
Setelah Orion didakwa oleh Opa Zidan, pemuda itu tidak langsung pulang ke apartemen miliknya. Dia memilih pergi untuk menemui sahabatnya Devan. Acara pernikahan yang begitu mendadak itu, membuat merasa sedikit tertekan.
"Sial banget hidup aku, Van. Sudah gak bisa nikah dengan Vanya, sekarang malah harus nikah cepat-cepat dengan Luna. Lihat! Gara-gara ini semua mereka mau nikahin aku sama dia," keluh Orion dengan memperlihatkan dadanya di pada Devan.
"Hahaha ... Luna keren bisa bikin tanda sebanyak itu. Gila! Badan kamu Ampe penuh gitu," seru Devan.
"Tahu tuh, di mana pikiran dia? Kenapa harus secepat itu?"
"Itu hanya jalan aja Ion. Lihat jari tangan kamu! Ada cincin tunangan, kan? Bukankah sebelumnya kamu sudah setuju untuk nikah sama dia? Harusnya gak ada masalah kalau kamu nikah juga. Lagian Luna cantik dan menggemaskan menurutku. Yang penting, dia belum terkontaminasi oleh lelaki manapun. Coba aja kamu cium dia, pasti kikuk!"
Selesai Devan bicara, Tasya masuk ke dalam ruangan Devan. Gadis itu tanpa sengaja mendengar apa yang Devan katakan. Membuat dia merasa malu sendiri karena dia pernah menjadi ayam kampus.
"Maaf, Pak! Ini laporannya," ucap Tasya.
"Makasih, tolong simpan di meja!" sahut Devan.
"Baik, Pak! Permisi." Tasya langsung kembali ke mejanya setelah dia menyimpan laporan yang dibawanya.
Sementara Devan hanya menatap punggung gadis itu sampai hilang di balik pintu. Orion yang tidak sengaja melihat arah pandang Devan, langsung mengeryitkan keningnya heran.
"Kamu suka sama dia? Yang benar aja, Van. Kita udah sepakat untuk memberikan cinta kita dan menikah dengan gadis yang masih bersegel. Apapun yang kita lakukan dengan gadis-gadis itu just for fun," ucap Orion.
"Luna sepupu aku, ege!" Devan langsung menoyor kepala Orion.
"Jangan gila, Brother! Saking sukanya sampai ngaku-ngaku jadi sepupunya," ledek Orion.
"Kamu yang gila! Makanya jangan sibuk main dengan gadis-gadis itu. Sampai tidak tahu berita yang up to date."
"Seriusan? Dia sepupu kamu? Pantas saja gak ikutan sama cabe-cabean itu lagi."
"Iya, Orion Putra Pratama! Sudah pulang sana! Aku mau kerja. Memang kapan kamu nikah?"
"Minggu depan."
"Apa? Secepat itu?"
"Iya, Ege. Makanya aku ngeluh. Dasar punya sohib gak setia kawan. Apa jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta dengan sepupu kamu itu jadi fokus kamu hanya pada gadis itu?" tanya Orion seraya menyelidik wajah Devan. "Fix! Kamu beneran sedang jatuh cinta sama dia."
"Aku gak tahu, tapi Tasya tidak pernah menolak saat aku cium. Jadinya aku keterusan," bisik Devan.
"Apa??!! Sedekat itu yang namanya sepupu?" pekik Orion.
Devan langsung membekap mulut sahabatnya. Dia tidak ingin kalau sampai suara Orion terdengar oleh Tasya. Namun, secepatnya Orion menghempaskan tangan Devan.
"Engap, Bege! Dahlah aku balik, jangan lupa kasih tahu Om Dave dan yang lain untuk datang di MP hotel Minggu depan!" Orion langsung berlalu pergi meninggalkan Devan di ruangannya.
__ADS_1
Namun, saat dia tiba di meja Tasya, Orion menghentikan langkah kakinya. Menyelidik Tasya yang sedang sibuk mengetik dengan mata fokus ke arah monitor. Dia pun sedikit mendekat ke arah Tasya.
"Hallo sepupu! Aku gak nyangka kamu sepupu tercintanya Devan. Tapi aku minta, kamu jangan sampai mempermainkan perasaan dia. Kalau sampai itu terjadi, aku gak akan segan mempersulit hidup kamu." Orion langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Tasya yang termenung di tempatnya.
Atas alasan apa aku harus mempermainkan dia? Sementara namanya sudah tersimpan rapi di hatiku. Entah apa yang akan terjadi besok tapi aku tidak bisa menghentikan kegilaanku dengan Devan. Maaf Om, kalau aku mencintai putramu, batin Tasya.
Gadis itu memejamkan mata dengan tangan menekan dadanya. Sungguh dia merasa takut jika nanti Dave sampai mengetahui perasaannya. Karena Tasya benar-benar sudah merasa nyaman tinggal bersama dengan mereka.
"Tasya kamu kenapa?" tanya Diandra yang baru datang dengan Davin.
"Eh, Dian. Gak apa-apa kho! Kalian mau keluar?" tanya Tasya gugup.
"Iya, tadi Deva nelpon, katanya ditunggu di penthouse. Mau yoga di sana. Biar Bang Ano bisa melihat langsung kegiatan istrinya," jelas Diandra.
"Oh, salam saja untuk Deva. Perutnya sudah kelihatan membuncit ya! Semoga persalinan kalian lancar dan selamat ibu dan bayinya."
"Aamiin."
"Sayang, aku masuk dulu mau ketemu Devan," pamit Davin.
"Oh iya, aku di sini aja ya!"
Saat Davin masuk ke dalam ruangan Devan, Diandra pun mendekat ke arah Tasya. Dengan sigap Tasya mengambil kursi agar Diandra bisa duduk di dekatnya. Setelah sama-sama duduk, barulah Diandra berbicara.
"Kamu ada-ada saja. Ya pasti dekat, selain satu rumah, kita juga kerja sebagai atasan dan bawahan di kantor," elak Tasya.
"Kamu suka ya sama Devan?" tanya Diandra asal nebak.
"Bisa aja kamu nebaknya. Tuh suami kamu sudah keluar!" tunjuk Tasya saat melihat Davin dan Devan keluar dari pintu.
"Oh, kalau gitu aku berangkat dulu ya! Ingat loh, kamu hutang jawaban sama aku. Nanti aku tagih ya!" Diandra langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Davin.
"Astaga berasa kredit panci sama Abang keliling, yang tiap hari digedorin buat bayar utang," gumam Tasya.
"Hutang jawaban apa?" tanya Devan yang sudah berdiri di depannya setelah kepergian saudaranya.
"Gak ada! Dari tadi aku gak kerja-kerja nih," keluh Tasya.
"Ke ruangan aku sebentar!" pinta Devan seraya pergi meninggalkan gadis itu.
Mau tak mau Tasya pun mengikuti Devan dari belakang. Saat dia sudah masuk ke dalam ruangan bos-nya itu, Devan langsung mengunci ruangannya. Pemuda tampan itu menarik tangan Tasya untuk duduk di sofa.
"Tadi Ion bilang apa sama kamu?" tanya Devan.
"Gak ada! Dia hanya say hello saja. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Serius? Lalu kenapa kamu memegang dada kamu? Apa dia mengatakan hal yang tidak-tidak?"
"Gak ada! Dia hanya belum percaya sama aku. Aku maklum dia bersikap begitu. Mungkin karena masa lalu aku ...."
"Sudah jangan diteruskan! Aku ngerti," potong Devan dengan menempelkan telunjuknya ke bibir Tasya.
Gadis itu menurunkan tangan Devan dari bibirnya lalu berkata, "Van, sebenarnya aku khawatir mama dan papa kamu sampai tahu kalau kita ...."
"Kamu tenang saja paling juga disuruh kawin, eh salah nikah. Hahaha ... lucu ya, nanti kayak Davin masih kecil sudah jadi bapak." Bukannya ikut khawatir, Devan malah menanggapinya dengan candaan.
"Kamu mah gak bisa serius, apa aku juga hanya candaan kamu?" Tasya memandang lekat pemuda yang mampu membuat hari-harinya lebih berwarna.
"Mana mungkin, kalau hanya candaan mana mungkin kita sejauh ini. Tasya, aku gak ngerti cinta. Aku hanya tahu rasa sayang dan perasaan ingin menjaga. Aku juga hanya tahu, kalau aku menginginkan kamu untuk selalu bersamaku." Devan semakin merapatkan tubuhnya hingga setan menggodanya agar secepatnya meraup bibir tipis yang berjarak lima senti itu.
Sampai akhirnya, kedua anak muda itu saling melepaskan perasaan yang membuncah di dada. Hingga suara decakan kini memenuhi ruangan. Untung saja kantor Devan dipasang peredam suara sehingga orang luar tidak akan tahu apa yang terjadi di dalam. (Makanya Devan jangan coba-coba, keterusan kan?)
Sementara Diandra yang sudah tiba di penthouse harus disuguhkan dengan pemandangan yang di luar dugaannya. Bagaimana tidak? Pangeran berkuda putihnya, yang dulu terasa sangat sulit untuk dijangkau, terlihat sedang memijat kaki Devanya.
Keano dengan setelan jas necisnya, mendadak harus beralih profesi jadi tukang pijat dadakan saat sang istri tercinta mengeluh pegal-pegal. Devanya sendiri malah asyik makan salad buah seraya berselancar di dunia Maya.
"Asyik bener bumil dipijitin," sarkas Diandra.
"Hai adik ipar! Sudah datang, mau salad buah? Ada di kulkas noh! Davin ambilkan sana!" suruh Devanya dengan kaki yang masih anteng di atas paha Keano. "Abang, kalau udah pegal, gak papa udahan saja."
"Gak apa, Ay. Abang senang bisa mengurangi beban kamu," sahut Keano dengan tangannya yang masih asyik memijat kaki Devanya.
So sweet banget Bang Ano! Tapi Davin juga gak kalah sweet. Apalagi kalau sudah di atas tempat tidur. Berkali-kali sweet-nya, batin Diandra.
"Kita rujakan aja dulu, Dian. Mulai yoganya masih satu jam kho!" ujar Devanya.
"Apa Kak?! Masih satu jam?!" pekik Davin kaget.
"Iya, tadi sengaja diundur karena kakak ingin makan rujak dulu sama Dian. Orangnya malah sedang mencari rujak bebek," jawab Deva cuek.
"Astaga Kakak! Tahu gitu aku meeting dulu. Kenapa gak bilang dari awal?" tanya Davin dengan menahan kesalnya.
"Mana Kakak tahu kamu ada meeting. Sudah mending pijat punggung Kakak saja!" suruh Devanya.
"Jangan! Biar Abang saja."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1