
Semua perhatian yang ada di ruang kerja tertuju pada Devanya. Sedari tadi gadis cantik itu belum menentukan pilihannya. Dia masih gamang dengan pilihan yang harus dia ambil.
Tak jauh berbeda dengan Keano yang terus menatap wajah Devanya dengan harap-harap cemas. Jantung pria tampan itu berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia khawatir, Devanya memilih masuk pesantren dibandingkan menikah dengannya.
Sementara Devanya, sebelum dia memberikan jawabannya, gadis bermata biru itu mengedarkan pandangannya. Dia melihat satu persatu para lelaki yang menatapnya dengan harap-harap cemas. Dia pun menghela napas dalam sebelum akhirnya membuka suara.
"Deva akan menikah bulan depan tapi Papa harus merestui pernikahan Davin dan Diandra."
"Tidak masalah," jawab Dave.
Keano langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari kekasih hatinya. Dia semakin yakin kalau sekarang Devanya sudah bisa menerimanya dan meluapkan Orion. "Terima kasih, Deva."
"Abang jangan berterima kasih dulu! Karena Abang harus membantu Diandra dan Tante Rani jauh dari Om Harry," seru Devanya.
"Apapun akan Abang lakukan," ucap Keano.
"Sepertinya akan ada buciner baru nih selain papa," ledek Devan yang sedari tadi diam.
"Gak apa bucin sama istri sendiri asal jangan pada milik orang lain," sanggah Dave.
Uhuk uhuk
Keano langsung batuk mendengar apa yang Dave katakan. Secara tanpa sadar, Dave sudah menyindirnya karena merebut Devanya dari Orion.
"Bang gak apa-apa?" tanya Devanya.
"Gak apa, hanya gatel tenggerokkan," kilah Keano.
"Ano, nanti Om akan membicarakan lagi tentang pernikahan kalian pada Om Andrea."
"Iya, Om. Kalau begitu, Ano pamit pulang dulu. Satu jam lagi ada meeting," pamit Keano.
"Oh, iya silakan. Maaf anak-anak Om merepotkan," ucap Dave.
"Tidak apa, Om."
__ADS_1
Keano pun langsung pulang dengan diantara oleh Devanya. Setelah mengantar tunangannya, Devanya langsung menuju ke kamarnya. Dia sudah mengantuk, ingin sekali memejamkan matanya. Sampai di sana, Terlihat Diandra yang sudah tertidur di kamarnya. Sahabatnya itu, seperti habis menangis dengan sisa air mata yang masih ada di sudut matanya.
"Maafkan Davin, Dian. Tapi aku yakin, dia akan membahagiakan kamu," lirih Devanya.
Gadis bermata biru itu langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah cukup bersih, dia pun bergegas memakai baju sebelum akhirnya dia terlelap tidur.
...***...
Malam ini bintang bertaburan di angkasa dengan rembulan yang bersinar terang. Diandra nampak kikuk berada di kamar Davin. Setelah tadi sore Davin meminta untuk tidur satu kamar dengannya. Akhirnya dia pun terpaksa mengalah.
"Dian, kenapa malu-malu? Bukankah sudah biasa kita tidur satu kamar?" tanya Davin saat keduanya akan beristirahat.
"Vin, apa keluarga kamu tahu tentang pernikahan kita?" tanya Diandra.
"Hanya papa yang tahu. Dian, bukan aku ingin menyembunyikan status kita tapi Om Harry akan mudah melacak aku kalau dia tahu kita sudah menikah," ucap Davin.
"Kalau Tante Sevia, apa beliau juga tahu?" tanya Diandra.
"Tidak ada yang tahu selain papa," jawab Davin. "Sudahlah,ayo kita tidur!" ajak Davin.
Diandra mencoba memejamkan matanya. Namun tangan usil Davin memegang buah kembarnya. Gadis manis itu merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Davin. Karena seumur-umur, belum ada lelaki yang menyentuhnya.
"Kita sudah menikah, jadi apa yang kita lakukan sudah halal," ucap Davin dengan napas yang sudah memburu.
"Vin, ka-ka-kamu kan masih kecil. Ma-ma-masa sudah melakukan hal begituan." Diandra benar-benar gugup dengan apa yang Davin lakukan.
Apalagi pemuda tanggung itu memainkan buah kembarnya membuat bulu kuduk Diandra meremang. Sebisa mungkin, gadis yang belum pernah berpacaran itu menahan gejolak hasrat yang mulai bangkit karena ulah nakal suaminya.
"Da-da-vin ja-jangan. A-aku takut hamil," gugup Diandra.
"Tidak akan, aku hanya main di atas saja kalau kamu belum siap." Davin pun menciumi tengkuk Diandra, membuat pucuk buah kembarnya jadi mengeras.
"Jangan menolak aku, tubuh kamu pun menginginkannya," bisik Davin lagi.
Diandra tidak bisa berkata-kata lagi. Gadis itu terus saja bergerak meliuk-liuk dengan ulah Davin. Sementara Davin hanya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Tidak sia-sia waktu itu ikut nonton film biru bersama dengan Devan dan Ion. Ternyata bisa aku praktekan dengan istriku. Dian, aku pastikan kamu tidak akan bisa menolak sentuhan dariku, batin Davin.
Merasa Diandra sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, Davin pun langsung mengungkungnya. Pemuda tampan itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Davin langsung meraup bibir merah muda Diandra hingga mereka berebut saling mengecap saling menghisap.
Namun, saat keduanya sudah terbakar gairah. Pintu kamar Davin ada yang mengetuknya dengan sangat kencang. Meskipun pasangan pengantin baru itu tidak ingin mengindahkan suara ketukan pintu. Tetapi mereka tidak tahan mendengar suara ketukan yang berubah dengan gedoran dan teriakan dari Devan. Hingga akhirnya, Davin pun melepas pagutannya.
"Tunggu di sini, nanti kita lanjut lagi!" pesan Davin.
Diandra tidak mengiyakan apa yang suami brondongnya katakan. Dia langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Diandra sangat malu karena ternyata dia begitu menikmati sentuhan dari Davin.
Ceklek
Davin pun membuka pintu kamarnya. Nampak Devan dengan wajah yang merah-merah. Sepertinya alergi susu dia kambuh, sehingga membangunkan kembarannya malam-malam.
"Davin, antar aku ke rumah sakit. Lihat, gara-gara makan oleh-oleh yang mama bawa, alergi aku kambuh."
"Kenapa gak ajak mama papa aja?" tanya Davin kesal karena kesenangannya terganggu.
"Anjir! Kembaran gak punya hati. Mama papa sedang keluar, masa harus nunggu dia pulang dulu." Devan langsung emosi karena Davin seperi enggan mengantarnya.
"Iya iya aku antar. Sebentar bawa jaket dulu!" Davin langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak langsung mengambil jaket tetapi menghampiri Diandra terlebih dahulu.
"Aku ke rumah sakit dulu. Alergi Devan kambuh. Tidur saja jangan menunggu aku," ucap Davin lalu mencium kening Diandra.
Entah kenapa, jantung Diandra langsung berdegup kencang. Tidak biasanya dia merasakan hal seperti ini. Apalagi, seorang Davin yang membuat detak jantungnya seperti musik DJ.
Setelah mendapatkan jaketnya, Davin pun langsung menghampiri kembarannya. Dia meringis melihat Devan yang sepertinya tersiksa karena alerginya yang mendadak kambuh. Dia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya.
Untung saja aku tidak punya alergi susu. Bisa rugi kalau memilikinya. Pasti buah kembar Diandra tidak bisa aku nikmati. Padahal aku sangat penasaran ingin sekali mencicipinya, batin Davin.
Sementara Diandra menjadi tidak bisa tidur setelah kepergian Davin. Gadis itu terus saja terbayang kejadian tadi yang membuat seperti terbang melayang. Dia tidak menyangka, tubuhnya akan berkhianat pada keyakinannya yang tidak akan terjerat dengan cinta Davin.
Aku gila, benar-benar gila. Kenapa aku terus teringat dengan yang tadi?
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....