Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 101 Bersabarlah!


__ADS_3

Langit yang terlihat begitu cerah, tak membuat Keano merasakan keindahannya. Hidupnya terasa gelap, seakan tidak ada cahaya yang menerangi. Keano terus menundukkan kepala, dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Tak henti dia terus berdoa, seraya menunggu istrinya di depan ruang operasi.


Sevia yang duduk bersama dengan Dave, terus saja meneteskan air matanya. Dia sangat takut tidak bisa melihat lagi putri sulungnya. Apalagi, saat dia tahu kronologi kejadiannya dari pelatih, yang ikut mengantar Devanya ke rumah sakit.


Tak jauh dari Sevia, Allana pun sesekali menghapus air matanya yang memaksa ingin keluar. Dia dapat merasakan kekalutan yang Keano rasakan saat ini. Sehingga dia terus mengelus punggung Keano yang duduk di sampingnya.


Terlihat lampu ruang operasi telah padam, disusul oleh pintu ruangan yang penuh dengan alat medis itu terbuka. Allana yang pertama kali menyadari kalau operasi nya telah selesai, dia pun segera berbisik pada putranya sebelum menghampiri dokter yang menangani Devanya.


"Ano, ayo dokternya sudah keluar!" bisik Allana.


Keano langsung mendongakkan kepalanya. Benar saja, terlihat seorang dokter baru saja keluar dari ruangan yang sedari tadi dia tunggu. Dia pun langsung bergegas menghampiri dokter yang menangani istrinya. Diikuti oleh Dave dan Sevia.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Dok, apa Deva baik-baik saja?"


"Dok, bagiamana keadaan putri saya?"


Dokter Kejora yang baru saja keluar dari ruang operasi langsung mengangkat kedua tangannya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan jika tidak diberi kesempatan untuk menjawab. Setelah semuanya tenang, barulah dia berbicara.


"Kondisi pasien baik-baik saja. Untuk saat ini, dia butuh dukungan dari keluarga untuk menguatkan hatinya dalam menerima kenyataan. Setelah dipindah ke ruang perawatan, jangan biarkan pasien sendirian."


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Keano lemas.


Dia bersyukur keadaan istrinya baik tetapi sekaligus sedih karena calon bayinya tidak bisa diselamatkan karena pendarahan. Hal itu terjadi akibat benturan keras ketika Devanya terjatuh. Sehingga mau tidak mau dokter melakukan tindakan kuretase untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan janin agar rahimnya kembali bersih.


Setelah Devanya dipindahkan ke ruang perawatan, Keano sedikit pun tidak ingin jauh dari istrinya. Dia benar-benar merasa terpukul karena Devanya harus keguguran akibat orca kesayangannya. Meskipun dia tahu, tidak seluruhnya kesalahan Orca itu, tetapi dia tidak bisa melupakan saat Devdev melemparkan Devanya ke atas sehingga terjatuh di atas tubuh lumba-lumba itu.


Perlahan Devanya membuka mata dan terus mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya. Setelah penglihatannya terlihat sempurna, Devanya pun mengedarkan pandangan. Nampak Keano yang sedang menunduk dengan tangan yang menggenggam tangannya.


"Bang, haus ...," lirih Devanya.


Keano langsung melihat ke arah asal suara lalu berkata, "Ay, sudah sadar Sayang."


"Haus ...," lirih Devanya lagi.


Tanpa bicara lagi, Keano langsung mengambil botol mineral, yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Setelah memasukkan sedotan ke dalam botol, Keano pun langsung mengarahkan sedotan ke mulut Devanya.

__ADS_1


Gadis bermata biru itu pun langsung meminumnya. Dia menghabiskan hampir setengah botol air mineral berukuran 500 ml. Setelah dahaganya mulai menghilang, Devanya pun langsung menyudahi lalu berkata, "Makasih."


"Istirahatlah, Ay! Abang akan menjagamu di sini." Keano mencium kening Devanya sekilas sebelum dia menyimpan botol minum.


Keano langsung menekan bel untuk memanggil dokter agar datang ke ruangannya. Tidak butuh waktu lama, dokter pun datang untuk memeriksa Devanya. Setelah dokter itu melakukan pemeriksaan lengkap pada gadis bermata biru itu, barulah Keano membuka suaranya.


"Bagaimana, Dok? Apakah semuanya baik?" tanya Keano cemas.


"Syukurlah semuanya dalam kondisi baik. Nyonya hanya perlu istirahat untuk memulihkan kembali kondisinya. Jangan lupa obatnya diminum!" pesan Dokter


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Keano.


"Kalau begitu kamu pamit, Tuan."


Setelah kepergian dokter, tinggallah Keano dan Devanya di ruangan yang lumayan besar itu. Karena Dave dan Sevia tadi pamit untuk mmebeli makanan di luar. Begitupun dengan Allana yang kembali bekerja setelah memastikan keadaan menantunya.


Devanya terus meringis saat merasakan kram di perutnya. Dia merasa cemas saat teringat dengan kandungannya. Sehingga gadis itu mengelus pelan perutnya sendiri.


"Apa ada yang sakit, Ay?" tanya Keano langsung menggantikan tangan istrinya mengelus perut Devanya.


"Maafkan Abang, Ay! Abang tidak bisa menjaga kamu dan anak kita," sesal Keano. "Abang terpaksa menyetujui kuretase saat bayi kita sudah tidak bisa diselamatkan lagi."


"Bang ...." Air mata Devanya luruh seketika. Dia tidak menyangka akan secepat itu kehilangan bayinya. Padahal baru kemarin dia merasa begitu bahagia, dengan kehadiran janin yang ada di dalam rahimnya.


"Maafkan Abang, Ay. Hukumlah Abang, tapi Abang mohon jangan bersedih lagi." Keano ikut meneteskan air mata saat melihat kesedihan istrinya yang begitu dalam.


"Bukan salah Abang! Tapi salah aku yang tidak bisa menjaga diri. Maafkan aku telah mengecewakan Abang dan keluarga. Mungkin aku bukan istri yang ...." Devanya langsung menghentikan ucapannya saat tangan Keano menutup mulutnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Ay, jangan menyalahkan diri sendiri! Abang memang sedih kehilangan bayi kita, tapi Abang lebih sedih jika melihat kamu sedih dan menyalahkan diri kamu sendiri."


"Bang, aku sudah Mengecewakan keluarga Abang. Mungkin aku gak pantas ...." Lagi-lagi Keano menutup mulut Devanya. Dia tidak ingin mendengar istrinya berbicara seperti itu.


"Ay, semua sudah guratan takdir. Kita harus ikhlas saat Tuhan mengambil kembali bayi kita." Keano terus berusaha tegar di depan istrinya. Dia harus bisa menguatkan hati istrinya yang sedang rapuh


Saat Keano akan berbicara kembali, terdengar suara dering ponselnya. Dia pun langsung merogoh saku celana untuk melihat siapa yang telah menghubungiya.


"Hallo, ada apa?" tanya Keano saat dia sudah menggulir tombol warna hijau.

__ADS_1


"Maaf, Bos. Aku sudah melihat rekaman cctv kolam Devdev. Ternyata Deva bukan jatuh terpeleset, tetapi dia jatuh karena ada yang mendorong dari belakang. Sebentar aku kirim rekamannya," ucap Hayden di seberang sana.


"Tidak usah! Aku bisa melihatnya sendiri. Sekarang kamu bawa orang yang sudah mencelakai istriku ke tempat eksekusi. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya jika sudah berada di ambang kematian."


"Ano, apa yang akan kamu lakukan? Kamu jangan mengotori tanganmu sendiri." Terdengar suara panik Hayden di seberang sana. Sahabatnya itu pasti takut jika harus berurusan dengan polisi.


"Bawa saja, biar nanti Om El yang urus. Karena opa sedang berada di luar negeri," ucap Keano dingin.


Astaga! Kenapa Tuan Elvano yang menangani? Bisa-bisa perempuan itu pulang sudah tidak berbentuk lagi, ringis Hayden dalam hati.


Setelah Keano cukup berbincang dengan Hayden, dia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Bersamaan dengan suara orang yang mengetuk pintu ruangan kamar inap milik Devanya.


"Masuk!" suruh Keano.


Terlihat Neneknya Icha beserta Al suaminya, datang menjenguk. Orang tua itu langsung berangkat ke rumah sakit saat mendengar kabar tentang Devanya yang keguguran. Mereka begitu khawatir sehingga begitu saja meninggalkan meeting di perusahaannya.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu?" tanya Icha langsung memburu Devanya yang terbaring lemas di tempat tidur.


"Nenek, maafin Deva! Deva tidak bisa menjaganya," ucap Devanya seraya meneteskan air matanya.


"Sudah Sayang, jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua musibah. Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran kalian," ucap Icha seraya mengelus lembut rambut Devanya.


"Ingat Sayang! Hidup itu ada ujiannya, begitupun dengan pernikahan. Mungkin, sekarang Tuhan sedang menguji kalian. Bersabarlah, jika sudah saatnya nanti, Tuhan pasti akan memberikan kepercayaan pada kalian untuk memiliki seorang anak," lanjutnya


"Iya, Nek!" sahut Keano. "Terima kasih sudah datang ke mari."


"Ano, apa Opa Andrea tahu dengan kecelakaan yang menimpa Deva?" tanya Icha.


"Aku tidak mengabarinya karena Opa sedang berada di luar negeri," jawab Keano.


"Ano, lebih baik kamu lepaskan saja Orca itu. Dia sudah semakin besar. Kakek khawatir, ada orang yang berniat jahat dan mengambil kesempatan pada orca itu."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2