Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 67 Malam pengantin


__ADS_3

Hai readers kece, untuk yang puasa dibaca malam aja ya!


Hari sudah berganti malam, bintang-bintang menghias angkasa dengan cahaya rembulan yang temaram. Nampak sepasang pengantin baru yang terlihat malu-malu sedang bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Mereka lelah karena seharian menyambut kedatangan sanak saudara yang memberikan ucapan selamat atas pernikahannya. Namun, saat keduanya akan memejamkan mata, terdengar samar-samar suara racauan kenikmatan dari kamar sebelah yang merupakan kamar Dave.


"Ah, Dave perlahan. Kamu jangan terburu-buru, sakit!"


"Kenapa sakit lagi? Bukankah kita sudah biasa mengulangnya berkali-kali?"


"Aku kan lahiran normal, punyaku dijahit setelah melahirkan."


"Baiklah, tahan sayang! Aku akan perlahan."


Ya ampun Dave! Kenapa suaranya sampai ke sini? Apa dia tidak menghidupkan peredam suara? Aku jadi malu sama Malvin. Tapi dia kenapa diam saja dan hanya memejamkan matanya, batin Zee.


"Tidurlah, Zee! Jangan terganggu dengan suara mereka. Biar mereka yang mewakilkan malam pengantin kita. Aku khawatir dengan bayi kita jika melakukannya sekarang," suruh Malvin dengan menghadap ke arah Zee yang seperti sedang melamun.


"Eh, bukan bukan begitu yang aku pikirkan." Wajah Zee langsung merona merah mendengar apa yang suaminya katakan.


"Tidak apa! Sini mendekat, sekarang kita sudah sah jadi tidak usah menjaga jarak denganku. Aku tidak bisa menengok bayi kita sekarang, jahitan di perutku baru kering." Malvin merengkuh tubuh Zee dan membawa ke dalam pelukannya. "Zee, tadi aku ditawari oleh Om Andrea untuk memegang rumah sakit yang ada di Shanghai. Apa kamu keberatan, jika kita pindah ke sana?"


"Sekarang aku istrimu, jadi ke mana pun kamu pergi pasti aku akan mengikuti kamu." Zee mengeratkan pelukannya. "Apa keluargamu sudah tahu dengan rencana kamu?" tanya Zee.


"Belum, aku berpikir kalau kita pergi jauh dari negeri ini selama beberapa tahun, Mona akan melupakan obsesinya padaku. Kalau sekarang kita berurusan dengan keluarganya, akan berdampak kurang bagus utuk usaha keluarga kita karena saat ini keluarga Mona yang sedang berkuasa," tutur Malvin.


"Baiklah, aku percaya padamu! Seandainya dulu aku menolak untuk jadi makelar cintanya Mona, mungkin masalahnya tidak akan seperti ini," sesal Zee.


"Memang salah kamu, pura-pura tidak suka padahal diam-diam sering mencari informasi tentangku." Malvin mencubit hidung istrinya gemas.


Saat keduanya sama-sama terdiam, sayup-sayup terdengar lagi suara orang yang sedang dimabuk cinta di kamar sebelah. Membuat Malvin semakin mengeratkan pelukannya pada Zee. Meskipun jiwa lelakinya sudah terpancing dengan apa yang dengarnya tetapi dia terus menahannya.


"Vin, kenapa ada yang menusuk pahaku?" tanya Zee saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.

__ADS_1


"Zee, aku sudah tidak kuat menahannya. Bolehkah aku mengambil hak aku sekarang. Aku akan pelan-pelan agar tidak menyakiti bayi kita," pinta Malvin.


"Maksud kamu?"


"Ayo kita lakukan malam pengantin kita seperti Dave dan istrinya."


Pada akhirnya dua pasangan yang sama-sama baru kembali lagi dipertemukan dengan kekasih hatinya saling berlomba melepaskan hasrat yang membuncah di dada. Malam yang panjang pun mereka lewati dengan berbagi peluh dan saliva yang mampu membuat saraf menegang namun begitu menyenangkan.


...***...


Keesokan harinya, Sevia yang sudah terbangun sedari subuh ikut membantu Bi Lina yang sedang memasak di dapur. Ibu muda itu sangat senang bisa belajar memasak karena memang dia sangat lemah dalam hal mengolah makanan. Bukan tanpa sebab Sevia kurang mahir dalam hal masak memasak, karena saat di kampung neneknya jarang memasak makanan yang enak. Paling juga tahu, tempe, ikan asin, oseng kangkung dan sayur bayam yang menjadi menu mereka sehari-hari.


"Neng Via, barbie cantiknya masih tidur?" tanya Bi Lina membuka obrolan.


"Masih, Bi! Dia anteng kalau tidur ada papanya. Biasanya kalau di rumah kontrakan, Deva sering kebangun minta digendong," jawab Sevia.


"Ikatan batinnya kuat juga ya, Neng! Sepertinya Aden Dave juga sangat menyayanginya," sahut Bi Lina.


"Alhamdulillah, Bi. Memang dulu Dave sangat berharap untuk memiliki seorang anak dan ternyata dikabulkan saat kita terpisah," Kenang Sevia saat awal-awal kehamilannya.


"Tidak, Nyonya! Bibi hanya bertanya tentang Neng Barbie," Bi Lina terlihat malu karena ketahuan mengobrol saat sedang kerja.


"Oh, iya, Cucu Tante masih tidur, Via?" tanya Icha.


"Masih, Tan!"


Kini ketiganya begitu asyik mengolah makanan seraya mengobrol. Sampai tidak terasa semua hidangan untuk sarapan sudah tersaji di meja makan. Sevia pun pamit undur diri untuk melihat putrinya dan membangunkan suami brondong yang sudah membuat dia terbang melayang semalaman.


Pemandangan pertama yang begitu menyejukkan mata saat Sevia baru masuk ke dalam kamar suaminya, nampak Dave sedang bercengkrama di dengan putri kecilnya. Devanya terlihat begitu senang tengkurap di dada papanya yang berotot. Begitupun dengan Dave yang terus mengajak putrinya bercanda.


"Dave, ayo Devanya dijemur dulu! Biar tulang-tulangnya kuat," ajak Sevia setelah duduk di samping Dave.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya Mama kamu cemburu karena dada papa kamu yang tempati. Biasanya Mama begitu betah tidur dia atas dada Papa," ucap Dave mengajak bicara pada putrinya yang langsung mendapat cubitan dari Sevia.


"Dave, bicaranya ih! Jangan diajarin yang tidak-tidak anaknya!" Sevia cemberut mendengar apa yang Dave katakan.


"Tuh lihat, sayang! Mama merajuk minta Papa cium. Putri Papa tutup mata dulu ya! Sebentar Papa mau cium Mama dulu." Dave langsung bangun dari tidurannya dan mencium bibir Sevia sekilas.


Sementara Sevia hanya membulatkan matanya tidak percaya kalau Dave akan beneran menciumnya di depan putri kecil mereka. Sevia langsung mengambil Devanya dan membawanya ke balkon membiarkan bayi kecil itu menghirup udara pagi yang masih bersih dari polusi seraya membiarkan tubuhnya menghangat karena terpaan sinar matahari pagi yang baik untuk kesehatan, sedangkan Dave langsung membersihkan dirinya sebelum dia sarapan bersama keluarga angkatnya.


Setelah ketiganya sudah rapi dan wangi Dave pun membawa anak dan istrinya untuk turun ke bawah, karena tadi Elzio sudah memanggilnya untuk sarapan bersama. Saat sampai di bawah, nampak semua keluarga inti berkumpul di sana.


"Pagi, semuanya!" sapa Dave seraya menarik kursi untuk Sevia duduki, sedangkan Sevia hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala sebagai penghormatan kepada semua yang ada di meja makan.


"Pagi," sahut semua orang yang sudah duduk di sana.


"Via, biar Devanya dititipkan dulu dengan Bi Minah. Sebentar Tante panggilkan!" Icha langsung beranjak pergi memanggil salah satu pekerja di rumahnya agar menjaga Devanya di saat Sevia sedang makan.


Tak berapa lama kemudian, Icha pun kembali dengan Bi Minah yang akan menjaga Devanya. Bayi kecil yang tidak pernah pilih-pilih harus siapa yang menggendongnya terlihat begitu senang saat Bi Minah mengajaknya ke taman belakang. Sementara Sevia dan yang lainnya menikmati sarapan pagi.


"Via, sayurnya ditambah! Biar ASI-nya subur, bukankah kamu ASI eksklusif?" tanya Icha.


"Iya Tan, Makasih!" sahut Sevia.


"ASI-nya subur nanti Dave yang makin subur, Mah!" celetuk Zee disela-sela makannya.


Uhuk uhuk


Sevia langsung tersedak mendengar apa yang Zee katakan. Dia teringat tentang percintaannya semalam bersama Dave yang begitu bergairah. Dave langsung memberikan air minumnya pada Sevia seraya mengelus punggung istrinya pelan.


"Zee, jangan membawa urusan tempat tidur ke meja makan!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya Kakak! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2