
Darah Orion terasa mendidih saat mendengar Devanya ingin mencari pacar. Baginya, hanya dia yang boleh melakukan sesuka hatinya pada gadis bermata biru itu. Dengan langkah panjang, Orion pun menarik tangan Devanya menuju ke roof top. Namun, saat akan berbelok, ada sebuah suara yang memanggil gadis bermata biru.
"Deva, ayo ke ruang dosen! Tadi dipanggil Pak Ferri," ajak Diandra yang baru dari ruang dosen.
Jackpot, kamu penyelamatku Dian, batin Devanya.
"Ion, Sayang. Aku ke ruang dosen dulu ya! Katanya aku dipanggil Pak Ferri." Devanya langsung melepaskan tangan Orion yang mencekal tangannya.
Sementara Orion diam mematung, saat Devanya memanggilnya sayang. Ketika Devanya sudah pergi jauh, barulah dia tersadar dari lamunannya.
Sial! Kenapa aku bengong saat dia panggil sayang? Kenapa dengan aku? Semalam tidak bisa tidur karena terus terbayang kejadian di dapur. Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa khilaf dan memberikan ciuman pertamaku pada si Vanya jelek, gerutu Orion dalam hati.
Berbeda dengan Devanya dan Diandra yang tertawa cekikikan karena berhasil mengerjai Orion. Dua sahabat itu nampak senang karena ternyata tidak sulit membohongi laki-laki menyebalkan itu.
"Wah hebat kamu, Dian! Untung aku dengar nasihat kamu untuk berpura-pura baik sama dia. Ternyata mantap betul idenya," puji Devanya.
"Kamu sih gak mau dengerin Om Dave. Coba dari dulu kamu baik sama dia, gak cepat marah kalau dia kerjai, pasti dia gak akan terus-menerus iseng sama kamu," ucap Diandra.
"Benarkah? Tapi aku gak suka sama dia, hanya ia laki-laki yang selalu bilang aku jelek," Cebik Devanya.
Saat kedua sahabat itu asyik mengobrol, ada seseorang yang memanggilnya. Saat Devanya menolehkan kepalanya, dia begitu terpesona melihat penampilan seorang lelaki tampan yang datang ke kampus dengan jas mahalnya.
"Bang Ano!" panggil Devanya. Gadis itu pun segera menarik tangan Diandra untuk menghampiri pangeran berkuda putihnya.
Keano yang akan bertemu dengan dekan universitas, akhirnya menolehkan kepalanya melihat siapa yang sudah memanggil dirinya. Kedua alis Keano saling bertautan saat melihat gadis yang sangat dikenalnya kini berpenampilan seperti lelaki.
"Kamu kenapa?" tanya Keano saat Devanya sudah ada di depannya.
__ADS_1
"Memang aku kenapa, Bang?" tanya Devanya heran dengan pertanyaan seperti itu.
"Kamu kenapa kaya gitu?" tanya Keano dengan memicingkan matanya. "Kenapa jadi tambah jelek?" lanjutnya.
"Bang! Aku adukan sama Oma Mitha, biar Abang dijewer." Devanya pun mulai merajuk pada Keano.
Meskipun Keano selalu bersikap dingin dan terkesan cuek, tapi dia sering menolongnya dari Orion yang selalu mengerjainya. Begitupun jika Devanya meminta sesuatu, pasti Keano memberikannya.
"Abang ke sana dulu!" pamit Keano.
"Bang, aku ikut, sekalian mau ke ruang dosen. Ayo Diandra!" Devanya langsung menarik tangan sahabatnya agar mengikuti Keano.
Mereka pun berjalan beriringan. Tanpa mereka sadari, Orion mengepalkan tangannya kuat. Dia sangat kesal dengan apa yang dilihatnya. Sedari dulu dia sangat tidak suka melihat Devanya yang selalu ingin dekat dengan sepupunya. Makanya Orion berusaha mengalihkan perhatian gadis itu dengan terus mengerjainya.
Awas saja kamu Vanya! Kamu akan tahu akibatnya nanti, batin Orion.
"Ion, aku rasa sudah cukup kamu terus mengerjai Deva. Aku tahu sebenarnya kamu suka sama dia. Hanya saja, kamu terus memungkirinya. Coba hilangkan ide-ide usil kamu dan mulai mendekatinya secara wajar." Gavin yang selalu memperhatikan diam-diam orang di sekelilingnya, mengerti dengan apa yang Orion rasakan pada Devanya.
"Sok tahu kamu! Udah deh, gak usah ikut campur urusan aku!" ketus Orion.
"Aku hanya mengingatkan kamu. Jangan sampai kamu merasa menyesal setelah dia benar-benar tidak bisa kamu jangkau."
...***...
Sore harinya, saat kelas sudah berakhir. Devanya pun kembali ikut ke apartemen Orion. Kali ini, dia disuruh mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Entahlah, Devanya selalu takut saat mendengar ancaman dari Orion. Makanya dia selalu menuruti apa yang Orion suruh.
"Jelek, kamu kerjain dulu tugasnya. Aku mau ke luar sebentar!" pamit Orion dengan bersiap memakai jaket kulitnya.
__ADS_1
"Yang lama ya! Pulangnya jangan lupa bawa makanan," pesan Devanya.
"Iya!" sahut Orion singkat. Dia pun langsung terburu-buru keluar dari apartemennya.
Sementara Devanya, saat dia sudah memastikan Orion sudah keluar dari apartemennya, dia langsung menghentikan pekerjaannya dan berlalu menuju ke dapur. Perutnya yang terus berbunyi, membuat gadis itu menggeledah isi kulkas Orion.
"Hanya ada roti, biarlah daripada lapar. Dasar orang kaya pelit, apartemen aja bagus tapi isi kulkasnya kosong," gerutu Devanya.
Gadis cantik itu langsung mengambil roti dan memakannya seraya menonton film di televisi. Badan yang lelah, AC yang sejuk, membuat mata Devanya terasa berat untuk terbuka. Dia pun memilih tiduran di sofa dengan mata yang merem melek menonton film. Sampai akhirnya dia terlelap tidur dan melupakan tugasnya.
Jam di dinding sudah menunjukkan angka sebelas. Orion yang pergi ke kantornya, baru saja tiba di apartemen. Dia lupa kalau Devanya sedang berada di apartemennya. Namun, saat melihat gadis itu sedang tertidur di atas sofa, dia baru teringat kalau menyuruh Devanya untuk mengerjakan tugas.
Orion pun langsung memeriksa tugas kuliahnya yang ternyata belum selesai. Tanpa berpikir panjang lagi, pemuda tampan itu langsung mengerjakan sisa tugas kuliah yang belum Devanya kerjakan. Sampai saat jam sudah menunjukkan angka dua belas, barulah dia selesai mengerjakan tugasnya.
Disuruh bikin tugas, malah tidur. Tidak takut apa kalau aku perkossa? Dasar jelek! Tapi, aku punya rencana hebat untuknya, batin Orion.
Orion pun segera memindahkan Devanya ke kamarnya. Dia terus menatap wajah cantik itu tanpa berkedip. Dia terus mengingat dengan apa yang Gavin katakan padanya tadi siang.
Apa benar aku menyukainya? Rasanya tidak mungkin! Aku sangat tidak suka saat banyak lelaki yang memujinya cantik. Aku juga tidak suka saat dia berdekatan dengan Bang Ano ataupun Gavin. Tapi rasa bibirnya itu, tidak bisa aku lupakan. Aku akan mencobanya lagi, mumpung dia masih tidur.
Orion pun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Devanya. Namun saat tinggal satu sentimeter lagi, tiba-tiba Devanya berubah posisi dan tangannya menimpa kepala Orion cukup keras. Membuat pemuda tampan itu mengaduh kesakitan.
Orion yang merasa kesal karena kepalanya tertimpa tangan Devanya, akhirnya dia membuat rencana lain yang akan membuat gadis itu merasa kaget saat bangun tidur nanti. Orion tersenyum miring saat sudah selesai melancarkan aksinya. Dia pun akhirnya tidur di samping gadis itu seraya memeluknya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa sawerannya ya Kakak! Yuk klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite...
__ADS_1
...Terima kasih!...