
Seperti yang sudah direncanakan, kini Devanya sedang berada di apartemen Orion. Sebuah apartemen mewah dengan fasilitas lengkap. Semua barang tertata dengan rapi membuat orang yang tinggal di sana akan merasa betah.
Devanya kini sedang sibuk di dapur memasak nasi goreng seperti yang diminta oleh Orion. Sedangkan pemuda itu sendiri, sedang membersihkan badannya. Saat Orion sudah selesai dengan ritual mandinya, dia pun segera ke dapur melihat Devanya.
"Vanya, sudah mateng belum? Aku lapar sekali," tanya Orion.
"Sudah! Tunggu saja di meja makan!" ketus Devanya.
Rasain kamu Orion, aku kasih garam yang banyak biar kamu keasinan, batin Devanya.
Orion pun menuju meja makan. Dia langsung mengupas jeruk yang ada di atas meja lalu memakannya. Sudah menjadi kebiasaan pemuda tampan itu, sebelum makan makanan berat, dia pasti memakan buah-buahan dulu.
Saat Devanya sudah menyajikan nasi goreng buatannya, Orion pun langsung mencicipi masakan Devanya. Namun apa yang terjadi? Dia langsung menyemburkan makanannya sembarang.
Melihat Orion yang menyemburkan makanannya, Devanya tertawa cekikikan seraya berlalu pergi menuju ke dapur. Hatinya merasa puas karena sudah membalas kekesalannya pada Orion.
"Emang enak nasi gorengnya keasinan, lagu sih!" cibir Devanya seraya membersihkan dapur bekas tadi dia memasak.
"Bagus ya, kamu sudah berani mengerjai aku. Apa kamu ingin merasakan masakan kamu sendiri?" tanya Orion langsung mendekat ke arah Devanya.
"Gak usah Tuan! Hamba tidak terbiasa makan bekas majikan," sarkas Devanya.
"Tapi aku memaksa, kamu harus ikut menikmatinya." Orion langsung membalikkan badan Devanya. Tanpa bicara lagi, dia langsung mencengkeram badan Devanya dan menyerang bibir gadis bermata biru itu dengan kasar.
__ADS_1
Orion kesal karena Devanya berani mengerjainya sehingga dia pun ingin membalasnya. Devanya yang kaget dengan apa yang Orion lakukan, dia berusaha melepaskan cengkeraman lelaki yang sudah berani mengambil ciuman pertamanya.
Namun, sepertinya logika Orion tidak bisa bekerja dengan baik. Yang awalnya dia hanya ingin mengerjai Devanya balik, kini berubah menjadi hasrat yang menggebu. Orion terus mengeksplor seisi rongga mulut Devanya seraya menekan tubuh gadis itu ke meja dapur. Kini badannya saling menempel dengan baju sebagai penghalangnya. Setelah dia merasa puas, Orion pun melepaskan pagutannya.
Plak plak
Tangan ringan Devanya kini mendarat sukses di kedua pipi Orion, membuat pemuda tampan itu meraba pipinya yang sudah ada cap lima jari.
"Keterlaluan kamu, Ion!!! Aku benci kamu!" sentak Devanya kemudian dia pergi dari apartemen Devanya.
"Cih! Kamu berani sekali menamparku. Aku pastikan kamu akan menyesal melakukannya. Tunggu Vanya! Aku pasti akan menjerat kamu," teriak Orion.
Sementara Devanya terus berlari seraya mengusap bibirnya dengan kasar. Hatinya sakit mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman kecilnya. Setiap kali dia mengeluh pada papanya, pasti papanya bilang kalau Orion hanya mencari perhatian darinya. Hanya saat dia mengadu pada Icha neneknya Orion, barulah pemuda tengil itu mendapatkan teguran.
Devanya menghapus air matanya dengan kasar. Tidak! Dia tidak boleh menangis saat Orion mengerjainya. Dia harus terlihat kuat, agar Orion tidak merasa senang karena tidak berhasil mengerjainya.
Baiklah Orion! Tunggu kejutan dariku besok, batin Devanya.
...***...
Keesokan harinya, Orion dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang ke dalam kelasnya. Wajah cantik yang selalu mengusik hari-hatinya, kini sudah berubah seperti wajah para lelaki cantik di negara anu.
Devanya datang ke kelasnya dengan penampilan yang berbeda, gadis cantik yang biasanya menguncir kuda rambutnya, kini telah berubah menjadi model rambut wanita boy cut. Tak ketinggalan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya serta jaket kulit hitam yang membalut tubuh rampingnya.
__ADS_1
"Hai Bro," sapa Devanya pada Gavin. Dia pun kemudian duduk di samping Gavin sahabatnya.
"Kamu kenapa?"tanya Gavin heran.
"Maksud kamu? Memangnya aku kenapa? Aku normal kho," tanya Devanya.
"Tidak, kamu seperti sedang stres. Apa gara-gara dia?" tanya Gavin menunjuk Orion dengan dagunya.
"Gaklah, aku gak mau stres karena dia. Vin, cariin aku cowok dong! Sepertinya, kalau aku punya pacar, gak bakal ada yang ganggu lagi," ujar Devanya.
"Sama aku aja, gimana?"
"Bo ...." belum juga Devanya menyelesaikan ucapannya, Orion sudah menarik tangan Devanya agar mengikuti pemuda tampan itu.
Devanya hanya tersenyum miring mengikuti Orion. Sepertinya, pancingan dia berhasil. Dia senang karena Orion kesal padanya.
Dunia terbalik, Ion. Sekarang aku yang akan membuat kamu kesal. Tapi sepertinya, aku tidak boleh terus terang karena dia akan marah kalau menyadari rencanaku, batin Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
__ADS_1