Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 76 Harta Warisan


__ADS_3

"Kamu jangan berpura-pura di depanku. Kamu pikir aku tidak tahu kalau Dave anaknya Kalisa dan Tuan Satya memberikan seluruh hartanya pada dia."


Al hanya tersenyum remeh mendengar apa yang Elisa katakan. Dia sudah tahu semua dengan apa yang Elisa lakukan. Apalagi Tuan Satya banyak bercerita tentang menantunya yang hedonis.


"Tante mengarang cerita, bukankah uang hasil penjualan perusahaan Keluarga Pradipta sudah Tante ambil semua? Lagipula Dave putraku dengan wanita lain." Bohong Al. Dia tidak mungkin memberitahukan kalau uang yang dulu Tuan Satya titipkan sudah dia investasikan untuk nanti Dave saat sudah berkeluarga karena untuk kehidupan Dave sehari-hari tidak memakai uang itu.


"Kamu jangan bohong, Al! Aku yakin Dave putra Kalisa dengan bule itu. Apa kamu memakai uang yang mertuaku berikan," tuduh Elisa.


"Untuk apa aku memakai uang kakek kalau uangku saja sudah banyak. Lagipula, untuk apa Tante mencari putranya Kalisa? Apa sekarang Tante sudah kehabisan uang atau Tante sudah ditinggalkan oleh brondong peliharaan Tante karena sekarang sudah tidak muda lagi?" tanya Al dengan senyum mengejek.


"Jaga ucapan kamu, Al! Aku pastikan Dave tahu kalau kamulah penyebab kehancuran keluarganya," ancam Elisa.


Degh!


Jantung Sevia langsung berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia datang untuk menyimpan minuman bersamaan dengan Al berbicara seperti itu. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan kekagetannya.


"Silakan, Nyonya diminum! Om ...." Sevia langsung undur diri setelah menyimpan minuman dan beberapa cemilan.


Sevia langsung menuju ke dalam kamarnya untuk menemui Devanya yang sedang tidur. Sementara di ruang tamu, terdengar suara orang yang memberi salam setelah kepergian Sevia.


"Assalamu'alaikum," ucap Dave yang baru tiba setelah mengurus rumah baru dan acara pernikahannya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Al.


Dave pun masuk ke dalam rumah dan tersenyum pada tamu omnya. Dia menundukkan kepalanya sedikit sebagai penghormatan. Namun, saat dia sudah dekat dengan ambang pintu penghubung menuju ke ruang tengah, barulah terdengar suara wanita itu menyapanya.


"Dave Sky Pradipta," panggil Elisa.


"Iya, Nyonya ada apa?" tanya Dave langsung berbalik saat tamu itu memanggil nama lengkapnya.

__ADS_1


Elisa langsung tersenyum miring pada Al. Dia pun beranjak menuju ke arah Dave. Seperti seorang keluarga yang sudah lama tidak bertemu, Elisa langsung memeluk Dave dan menangis terisak.


"Dave, kamu sudah besar, Nak. Nenek mencari kamu ke mana-mana ternyata mereka sengaja menyembunyikan kamu." Seperti seorang artis sinetron, Elisa pun bersandiwara di depan Dave.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Dave bingung.


"Kamu tidak mengenali nenekmu sendiri? Aku Elisa, ibu mama kamu Kalisa," terang Elisa.


"Maaf, Nyonya! Nenek dan Kakekku sudah meninggal. Mungkin Anda salah orang," sahut Dave dengan nada datar. Untuk saat ini dia belum bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang ada di depannya adalah nenek kandungnya, keluarganya yang masih hidup.


"Dave aku Elisa ibunya Kalisa. Kalau kamu tidak percaya, coba lihat foto ini." Elisa langsung membuka dompetnya. Dia mengeluarkan sebuah foto saat Kalisa sedang wisuda.


"Maaf, aku tidak tahu kalau nenek masih hidup, karena selama aku tinggal di negeri ini tidak pernah ada yang mencari aku dan mengakui aku sebagai keluarganya," ucap Dave dengan suara yang bergetar. Entah harus bahagia atau harus bersedih saat dia bertemu dengan wanita yang mengakuinya sebagai cucu.


Elisa langsung membawa Dave duduk bersebelahan dengannya. Meskipun memang benar Dave putra Kalisa, tetapi sedikit pun tidak ada kemiripan dengannya karena Dave lebih dominan dari papanya.


"Dave nenek begitu kangen padamu. Bagaimana kalau kamu pindah rumah saja tinggal bersama nenek?" tanya Elisa.


"Dave, kenapa masih memanggil Nyonya? Aku nenek kandung kamu, lebih baik mulai sekarang memanggil nenek saja," suruh Elisa.


"Baiklah, Nek!" jawab Dave datar.


Elisa terus saja bertanya tentang Dave. Sementara Al hanya melihat dengan menyilangkan tangan di dada. Sampai akhirnya, Elisa mengutarakan maksud dan tujuannya datang menemui Dave.


"Dave, sekarang kita sudah bertemu. Bagaimana kalau Nenek yang mengelola harta warisan yang eyang kamu tinggalkan," ucap Elisa.


"Harta warisan apa, Nek? Aku tidak mengerti dengan apa yang Nenek katakan," tanya Dave dengan mengerutkan keningnya.


"Apa Al tidak memberitahu kamu tentang harta warisan yang eyang kamu tinggalkan?" tanya Elisa.

__ADS_1


"Aku tidak tahu menahu, Nek! Lagipula, mungkin terpakai olehku. Bukankah sedari aku kecil tidak pernah ada keluarga yang mencari keberadaan aku. Jadi aku anggap uang peninggalan eyang sudah habis aku pakai untuk makan dan sekolah," beber Dave.


"Dave, maafkan Nenek! Nenek tidak tahu kalau putranya Kalisa masih hidup karena mereka menyembunyikannya."


"Tidak apa, Nek! Maaf aku pamit ke kamar dulu, kepalaku terasa pusing." Dave langsung beranjak pergi begitu saja.


Hatinya sakit, karena seseorang yang mengaku nenek ternyata hanya menginginkan uang peninggalan eyangnya. Bukan karena dia memang tulus menyayanginya sebagai keluarga. Sebenarnya Dave sudah tahu tentang silsilah keluarga Pradipta dari eyangnya. Namun, selama ini dia diam dan menyimpan semua yang dia ketahui sendiri.


Hanya karena uang dia mengakui aku sebagai cucunya. Andai aku tidak memiliki apapun, mungkin tidak akan ada orang yang mau menerima aku karena aku tidak pernah memiliki status dalam keluargaku, batin Dave.


Sesampainya di kamar, Dave langsung memeluk Sevia yang baru saja menyimpan Devanya ke dalam box bayi. Dia butuh dukungan dari orang-orang yang dicintainya.


"Dave," lirih Sevia saat merasakan ada cairan hangat yang menetes ke punggungnya.


"Sebentar, Via! Aku hanya ingin memelukmu. Aku tidak ingin kamu melihat di saat aku sedang rapuh. Kumohon sebentar saja, jangan berbalik!" lirih Dave.


Sevia pun hanya menuruti apa yang suaminya katakan. Dia terdiam dengan tangannya mengelus lembut tangan kekar Dave yang melingkar di perutnya. Saat sudah merasa cukup, Dave pun membalikkan badan Sevia agar menghadapnya.


"Via, apa kamu tahu kalau keluargaku bukan orang baik?" tanya Dave dengan kepala yang menunduk ke bawah.


"Dave lihat aku!" Sevia menangkup kedua pipi suaminya dan mengangkat wajah Dave agar melihat ke arahnya.


"Aku tidak peduli dengan masa lalu keluarga kamu karena setiap orang pasti memiliki masa lalu. Entah itu baik ataupun buruk. Aku hanya butuh kamu yang sekarang. Seorang suami dan ayah yang baik serta bertanggung jawab untuk anak-anakku. Aku mencintaimu bukan karena kamu memiliki segalanya tapi karena kamu telah menjadikan aku segalanya di hidupmu." Tanpa permisi, Sevia langsung meraup bibir suaminya yang berwarna merah. Meskipun Sevia dengan sedikit menjijit dan Dave menundukkan kepalanya, tetapi kedua insan itu begitu menikmati pergulatan lidah yang terasa begitu lembut dan menenangkan.


Terima kasih, Via! Kamu bisa menerima masa lalu keluargaku dan aku pun akan menerima masa lalu keluargamu. Ayo kita melepaskan diri dari belenggu masa lalu keluarga kita yang tidak baik! Kita ciptakan keluarga baru yang bahagia.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya Kakak! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2