Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 71 Cewek Membingungkan


__ADS_3

Sore menjelang dengan warna jingga menghiasi angkasa. Nampak seorang gadis cantik yang sedang uring-uringan. Dia merasa kesal benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh suami brondongnya. Bagaimana tidak, seharian dia diberi setumpuk pekerjaan dan diperlakukan seperti orang lain oleh suaminya sendiri.


Diandra merasa terjatuh dari ketinggian dengan sikap Davin. Yang biasanya dia selalu dikejar-kejar oleh pemuda tampan itu. Kini pemuda itu seolah tidak peduli padanya.


Awas saja kamu Davin! Nanti malam gak akan aku turuti maunya kamu. Biar kamu tidur sama Devan saja. Gak usah peluk-peluk aku lagi, ancam Diandra dalam hati.


Gadis manis yang memiliki wajah baby face itu terus berjalan menuju ke halte bis yang tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja. Dia tidak perduli dengan panggilan telepon dari Davin yang terus berbunyi sedari tadi. Saat ini, dia tidak ingin melihat wajah suami brondongnya yang menyebalkan menurutnya.


Tidak jauh berbeda dengan Davin. Pemuda tampan itu pun uring-uringan karena setiap panggilan teleponnya tidak diangkat oleh Diandra. Dengan tergesa dan terus melacak keberadaan istrinya, dia berjalan menuju ke parkiran mobil.


Kenapa gak diangkat terus? Niat banget kamu menghindar dari aku. Awas saja kalau ketemu, akan aku buat kamu diam di kamar sehari semalam, ancam Davin dalam hati.


Dia langsung menuju ke mobil setibanya di parkiran. Tanpa membuang waktu lagi, Davin langsung menancap gas untuk mencari Diandra. Dia tidak peduli dengan jalanan yang padat merayap karena waktunya jam pulang kerja. Dengan keahlian, dia langsung merekayasa lalu lintas sehingga tidak perlu terjebak di lampu merah.


"Jackpot, ketemu kamu Dian." Davin langsung mengejar busway yang ditumpangi oleh Diandra.


Saat sudah sampai di perempatan lampu merah, dia langsung membuat lampu itu kembali merah. Padahal baru saja lampu itu berwarna hijau. Membuat banyak pengemudi yang kebingungan.


Davin langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam busway. Tanpa bicara lagi, dia menarik Diandra agar mengikutinya. Gadis itu hanya diam mengikuti langkah kaki Davin, karena sebenarnya dia sedang menangis dalam diam.


Saat Davin dan Diandra sudah masuk ke dalam mobil milik Davin, barulah lampu hijau menyala kembali. Dua insan yang sedang dilanda emosi sesaat itu saling membisu selama perjalanan menuju pulang ke rumah.


"Dian, kamu nangis?" tanya Davin saat ujung matanya menangkap cairan bening keluar dari sudut mata Diandra.


"Nangis karena apa? Memang berguna kalau aku nangis atau bisa merubah keadaan? Kalau aku nangis, apa aku bisa mengembalikan semuanya?" berondong Diandra dengan memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela.


Ternyata beneran dia nangis. Apa aku sudah keterlaluan ya? Cewek memang membingungkan. Dia ingin dimengerti diperlakukan dengan lembut tapi kadang tidak bisa meraba hati pasangannya. Giliran dibalas nangis, batin Davin.

__ADS_1


Davin hanya diam tidak menjawab apa yang Diandra tanyakan hingga suara ponselnya berbunyi. Nampak dilayar ponselnya Jason melakukan panggilan padanya. Dia pun segera menepikan mobilnya untuk menerima panggilan dari Jason. Davin segera keluar dari mobil agar Diandra tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Jason.


"Tuh kan, nelpon saja sampai keluar mobil segala. Kenapa gak di sini saja? Apa dia takut aku tahu kalau sekarang dia sudah mencintai gadis lain," gerutu Diandra dengan mata yang terus melihat ke arah suaminya.


"Apa Davin lagi berantem sama pacarnya ya? Dia terlihat serius sekali," tebak Diandra


Gadis itu terus saja menerka-nerka dengan siapa Davin berbicara dan apa saja yang dibicarakan. Sampai brondongnya itu kembali ke dalam mobil, dia pun langsung bicara yang membuat darah Davin mendidih.


"Vin, kalau kamu suka sama gadis lain bilang saja sama aku. Aku tidak keberatan untuk melepaskan kamu. Kamu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari aku," ucap Diandra saat Davin sedang memasang seat belt.


Tanpa bicara lagi, Davin langsung melahap bibir istrinya. Dia kesal, Diandra selalu ingin lepas darinya. Padahal, sepenuh hati dia mencintai Diandra meskipun gadis itu belum bisa menerima dia sepenuhnya.


Saat keduanya hampir kehabisan oksigen, barulah Davin melepaskan pagutannya. Dia menatap dalam mata Diandra yang tidak jauh dari wajahnya. Dengan napas memburu, Davin pun bicara pada Diandra.


"Dian, sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Dengar! Hanya aku yang boleh memiliki kamu, entah kamu setuju atau tidak. Tapi apa yang sudah aku miliki, tidak akan pernah aku lepaskan sampai kapan pun!" tegas Davin.


Davin menghela napas dalam sebelum bicara pada Diandra. "Kita bahas nanti, sekarang ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku akan mengantar kamu pulang ke rumah dulu."


Davin langsung menancap gas agar segera sampai ke rumahnya. Dia sangat khawatir dengan apa yang kakak perempuannya lakukan. Bagaimana tidak, penyakit kakaknya sedang kambuh. Devanya akan balapan dengan Orion. Entah apa yang membuat mereka menjadi sengit kembali. Padahal hari-hari kemarin, keduanya nampak dekat dan mesra sebelum acara pertunangan itu terjadi.


Bahkan Davin lebih mementingkan orang lain ketimbang membahas masalah yang terjadi antara aku dan dia, keluh hati Diandra.


Sesampainya di rumah, Davin langsung bergegas mencari Devanya ke kamarnya. Namun ternyata, hanya kamar kosong yang dia dapati. Davin pun segera mencari mamanya untuk menanyakan keberadaan kakak perempuannya.


Sial! Nekat banget sih punya kakak perempuan satu juga. Gak mikir apa, tinggal menghitung hari menikah malah balapan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Papa pasti akan nyalahin karena gak bisa jaga dia, batin Davin.


"Mah, Kak Deva sudah lama perginya?" tanya Davin pada Sevia.

__ADS_1


"Sudah dari siang, katanya mau ke kampus." Sevia melirik sekilas ke arah Davin yang duduk di sampingnya.


"Naik apa ke sananya, Mah?"


"Pakai motor, katanya males macet kalau pakai mobil."


"Davin nyusul kakak dulu ya!" pamit Davin.


"Sebentar duduk dulu! Ada yang ingin Mama tanyakan sama kamu," pinta Sevia.


"Tanya apaan sih, Mah?"


"Apa kamu pacaran dengan Dian? Mama lihat, hubungan kalian tidak seperti biasanya. Davin, Mama cuma mau pesan, jangan memaksakan perasaan kamu pada orang lain karena itu hanya akan membuat kamu terluka."


"Iya, Mah!"


"Kalau Dian tidak bisa menerima cinta kamu, jangan pernah memaksanya. Lepaskan saja perasaan kamu dan bukalah hatimu untuk cinta yang baru. Kamu sudah besar, Mama yakin kamu sudah bisa menimang ke mana hati kamu akan tertuju."


"Iya, Mah! Davin pergi dulu, assalamu'alaikum." Davin pun mencium tangan mamanya sebelum dia pergi mencari Devanya. Dia tidak menyadari kalau ternyata Diandra mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu.


...~Bersambnung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Brondong Tajir update, kepoin juga karya keren satu ini.

__ADS_1



__ADS_2