
Para wartawan dibuat melongo dengan apa yang dilihatnya. Mereka benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Sampai kekagetan mereka hilang, para wartawan itu langsung mengambil gambar Nadine yang sedang diseret oleh Sofie, istri sahnya Tommy.
Sementara Tommy yang menyadari kehadiran para wartawan, dia segera membalut tubuhnya dengan selimut dan berlari menuju ke kamar mandi. Namun sayang, sepertinya gerakan Tommy kurang cepat, karena sudah ada seorang wartawan yang mengambil gambarnya tanpa busana.
"Pergi!!! Pergi kalian!!! Jangan ada yang mengambil fotoku!!!" teriak Nadine. Dia merasa hidupku hancur. Niat hati ingin mendapatkan ikan kakap. Namun ternyata, dia malah mendapatkan malu dan kepala yang sakit karena dijambak.
"Rasakan kamu, coba-coba bermain dengan suami orang. Maka kamu harus menerima akibatnya," sentak Sofie.
"Ampun, Bu!!! Aku tidak akan mengulanginya lagi, tolong lepaskan! Kepalaku sakit sekali," Nadine terus memohon, sedangkan Sofie semakin kuat jambakannya.
"Sudah Sofie hentikan! Aku bilang hentikan!" teriak Tommy yang baru keluar dari kamar mandi setelah tadi dia berpakaian.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di kamar hotel?" tanya seorang security.
"Ada pasangan mesumm, Pak. Kami sudah menghubungi polisi dan sebentar lagi pasti akan ke sini," jawab salah satu wartawan.
"Oh, kalau begitu mari kita selesaikan di kantor. Untuk Mbak itu tolong beri baju dulu, tidak mungkin dia ke kantor tanpa busana seperti itu," ucap security.
"Baik Pak!" Wartawan pun segera melerai Sofie yang masih menjambak rambut Nadine. Dengan terpaksa Sofie pun melepaskan Nadine.
"Dengar! Ini belum seberapa, kamu pasti akan mendapatkan hukuman yang lebih dari ini," bisik Sofie.
Tak lama kemudian, polisi pun datang ke tempat kejadian. Sehingga Nadine dan Tommy langsung digelandang ke kantor polisi.
Lagi-lagi Keluarga Winata diterpa kabar miring dengan kasus yang menimpa Tommy. Meskipun keluarga terdekat ataupun orang sekitarnya sudah tahu dengan sepak terjang Tommy yang suka bermain perempuan, tetapi mereka tidak menyangka akan viral seperti sekarang.
Setelah polisi mengusut dan menemukan bukti yang memberatkan Nadine, akhirnya Nadine pun harus mendekam di balik jeruji besi karena terlibat prostitusii online.
...***...
Hari-hari pun terus berlalu, semakin hari hubungan Rani dan Harry semakin mesra saja. Harry selalu mencoba terbuka dengan apa yang terjadi padanya. Begitupun dengan Rani yang tidak mau menutupi apapun dari suaminya.
Kini mereka sudah pindah ke rumah barunya karena Harry menambah satu orang pengasuh lagi untuk anaknya sehingga membutuhkan kamar tambahan. Sementara di rumah yang dulu ditempati bersama dengan Dave, kamarnya sudah terisi semua.
Sementara Dave dan Sevia, mereka sedang harap-harap cemas karena usian kandungan Sevia sudah memasuki bulan ke tujuh. Dave berencana ingin baby moon ke kota Mekah seraya menjenguk mertuanya di sana, yang kata Kirana kini kondisi mental dan fisiknya mengalami kemajuan.
"Via, sudah siap belum? Ayo kita berangkat!" ajak Dave.
"Sebentar, Dave! Aku ingin ke toilet dulu sebentar," ucap Sevia.
__ADS_1
Dave pun dengan setia mengunggu istrinya sebelum mereka turun bersama-sama, karena semua baju yang akan dibawanya sudah disiapkan.
Setelah Sevia selesai dengan hajatnya, pasangan suami istri itu langsung menuju ke lantai bawah dengan saling memeluk satu sama lain.
"Dave sudah siap? Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Devanya," ucap Harry.
"Kembar, baik-baik ya sama Mommy. Syukur-syukur nanti pulang langsung bawa kalian berdua yang sudah lahir," seloroh Rani.
"Rani, aku kan baru tujuh bulan. Masih dua bulan lagi lahirannya. Kita mau nengokin Oma dulu nya Aunty, titip rumah dan kakak," ucap Sevia.
"Deva baik-baik ya sayang, Papa sama Mama gak akan lama kho," ucap Sevia berpamitan pada putrinya, kemudian dia pun mencium pipi Devanya kanan kiri. Rasanya dia beras saat harus berpisah dengan putri sulungnya.
Setelah berpamitan dengan semua orang yang ada di rumahnya, Sevia dan Dave pun langsung menuju ke bandara karena jet pribadi yang akan dia pakai sudah menunggu di sana. Dave sengaja memboyong tenaga medis agar ikut bersamanya. Dia khawatir dengan jika terjadi sesuatu pada istrinya saat mereka mengudara.
Saat berada di ketinggian tiga puluh lima ribu kaki dari permukaan laut, Sevia nampak gelisah. Dia pun berusaha untuk membangunkan suaminya.
"Dave," panggil Sevia saat mereka sudah duduk di pesawat.
"Kenapa?" tanya Dave yang baru saja memejamkan matanya.
Sebenarnya dia sangat lelah, demi acara baby moon, Dave sengaja lembur tiap hari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sampai-sampai Sevia selalu merengut kesal karena tidurnya tidak ditemani oleh suaminya.
Dave pun mengikuti apa yang ibu hamil katakan, dia tidak mau istrinya mendadak bad mood karena keinginannya tidak dituruti.
"Urgent kenapa? Apa perutnya sakit?" tanya Dave.
"Bukan," jawab Sevia.
"Apa kamu lapar? Twins apa kalian kelaparan?" tanya Dave dengan mengelus perut buncit Sevia. Namun, alih-alih mendapat jawaban, Dave mendapatkan tendangan dari putranya.
"Tidak, Dave. Aku mau ...."
"Mau apa?" potong Dave.
"Sini aku bisikin!" Sevia merapatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Dave, sedangkan Dave mencondongkan kepalanya sedikit.
"Aku mau pipis tapi gak tahu toiletnya di mana," bisik Sevia.
"Ya ampun, Sayang! Ayo aku antar," ucap Dave bertepatan dengan pramugari yang datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, Mister?" tanya pramugari.
"Tidak ada, tapi nanti tolong buatkan minuman yang menghangatkan badan," ucap Dave.
"Baik, Mister! Permisi," pamit pramugari.
Dave pun berdiri dari duduknya uang langsung diikuti oleh Sevia. Dengan sabar Dave menemani Sevia sampai ke pintu toilet. Namun, Dave hanya menunggu di depan pintu saat Sevia menuntaskan hajatnya.
"Dave, tolong aku!" teriak Sevia di dalam toilet.
"Via, kamu kenapa? Buka kuncinya aku akan masuk," tanya Dave.
Sevia langsung membuka kuncinya dan Dave pun langsung masuk ke dalam toilet. Dia kaget yang melihat istrinya terduduk di closet duduk dengan wajah panik.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Dave.
"Dave, sepertinya aku pecah ketuban. Aku pipis tapi tidak mau berhenti. Lihat airnya berwarna kecoklatan," tunjuk Sevia.
"Lalu aku harus bagaimana? Bilang padaku apa yang harus aku lakukan?" Dave semakin panik mendengar penuturan dari Sevia.
'Bukankah kandungannya baru tujuh bulan? Tapi kenapa sudah mau lahiran,' pikir Dave.
"Panggil dokter, Dave. Ambilkan juga Popok dewasa, agar tidak mengotori lantai pesawat." Sevia langsung memberi instruksi pada suaminya.
Bukannya pergi untuk melakukan apa yang Sevia suruh, pria bermata biru itu langsung memberi perintah pada dokter dan perawat yang berjaga untuk menemuinya.
"Siaga satu, cepat ke toilet dan bawakan popok dewasa," ucap Dave lewat microphon mini yang dia simpan di jam tangannya.
Tidak lama kemudian, datang dokter dan perawat membawa apa yang Dave butuhkan. Mereka kaget saat melihat Dave sedang berdua di dalam toilet dengan istrinya. Dengan mata yang tak berkedip, perawat itu pun langsung memberikan barang yang Sevia butuhkan.
"Mister, apa yang terjadi? Ini popok pesanannya, " tanya perawat seraya memberikan popok pada Dave.
"Cepat siapkan ruang bersalin, anakku akan lahir!" suruh Dave
"Apa? Melahirkan?" tanya perawat dan Dokter itu serempak.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan, biar othor tambah semangat updatenya....
__ADS_1