Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 19 Keano Kepanasan


__ADS_3

Hari-hari pun terus berlalu, kini hubungan Orion dan Devanya semakin dekat. Meskipun Orion tidak satu bagian dengan Devanya, tetapi setiap jam istirahat makan siang mereka pasti makan bersama. Tentu saja semua itu tidak pernah lepas dari pengawasan Keano yang diam-diam memperhatikan kedekatan Orion dan Devanya.


Aku harus bisa menolak keinginan opa untuk menjodohkan aku dengan Devanya, tidak mungkin aku menghancurkan kebahagiaan sepupuku sendiri, batin Keano.


Keano terus melihat ke arah monitor yang ada di depannya. Dia terus memperhatikan apa yang Orion lakukan bersama dengan Devanya. Semakin dia melihat kedekatan Orion dengan Devanya, entah kenapa hatinya merasa perih. Sampai Hayden masuk ke ruangannya, barulah dia menutup laptopnya dan beranjak dari kursi kebesarannya.


"Ayo kita makan siang!" ajak Hayden.


"Kita makan di mana?" tanya Keano.


"Kantin saja yuk! Aku lagi suka dengan anak magang. Biasanya dia makan di kantin," sahut Hayden.


"Anak magang? Maksud kamu?" tanya Keano kaget.


"Slow Bro! Bukan adik Barbie kamu itu yang aku suka tapi sahabatnya. Aku gak akan sanggup bersaing dengan dua pewaris perusahaan besar.Tapi entah kenapa, gadis itu seperti menutup diri," ucap Hayden.


"Maksud kamu Diandra? Kamu boleh mendekatinya tapi aku tidak mengijinkan kamu untuk mempermainkannya," tegas Keano.


"Gaklah, bos. Aku akan serius kalau dia serius," elak Hayden.


Mereka berbincang seraya berjalan menuju ke kantin. Sampai tak terasa lift yang mereka tumpangi sudah berhenti di lantai yang di tuju. Keano dan Hayden pun segera melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Setelah menemukan di mana keberadaan Devanya dan yang lainnya, Hayden pun langsung menuju ke mejanya.


"Wah enak sekali makan disuapin," celetuk Hayden saat melihat Devanya menyuapi satu sendok bakso ke mulut Orion.


"Jangan iri, Bang! Ikutin aja kalau bisa. Tuh Dian nganggur," balas Orion.

__ADS_1


"Sudah, jangan ribut!" seru Keano seraya duduk di samping Devanya sementara Hayden sengaja di samping Diandra.


"Tumben makan di sini?" tanya Devanya seraya menengok ke arah Keano.


"Hayden ingin makan bareng Dian," jawab Keano asal.


"Wah, Dian asyik punya penggemar. Baru juga sebulan magang di sini sudah dapat penggemar. Kenapa gak ada yang jadi penggemar aku?" keluh Devanya.


"Gak ada yang berani jadi penggemar kamu, Vanya. Mereka semua takut dengan dua penjaga kamu," celetuk Hayden.


"Memang aku punya penjaga? Papa kan gak ngirim pengawal buat aku," tanya Devanya.


Kamu aja yang gak tahu kalau Ano kirim pengawal bayangan buat kamu semenjak kejadian Ion di klub malam itu, batin Hayden.


Setelah pesanan makanan datang, Hayden dan Keano pun makan dengan tenang. Namun, sepertinya selera makan Keano mendadak hilang saat sudut matanya melihat Orion yang sedang mengelap bibir Devanya dengan tangannya.


"Semuanya, aku duluan!" pamit Keano seraya berdiri dari duduknya.


Hayden hanya melongo melihat kepergian sahabatnya. Baru saja makan beberapa suap tetapi Keano tidak menghabiskannya. Bukan kebiasan Keano yang tidak menghabiskan makanannya.


"Tumben Ano tidak menghabiskan makan siangnya," gumam Hayden.


"Bang Ano kenapa?" tanya Devanya.


"Aku tidak tahu," sahut Orion.

__ADS_1


"Paling juga karena kamu," tuduh Hayden dengan menunjuk Orion pakai garpu.


"Apa salahku? Aku kan sudah tidak bikin ulah lagi selama sebulan magang di sini. Aku kan sekarang jadi anak baik-baik. Benar kan, Vanya?" Orion langsung meminta pembelaan pada Devanya.


"Iya, sih tapi kamu sekarang jadi manja sama aku," jawab Devanya.


Saat mereka semua sedang memperdebatkan Keano. Orang yang sedang dibicarakannya langsung menuju ke ruang pribadinya. Dia memilih untuk menenangkan hatinya dengan mengguyur seluruh tubuhnya di bawah air shower. Ya Keano langsung mandi untuk menetralkan perasaannya.


Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat tidak suka melihat apa yang Orion lakukan pada Deva. Lebih tidak suka daripada saat melihat Orion selalu mengganggu Deva.


Setelah Keano merasa puas berada di bawah guyuran air shower, dia pun langsung mengambil bathrobe dan memakainya. Dia langsung mencari baju ganti yang cocok untuk melanjutkan kerjanya. Setelah berpakaian rapi, Keano pun langsung keluar dari ruang pribadinya. Nampak Hayden duduk di sofa sedang menunggunya.


"Segar banget Pak Bos! Pasti habis mandi nih," goda Hayden.


"Belum mulai kerja?" tanya Keano seraya melihat ke arah jam tangannya.


"Aku nunggu kamu, khawatir sahabatku akan masuk ke kolam es karena kepanasan. Lagian kamu Ano, keluarga kamu sudah setuju semua. Bahkan Om Dave pun sepertinya respect sama kamu. Kenapa kamu masih memungkiri perasaan sendiri?"


"Jangan sok tahu! Cepat sana kerja!"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


__ADS_2