
Rani yang tidak sengaja mendengar apa yang Harry katakan pada pengawal, yang tadi ikut bersama dengan Dave, dia langsung menghampiri Harry dan bicara pada suaminya. "Harry, apa tidak keterlaluan kamu mau membuang dia ke hutan? Dia tidak menyakiti putramu, dia hanya kecewa karena tidak bisa memiliki kamu. Ingat Harry, selama ini dia sudah merawat Gavin dengan baik. Apa saat aku melakukan suatu kesalahan, maka hukumannya akan fatal?"
"Rani, aku tidak akan seperti itu." Harry sangat terkejut saat menyadari Rani ada di belakangnya. Dia tidak ingin membuat Rani menjadi takut padanya, Harry pun dengan terpaksa merubah perintahnya
.
"Pengawal antar saja dia ke kampung halamannya! Tapi tidak usah sampai rumahnya, kalian turunkan saja di perbatasan desa."
"Baik, Bos!" Kedua pengawal itu langsung membawa Noni masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya berpamitan pada Dave dan Harry, pengawal itu pun langsung menuju kota kelahiran Noni yang berada di daerah pesisir laut Jawa.
Namun, sepertinya mereka tidak mengantarkan Noni layaknya seseorang mengantar orang yang berarti dalam hidupnya. Melainkan seperti orang yang sedang membuang anak kucing. Sesuai dengan keinginan bosnya, kedua pengawal itu menurunkan Noni yang masih dalam pengaruh obat tidur di perbatasan desa menuju tempat tinggal Noni. Gadis yang masih dalam pengaruh obat tidur itu, hanya pasrah saat kedua pengawal itu membiarkan tubuhnya tergeletak di pinggir jalan dengan sebuah travel bag di sampingnya.
Saat mentari sudah condong ke barat, Noni pun membuka matanya. Awalnya dia berpikir sedang tidur di atas kasur dengan seprai motif rumput teki. Namun, saat dia mengedarkan matanya, dia sangat terkejut karena berada di pinggir sawah dengan rumput hijau sebagai alasnya dan pohon akasia sebagai pelindung dari teriknya sinar matahari.
"Sudah bangun, Neng?"
Noni pun langsung menengok ke arah belakang. Lagi-lagi dia dibuat terkejut karena melihat seorang lelaki dekil, rambut kusut, baju compang camping tanpa memakai celana sedang duduk seraya menyender pada pohon. Dia melotot tidak percaya saat matanya melihat langsung dua telur dan pisang muli yang tanpa pembungkus milik lelaki itu. Noni pun langsung meraih tasnya dan berdiri. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung lari terbirit-birit ketakutan.
"Tolooong ada orang gila!!!" teriak Noni.
"Dasar cewek gila! Ditungguin malah ninggalin."
...***...
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda, setelah kepergian Noni dan dua pengawal itu, Harry langsung menemui Rani yang berada di kamar anak-anak bersama dengan Sevia. Sedangkan Dave sudah berangkat ke kantor karena ada kunjungan dari investor penting. Sehingga mau tidak mau dia pergi setelah tadi menyuruh pengawal itu untuk mendampingi Harry.
"Via, boleh aku bicara berdua dengan Rani?" tanya Harry.
Sevia langsung menoleh ke belakang saat namanya ada yang memanggil. "Boleh kho, aku ke taman belakang dulu ya!" ucap Sevia berpamitan pada sahabatnya.
Rani hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, Harry mendekat ke arah Rani yang sedang memberi susu botol pada Gavin. Dia tidak memberikan ASI miliknya pada Gavin karena anaknya dengan anak Harry berbeda jenis kelamin.
"Rani, aku minta kamu jangan salah paham padaku! Aku hanya tidak suka pada orang yang telah mengganggu ketentraman keluargaku. Apalagi, dia berusaha menculik anakku," tutur Harry.
"Aku mengerti, maaf kalau aku terlalu ikut campur." Sedikit pun Rani tidak menengok ke arah Harry. Ada rasa kecewa dan takut di hatinya. Dia tidak pernah menyangka Harry akan sekejam itu pada orang.
"Rani, please jangan seperti ini padaku! Aku tidak mau ada perselisihan dia antara kita hanya karena orang yang tidak berguna itu," ucap Harry dengan memandang lekat pada istrinya.
Bagaimana kalau Rani tahu apa yang sudah aku lakukan pada Nadine? Tapi biarlah semua itu akan menjadi rahasiaku, bahkan Dave pun tidak aku beri tahu, batin Harry.
"Maafkan aku! Aku janji tidak akan melakukannya di lagi." Harry mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Kalau tidak terpaksa, aku tidak akan melakukan hal yang kejam itu. Tapi jangan salahkan aku jika ada orang yang coba-coba mengancam keselamatan keluarga dan orang-orang yang aku sayangi, maka aku dengan terpaksa berubah kejam pada orang itu, batin Harry.
"Baiklah, untuk kali ini aku maafkan!" Rani tersenyum meskipun hatinya masih merasa gamang.
Perlahan Harry pun mengikis jarak di antara keduanya. Kedua tangannya dia lingkarkan di perut Rani yang belum rata kembali setelah melahirkan. Dia pun menopang kan dagunya di pundak Rani yang masih setia memberikan susu pada putra sambungnya.
__ADS_1
"Makasih, Rani!" bisik Harry yang sukses membuat bulu kuduk Rani berdiri karena hembusan napas Harry yang menerpa kulitnya.
Menyadari ada yang berbeda dari gelagat Rani, Harry pun tidak ingin membuang kesempatan dengan mencium tengkuk istrinya. Lagi-lagi Rani harus menahan sesuatu yang berdesir hebat karena ulah suaminya. Melihat Gavin yang sudah tertidur karena kenyang minum susu, Rani pun segera menyimpan putra sambungnya itu ke dalam box bayi.
Harry langsung membalikkan badan istrinya setelah Rani menyimpan putranya. Ditatapnya Rani yang kini menunduk malu karena ditatap lekat oleh suaminya. Telunjuk Harry pun langsung bergerak mengangkat sedikit dagu Rani. Tanpa bicara lagi, pria yang haus akan cinta itu langsung membenamkan bibirnya dan meraup candunya. Kedua insan itu sama-sama terlena dengan ciuman yang memabukkan. Apalagi, tangan Harry kini sudah bergerilya menyentuh apapun yang ingin dia sentuh. Membuat Rani melenguh keenakan tanpa sadar.
"Rani, ayo kita pindah ke kamar! Sepertinya Patrick ingin masuk ke dalam gua," ajak Harry dengan napas yang masih memburu saat mereka saling melepaskan pagutannya.
Rani hanya menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti Harry saat tangan kecil ibu muda itu ditarik oleh suaminya. Saat sudah sampai di kamarnya, Harry pun langsung melanjutkan aksinya yang tadi sempat tertunda. Kedua insan itu kini sudah benar-benar diselimuti oleh kabut gairah. Mereka tidak peduli dengan matahari yang sudah berada di atas kepala. Bahkan panasnya mentari semakin menambah suasana kamar yang semakin hot. Harry terus saja memompa untuk mencapai kenikmatan dunia. Sampai suara ketukan di pintu membuat keduanya menjadi kalang kabut antara melanjutkan permainannya atau menyudahi pekerjaan yang tinggal sedikit lagi mencapai puncak.
Tok tok tok
"Harry, di depan ada tamu yang mencari kamu," teriak Sevia di depan pintu saat tidak mendapatkan sahutan dari dalam.
Ah nanggung banget! Biarlah orang itu menungguku. Sedikit lagi aku mau keluar, batin Harry.
"Sebentar, nanggung!" teriak Harry tanpa sadar dengan mempercepat ritmenya. Sampai akhirnya, kedua insan itu mendapatkan pelepasan bersama-sama.
...~Bersambung~...
...Dukung terus ya kawan! Klik like, comment, vote rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1