Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 84 Tipe Setia


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Nadine langsung mengoceh merasa tidak terima karena Harry membawa seorang perempuan di mobilnya. Nadine juga terus saja menyalahkan Harry yang tidak pulang-pulang ke rumah satu minggu lamanya.


"Aku pikir, kamu tidak akan mengabaikan aku karena katanya kamu mencintai aku. Tapi ternyata cinta kamu hanya palsu, Harry. Aku merasa sudah dibohongi oleh kamu. Saat aku sedang mengandung anakmu, kamu malah asyik bersama dengan wanita lain."


"Sudah belum bicaranya? Beri aku kesempatan untuk bicara," sela Harry saat Nadine terus nyerocos bicara seperti rel kereta api yang tidak putus.


"Bicara saja," ketus Nadine.


"Perempuan yang kamu lihat itu sahabatnya Sevia, istri Dave. Aku diminta Dave untuk menjemputnya karena dia akan menjaga Devanya selama Sevia kuliah nanti. Kamu harusnya mengerti dengan pekerjaanku yang tidak mungkin membantah apa yang disuruh oleh Dave," jelas Harry.


Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Nadine. Dia pasti tidak akan terima jika aku bilang Rani adalah tanggung jawabku, batin Harry.


"Beneran begitu? Kamu tidak sedang berbohong padaku kan?" tanya Nadine dengan penuh selidik.


"Mana mungkin aku membohongi kamu,"ucap Harry lalu beranjak pergi menuju ke kamar. Kepalanya merasa pusing mendengarkan ocehan istrinya sehingga dia memutuskan untuk tidur.


"Harry mau ke mana? Uang belanja habis, aku mau beli stok makanan untuk mengisi lemari es," ucap Nadine yang sukses membuat Harry menghentikan langkahnya.


"Bukankah kemarin kamu sudah meminta pada Dave? Uang bonus aku sudah aku bayarkan untuk membayar uang yang kamu minta. Aku hanya memegang uang satu juta." Bohong Harry.


"Keluar kota seminggu pulang hanya bawa uang satu juta. Kamu itu assisten direktur atau kuli bangunan sih?" gerutu Nadine.


"Aku kuli di perusahaan Om Andrea," sahut Harry yang langsung berlalu pergi.


Kenapa semakin ke sini, Nadine semakin berubah. Aku seperti tidak mengenali istriku sendiri. Apa memang aku yang dari dulu tidak mengenalinya? Nadine ku bukan Nadine yang aku kenal sekarang, batin Harry.


...***...


Sore harinya, Harry kembali ke rumah Dave bersama Nadine. Wajah Nadine terlihat berseri saat tahu akan ke rumah Dave. Dia pun langsung memasang wajah alim tanpa dosa. Nadine sangat suka berkumpul dengan orang-orang kalangan atas. Dia selalu bermimpi untuk menikah dengan seorang petinggi perusahaan ataupun seorang pejabat. Namun, keinginannya dia kubur saat orang tuanya menjodohkan Nadine dengan Aryo.


Setelah Pak Kyai dan anak santri pulang setelah mengadzani rumah baru Dave, kini semua orang yang masih tersisa sedang berbincang di ruang tengah. Sedangkan Sevia dan Rani ikut membantu Bi Lina dan Bi Ijah yang akan bekerja di rumah Dave membereskan rumah.


"Rani, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Kamu kan baru keluar dari rumah sakit," suruh Sevia.

__ADS_1


"Tidak, Via. Kalau aku di kamar, aku suka teringat dengan Mas Diwan. Lebih baik bantu-bantu sedikit," tolak Rani.


"Ya sudah, tapi gak boleh kelelahan ya!" sahut Sevia.


Setelah semuanya beres, dia pun mengajak Rani untuk bergabung dengan Icha dan yang lainnya, yang sedang menggilir Devanya untuk menggendongnya seraya menceritakan tentang proses kelahiran bayi cantik itu.


"Wah berarti Sevia memang jodoh Dave ya, Cha. Seperti ada ikatan batin antara Sevia dan Dave," celetuk Kia.


"Iya bener. Pelakor bisa mental semua nih," timpal Vio.


"Sudah pasti. Anak-anak aku semuanya tipe setia mereka tidak suka bermain wanita ataupun memberi celah sama pelakor," ucap Icha dengan membanggakan anak-anaknya.


Aku jadi semakin penasaran. Apa iya Dave tidak tertarik padaku? Padahal aku lebih cantik dari Sevia. Tapi sekarang aku sedang hamil, sepertinya aku harus bersabar sampai anak ini lahir, batin Nadine.


"Tante, apa Deva rewel?" tanya Sevia yang baru bergabung bersama Rani.


"Nggak kho! Dia senang sekali digilir sama Enin dan Utinya," sahut Icha.


"Iya, Makasih!" sahut Nadine dengan tersenyum manis.


"Rani, sini duduk dekat Tante. Kamu tuh, sudah dibilang gak usah sungkan," ajak Icha.


"Iya benar, Rani. Kalau perlu apa-apa bilang ke kita aja," timpal Kia. Icha dan kedua sahabatnya begitu bersimpati saat tahu apa yang terjadi pada Rani.


"Makasih Tante," ucap Rani.


Kenapa mereka begitu ramah sama cewek itu, sedangkan sama aku biasa saja. Padahal penampilannya seperti babu begitu. Eh bukannya dia memang babunya Dave, iri hati Nadine.


...***...


Dua hari menjelang hari pernikahan ulang Dave dan Sevia, keluarga Sevia dari kampung datang. Ada nenek dan bapaknya Sevia yang akan menjadi wali nikah. tidak ketinggalan juga istri kedua bapaknya dan Wa Neneng yang penasaran ingin melihat kehidupan Sevia di kota.


Kini, semuanya sedang berkumpul untuk melepaskan lelah. Mereka berbincang saling bertukar kabar. Hanya bapaknya Sevia yang sedari tadi diam. Namun matanya terus berkeliling melihat kemegahan rumah putrinya. Sevia sangat senang Neneknya datang dan bisa melihat dia menjadi seorang pengantin. Meskipun ini hanya pernikahan ulang, tetapi ini pernikahan sah di mata hukum dan agama serta diakui oleh semua orang.

__ADS_1


"Via, Nenek tidak menyangka suami kamu sangat kaya. Pantas saja setiap bulan selalu mengirim uang yang banyak. Rumah kita juga sekarang sangat bagus. Bapakmu juga sekarang buka kios di depan rumah kita. Alhamdulillah sekarang bapakmu sudah jarang bertaruh uang." Nenek Salamah sangat takjub melihat rumah baru Sevia. Dia tak hentinya berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.


"Alhamdulillah, Nek!" sahut Sevia.


"Via, Bapak belum punya baju bagus untuk pergi ke acara nikahan kamu. Masa Bapak pakai baju begini." Pak Rudi memperlihatkan baju batik yang dia beli di pasar. Memang sangat jauh berbeda dengan baju yang dibeli di butik langganan Keluarga Putra.


"Besok kita nyari ke mall, Pak. Sekalian buat Nenek dan yang lainnya," ucap Sevia.


"Bapak minta uangnya saja, Via. Biar nanti Bapak beli baju sendiri. Sekalian jalan-jalan di Jakarta. Sudah lama Bapak tidak ke Jakarta," ucap Pak Rudi seperti mengenang masa mudanya.


"Ya sudah, sebentar!" Sevia pun langsung beranjak pergi ke kamarnya untuk mengambil uang seperti yang diminta bapaknya.


Bapak masih tidak berubah, saat melihatku yang dia ingat hanya uang, batin Sevia.


Tak lama kemudian, Sevia turun bersama dengan Rani dan Devanya. Rani juga merasa sangat senang bisa bertemu dengan orang sekampungnya.


"Nenek, Bi Neneng, Mang Rudi, sehat?" tanya Rani saat sudah berada di bawah.


"Loh Rani, kamu ada di sini juga? Terus bayi cantik ini anaknya Rani apa Sevia?" tanya Neneng.


"Ini anaknya Sevia, Wa. Maaf tidak memberitahu kalau aku sudah punya anak," ucap Sevia dengan menundukkan kepalanya.


"Iya, lama sekali kamu tidak memberikan kabar. Waktu Uwa mau memberitahu kalau rumah sudah beres juga, tidak bisa dihubungi," ucap Neneng.


"Ponsel Via hilang, untung ada Rani yang mau bantu. Ini Pak uangnya," Sevia pun memberikan uang satu juta pada Bapaknya.


"Kamu kenapa pelit sekali seperti suami kamu. Masa punya suami kaya hanya kasih uang satu juta sama Bapak?" ketus Pak Rudi.


"Siapa yang pelit, Pak?" tanya Dave yang baru pulang dari kantor.


"Eh, Menantu sudah datang."


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2