
Saat lembayung senja sudah menyelimuti bumi. Matahari mulai merangkak ke peraduannya. Nampak seorang gadis cantik yang masih terlelap di atas tempat tidur berukuran king size. Devanya yang disuruh untuk istirahat, dia pun benar-benar mengikuti apa yang dikatakan oleh Keano.
Dia tertidur setelah merasa bosan menonton drama dari negeri ginseng di utub. Sementara Keano, dia fokus bekerja di meja kerja yang ada di kamarnya. Saat menyadari gadis bermata biru itu tertidur dengan ponsel di tangannya, dia pun menghentikan pekerjaannya sejenak.
Keano langsung menghampiri Devanya. Perlahan dia mengambil ponsel Devanya dan menyimpannya di atas nakas. Ditatapnya wajah cantik itu, dia pun menarik kursi lalu mendudukinya .
"Deva, tetaplah bersamaku!" Keano mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Devanya dan mengecup singkat bibir yang berwarna merah muda itu.
Ada desiran aneh yang Keano rasakan. Ini pengalaman pertamanya bibirnya bersentuhan dengan bibir orang lain. Keano langsung berdiri dan kembali ke meja kerjanya. Namun fokusnya kini bukan pada berkas yang menumpuk di mejanya tetapi rasa lembut yang masih terasa di bibirnya.
"Apa seperti ini berciuman? Pantas saja Ion begitu berhasrat waktu itu. Ternyata rasanya ...."
"Bang, sudah jam pulang belum?" tanya Devanya yang terbangun karena merasa ada benda kenyal dan dingin menempel di bibirnya.
"Sudah, mau pulang sekarang?" tanya Keano.
"Iya, Bang! Aku pengen mandi dan ganti baju," jawab Devanya.
"Sebentar ya, Abang bereskan dulu pekerjaan Abang!" pinta Keano.
Sembari menunggu Keano merapikan meja kerjanya, Devanya pun berlalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya yang terlihat jelas baru bangun tidur. Setelah urusannya di kamar mandi selesai, dia pun kembali menghampiri Keano yang ternyata sudah selesai.
"Sudah siap?" tanya Keano.
"Aku pinjam sisir Bang, rambutku berantakan."
__ADS_1
"Duduklah, Abang rapikan."
Keano pun mengambil sisir yang ada di laci meja rias. Setelah mendapatkannya, dia mulai menyisir rambut Devanya yang panjangnya sebahu. Gadis bermata biru itu terkesiap mendapatkan perlakuan dari Keano.
Dia jadi teringat saat mereka masih kecil. Saat bermain bersama di rumah Keluarga Putra, Keano selalu membantu menyisir rambut Devanya yang panjang, setiap kali Ion mengerjainya dengan mengacak-acak rambut dan menyembunyikan ikat rambut miliknya.
"Kenapa tidak sepanjang dulu?" tanya Keano pelan.
"Aku malas membeli ikat rambut jika selalu disembunyikan oleh Ion," jawab Devanya.
"Sudah selesai, ayo kita pulang!" ajak Keano langsung mengalihkan pembicaraan.
Keduanya pun berjalan beriringin menuju ke lift. mereka langsung menuju ke basemen, tempat mobil Keano terparkir. Pemuda tampan itu sengaja langsung mengajak Devanya ke parkiran karena sebelumnya dia sudah memberitahu Hayden kalau dia akan langsung pulang.
"Bang, kenapa gak ke ruangan aku dulu?" tanya Devanya kaget saat mereka sudah melewati lantai tempat Devanya bekerja.
"Bang, bagaimana kalau orang-orang tahu, aku sama Abang? Mereka pasti akan senang sekali bergosip," tanya Devanya.
"Biarkan saja!"
Bang Ano sih enak bilang gitu. Mana mereka berani bicara jelek soal Abang, kalau aku? Sudah pasti akan jadi bahan gosip," gerutu Devanya dalam hati.
Tak berselang lama, keduanya sudah sampai di parkiran. Keano langsung menarik tangan Devanya yang terlihat ragu keluar dari lift khusus petinggi perusahaan. Devanya pun hanya mengikuti langkah Keano yang membawanya ke mobil.Saking khusyuknya berjalan, sampai-sampai tidak menyadari jika ada beberapa anak marketing yang melihatnya.
"Ayo masuk!" ajak Keano setelah membukakan pintu untuk Devanya.
__ADS_1
"Makasih, Bang!" sahut Devanya.
Setelah memastikan Devanya masuk ke dalam mobil, Keano pun langsung menuju ke kursi pengemudi. Namun, sepertinya ada hal yang ingin Keano sampaikan sehingga dia tidak langsung membawa mobilnya keluar dari parkiran.
"Deva, apa malu kalau bersama denganku?" tanya Keano.
"Aku bukan malu, tapi takut jadi bahan omongan. Abang kan pemilik tempat ini, sedangkan aku hanya ...."
"Apa pernah keluargaku melihat seseorang dari hal yang kamu sebutkan itu?" potong Keano.
"Tidak," lirih Devanya.
"Lalu kenapa kamu harus mempermasalahkan hal itu?" tanya Keano dengan menatap tajam Devanya.
Keano sedikit tersinggung saat Devanya seakan-akan enggan bersamanya. Padahal mereka sudah bertunangan dan tidak akan lama lagi, semua orang akan tahu kalau dia menjadi istrinya sekaligus menantu keluarga Wiratama.
"Abang marah?" tanya Devanya dengan menatap balik Keano.
Keano tidak menjawab pertanyaan Devanya. Dia tenggelam masuk ke dalam manik mata biru seperti samudera. Begitupun Devanya yang hanyut dalam pekatnya manik mata Keano. Keduanya terdiam, hanya hati dan mata mereka yang saling berbicara.
Aku sudah jatuh dalam pesonanya, mata indah yang selalu aku kagumi dalam diam. Mungkinkah mata itu akan memberikan sorot mata yang penuh cinta padaku? Aku selalu menantikan hari itu tiba, batin Keano.
Entah kenapa aku tidak bisa berpaling darinya. Sebenarnya siapa laki-laki yang aku cintai? Aku bingung dengan perasaanku, mereka berdua membuatku merasakan suatu hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, batin Devanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih....