasti aku sampaikan," ucap Davin seraya merapikan kembali bajunya.


"Mama, tadi kopinya kena jas. Hanya saja aku risih tadi disentuh oleh pelayan itu makanya aku mandi," ucap Davin, lagi-lagi dia berbohong.


Setelah berpamitan, Sevia pun langsung pulang bersama dengan Dave. Namun, saat tiba di ambang pintu, Dave menghentikan langkahnya dan menepuk pundak putranya. Dengan setengah berbisik, Dave bicara pada putranya.


"Jangan keseringan bermain di kantor! Kamu seorang bos di sini, harus bisa jaga image agar karyawan kamu segan," ucap Dave pelan.


"Iya, Pah!" sahut Davin.


Setelah kepergian mama papanya, Davin pun kembali masuk ke dalam ruang pribadinya. Nampak di sana Diandra yang sedang tertidur pulas. Pemuda tampan itu, duduk di tepi tempat tidur dengan badan menghadap ke arah wajah Diandra.


"Ternyata kamu liar juga, Dian. Aku baru sadar kalau kamu sudah menandai aku sebagai milik kamu. Tanpa kamu tandai pun, kamu sudah memiliki aku sepenuhnya. Jujurlah pada hatimu, kalau kamu pun menginginkan aku," gumam Davin.


Perlahan Diandra membuka matanya saat mendengar suara Davin berbicara. Berkali-kali dia mengerjakan matanya, menyesuaikan cahaya. Saat kesadarannya sudah terkumpul semua Diandra pun langsung bangun dan duduk berhadapan dengan Davin.

__ADS_1


"Apa Om dan Tante sudah pulang?" tanya Diandra.


"Sudah. Kita disuruh menyusul ke kampung. Dian, tadi mama melihat ini," tunjuk Davin pada dadanya.


"Aku juga melihatnya," ucap Dian yang tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Maksud aku, mama melihat tanda cinta di tubuh putranya." Davin membuka satu persatu kancing bajunya dan memperlihatkan tanda merah di dada Davin.


Diandra sempat tertegun melihat mahakarya yang dia buat tanpa sadar. Namun, secepatnya dia menutup kembali kancing baju Davin agar tidak terlihat olehnya. Sementara Davin hanya tersenyum melihat apa yang istrinya lakukan.


"Kenapa ditutup? Aku suka loh! Besok bikin yang lebih banyak lagi. Kalau perlu, sampai ke sini," tunjuk Davin pada perut bagian bawahnya.


"Apaan sih, Vin. Ngarep kamu," ketus Diandra.


"Mulut kamu pedas, tapi tubuh kamu sangat manis merespon aku. Sepertinya, aku harus bisa memaklumi." Davin pun berdiri dan akan beranjak pergi. Namun, tangan Diandra segera menahannya.


"Kenapa?" tanya Davin dengan menengokan kepalanya.


"Maaf ...," lirih Diandra.


"Untuk?" tanya Davin dengan mengangkat alisnya sebelah.


"Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Aku akan terus berusaha untuk menerima pernikahan kita. Kamu tahu, Vin? Aku masih syok dengan pernikahan kita yang sangat tidak terduga," ucap Diandra sendu.


Davin hanya diam. dia tidak berniat untuk menyela ucapan istrinya. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang istrinya inginkan.


"Mungkin harapan aku terlalu tinggi. Sehingga saat semuanya tidak seperti yang aku inginkan, aku merasa seperti terjatuh dari ketinggian. Vin, apa boleh aku memberitahu mama tentang pernikahan kita? Aku selalu merasa bersalah karena tidak jujur pada mama," ungkap Diandra.


"Kalau kamu merasa terbebani karena merahasiakan pernikahan kita, aku tidak keberatan untuk mempublikasikan ke semua orang tentang pernikahan kita. Bagiku, kenyamanan kamu, kebahagiaan kamu yang terpenting. Tapi satu hal harus kamu ingat, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan kamu."


...~Bersambung~...


...Sawerannya dong kakak biar Author semangat updatenya....

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong Tajir update. Yuk kepoin karya Author keren yang satu ini!



__ADS_2