
Devanya dan Rani yang penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya, mereka pun bersama-sama menuju ke ruang tamu. Nampak di sana, tamu itu sedang dikelilingi oleh Keano dan yang lainnya.
"Ay, sini! Duduk samping Abang," ajak Keano.
Devanya hanya menurut, setelah dia membantu Diandra menyimpan minuman di meja, Devanya pun langsung duduk di samping Keano. Membuat kedua tamu itu memandang tak berkedip ke arah gadis kecil yang dulu selalu mereka panggil 'Barbie'.
"Bang, gimana rasanya menikah dengan Barbie?" tanya Elgar to the points.
"Sangat membahagiakan," ucap Keano."
"Sombong," cela Aigner.
"Kamu iri kan sama Bang Ano, sampai gak datang di acara pernikahannya," todong Elgar.
"Ck! Gak usah buka kartu kalau kamu pun sama," dengus Aigner.
"Kenapa kalian berdebat? Ay sudah jadi milik Abang, lebih baik kalian ikhlaskan putri salju kalian menjadi kakak ipar," ucap Keano.
"Bang, emang di sana gak ada cewek cantik? Sampai rebutan Kak Vanya. Padahal menurut aku, Kak Vanya biasa aja gak ada cantik-cantiknya," celetuk Devan.
"Matamu picek, Van. Cewek cantik gitu dibilang biasa aja." Orion langsung menoyor kepala sahabatnya. Dia tidak terima ada orang yang menjelekkan mantan pacarnya.
"Woy Ion, gak aku anterin nanti ketemu sama Sherly," sewot Devan.
"Sherly siapa?" tanya Devanya.
"Itu, Kak ...." belum juga devan melanjutkan ucapannya, Orion sudah membekap mulut Devan. Dia tidak ingin Devanya tahu kalau dia suka bermain-main dengan para gadis yang datang menggodanya.
"Awas saja kalau bilang-bilang sama Vanya, aku bongkar juga rahasia kamu," ancam Orion.
Saat keduanya saling berbisik, terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Diandra yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia, dia langsung keluar untuk melihat siapa yang datang. Matanya langsung berbinar saat melihat Rani keluar dari mobil bersama dengan bayi kecilnya. Diandra pun langsung menghampiri mamanya.
"Welcome to the house, my cute baby." Diandra langsung mengambil alih adiknya. Dia begitu senang bisa memiliki bayi kecil meskipun itu hanya adiknya, bukan anaknya sendiri.
Semua orang mengucapkan selamat datang pada bayi cantik itu. Mereka menaburkan kelopak bunga tujuh rupa untuk menyambut kedatangan bayi cantik itu di Keluarga Pattinson. Selain bunga, ada juga uang kertas yang sengaja disawer. Sehingga para pekerja rumah berebut untuk mendapatkan uang saweran.
Orion dan Devan yang melihat keseruan berebut, mereka pun ikut-ikutan para pekerja. Namun, sayang, keahliannya berebut uang saweran kalah jauh dengan para pekerja itu. Sehingga mereka berdua tidak mendapatkan uang saweran sepeser pun.
__ADS_1
Devanya hanya tersenyum melihat semua itu. Tangannya terus menerus mengelus perutnya yang masih rata. Dia membayangkan jika nanti dia sudah melahirkan dan membawa bayi kembarnya ke rumah.
Baik-baik di perut Mommy ya! Kita berjuang bersama, agar kalian selalu baik-baik saja selama ada dalam kandungan. Mommy dan Papi akan menunggu dengan sabar kelahiran kalian, batin Devanya.
Sementara Keano hanya diam mematung di tempatnya. Dia merasa heran dengan kelakuan Orion dan Devan. Kenapa kedua adiknya itu seperti tidak bisa menjaga image. Padahal Orion memiliki posisi penting di perusahaan.
...***...
Malam harinya Suasana rumah Harry nampak begitu meriah. Setelah tadi dia mengadakan acara syukuran dengan mengundang ustadz dan anak santri ke rumahnya, kini mereka mengadakan pesta penyambutan kedatangan putrinya dengan mengundang kerabat terdekat. Semua bersuka cita bersama. Namun, ada satu orang yang merasa tidak suka dengan kemeriahan pesta itu.
Ya, Nyonya Yenita hanya berdiam diri dengan sepiring kue-kue cantik yang enak di lidah. Dia seperti mengasingkan diri dari orang-orang yang datang ke acara pesta kecil-kecilan itu. Sehingga Mitha yang menyadari kalau sahabatnya seperti tidak menikmati pesta yang diadakan oleh Harry, dia pun langsung menghampiri Yenita.
"Kamu kenapa, Yen? Kho gak gabung?" tanya Mitha seraya mendudukkan bokongnya di samping Yenita.
"Aku gak suka dengan menantuku itu. Kenapa Harry harus menikah dengan wanita kampung itu? Padahal dia memiliki banyak uang meskipun tidak sebanyak keluarga kamu tapi pasti banyak wanita cantik yang mau menikah dengan dia," ungkap Yenita.
"Aku juga wanita kampung, Yen. Apa kamu lupa, kalau dulu aku gak punya apa-apa? Bahkan sekolah pun mengandalkan beasiswa," tanya Mitha.
"Nasib kamu yang mujur, Tha. Bisa menikah dengan Andrea. Meskipun awalnya aku tidak menyangka kalau Andrea anak orang kaya. Sedangkan aku? Kamu tahu sendiri bagaimana nasib pernikahanku."
"Bukan masalah mujurnya, tapi aku dan Rani tidak jauh beda. Kamu jangan menyamakan Rani dengan pembantu kamu itu. Meskipun mereka sama-sama dari kampung tapi Rani jauh berbeda dengan pembantu kamu yang telah merebut suami pertama kamu," tutur Mitha.
"Yen, kamu jangan percaya pada omongan dari satu pihak saja. Apa kamu sudah bertanya pada Harry kenapa dia sampai berpisah dengan Nadine?"
"Tidak, aku hanya tahu setelah dia bercerai dengan Nadine, Harry langsung membawa perempuan itu dengan anaknya."
"Itulah, kamu terlalu suka sama Nadine sehingga begitu mudah percaya dengan kebohongannya."
"Apa yang Tante Mitha katakan itu benar. Selama ini Mama telah salah paham sama Rani. Asal Mama tahu, bukan aku yang sudah mengkhianati Nadine tapi dia sendiri," timpal Harry yang tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu sambungnya.
Dengan terpaksa, Harry pun menejelaskan kenapa dia sampaiberpisah dengan Nadine dan membawa Gavin bersamanya, hingga akhirnya dia menikah dengan Rani.
Yenita yang mendengar penjelasan Harry hanya diam tidak berkutik. Dia merasa malu karena telah salah menuduh orang. Dia tidak menyangka, kalau selama bertahun-tahun sudah termakan oleh kebohongan Nadine.
"Kamu dengar, Yen. Selama ini kamu sudah salah paham. Sebaiknya kamu meminta maaf pada Rani. Kita sudah tua, sudah waktunya menitipkan diri pada anak-anak kita," ucap Mitha.
"Tapi aku malu, Tha." Yenita menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak usah malu, ayo aku temani!" ajak Mitha.
Setelah Mitha memberi kode pada Harry, mereka pun pergi menemui Rani yang sedang berada di kamar. Busui itu sedang asyik memberikan smber kehidupan pada putrinya. Hingga saat melihat Mitha dan Yenita datang, dia pun langsung tersenyum ramah.
"Maaf Tante, pestanya aku tinggal dulu," ucap Rani.
"Tidak apa, Gwen anaknya anteng ya!" sahut Mitha.
"Iya, Tan. Dia nangis kalau ingin mimi. Silakan duduk!" suruh Rani.
"Rani, Mama ke sini ... Mama ke sini ... Sebenarnya ingin minta maaf. Mama selama ini sudah salah paham. Mama juga minta maaf karena dulu pernah memihak pada Nadine. Tapi untuk obat yang Anne berikan, Mama tidak tahu menahu." Meskipun dia merasa malu harus mengakui kesalahannya, tetapi akhirnya Yenita bicara dengan lancar di depan Rani.
"Iya, Mah. Aku sudah memaafkan Mama, sebelum Mama minta maaf sama aku." Rani tersenyum manis pada ibu mertuanya. Meskipun dia sering kali sakit hati dengan ucapan Yenita, tetpai Rani tidak ingin menyimpan dendam di hatinya.
"Terima kasih," ucap Yenita
Hatinya merasa plong mendengar menantu yang dia benci tidak menyimpan dendam padanya. Yenita pun bertekad untuk merubah sikapnya pada Rani. Karena memang benar adanya apa yang sahabatnya katakan kalau dia harus bisa menitipkan diri pada Harry dan Rani karena dia sendiri tidak memiliki anak kandung.
"Kalau begitu, Tante kembali ke sana ya. Kalian ngobrol saja berdua. Mungkin Yeni ingin menggendong cucunya," ucap Mitha. Dia ingin memberi ruang pada Yenita dan Rani untuk saling menyelami hati masing-masing. Agar kedepannya tidak ada lagi salah paham di antara keduanya.
"Iya, Tan. Silakan dinikmati pestanya," ucap Rani.
Setelah kepergian Mitha, Yenita menghela napas untuk mengumpulkan keberaniannya mendekati Rani. "Boleh Mama menggendongnya?" tanya Yenita.
"Boleh, Mah. Gwen pasti senang digendong oleh Omanya." Rani pun memberikan putrinya agar digendong oleh Yenita.
Meskipun ragu, Yenita mengambil alih Gwen dari gendongan Rani. Dia tersenyum melihat bayi kecil itu. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menggendong bayi. Karena dulu, dia hanya menggendong Gavin beberapa kali saja.
"Wajahnya mirip sekali dengan Gavin saat masih bayi," ucap Yenita.
"Iya, Mah. Waktu hamil saja manja sekali pada Gavin," jelas Rani.
"Rani, apa kamu tidak membenci mama? Bukankah selama ini, Mama sering menyakiti kamu?"
"Mungkin dulu iya, tapi aku sudah ikhlas dengan semua yang mama lakukan padaku. Karena perasaan benci dan dendam hanya akan membuat hidup tidak tenang. Sedangkan aku, aku hanya ingin hidup tenang, damai dan bahagia di sisa hidupku. Aku tidak ingin menjadi seorang pendendam yang malah merugikan diri sendiri."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....