Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 94 Sakit dan Kecewa


__ADS_3

Malam sudah sangat larut saat Dave sampai ke rumahnya. Sevia yang sudah tahu kalau Dave menemani Harry yang sedang patah hati, membuat ibu muda itu bisa tidur dengan tenang. Namun, sepertinya ada yang mengganggu saat ada sesuatu yang masuk ke bagian intinya. Ditambah buah kembarnya seperti ada yang memegang dan merremasnya.


"Dave," lirih Sevia dengan suara serak khas bangun tidur.


"Syukurlah kamu bangun! Nikmati saja, biar aku yang bekerja," ucap Dave dengan tidak menghentikan aksinya.


Sevia yang masih merasa sedang bermimpi hanya mengikuti saja apa yang suaminya katakan. Sampai keduanya mendapatkan pelepasan bersama-sama barulah Dave menghentikan aksinya.


"Dave, memang Harry kenapa?" tanya Sevia saat keduanya sudah membersihkan sisa-sisa percintaannya.


"Dia sedang patah hati, Nadine bermain dengan sutradaranya," jawab Dave dengan merengkuh tubuh Sevia dan membawanya ke dalam pelukan.


"Kasian sekali Harry, padahal dia orang baik. Apa sih yang dicari oleh Nadine? Harry kan ganteng tajir pula." Sevia mengukir abstrak di dada polos suaminya.


"Via, kamu ingin aku hukum?" tanya Dave datar


"Dihukum kenapa? Aku kan gak salah apa-apa," tanya Sevia.


"Kamu gak merasa salah setelah memuji lelaki lain di depanku?" tanya Dave.


"Bukan maksud aku memujinya tapi aku ngerasa Nadine seperti tidak bersyukur dengan apa yang dimilikinya," ucap Sevia.


"Sudahlah! Jangan membicarakan orang lain terus, lebih kita membuat rencana untuk memberikan adik buat Devanya. Aku ingin memiliki anak yang banyak." Dave langsung membenamkan kembali bibirnya dan meraup candunya. Hingga yang awalnya hanya pergulatan lidah, berubah menjadi lenguhan kenikmatan saat senjata tempur Dave masuk ke sarang rimbun istrinya.


...***...


Tiga hari sudah berlalu, semenjak hari itu Harry sduah jarang menemui istrinya di rumah sakit. Dia hanya terus melihat keadaan putranya yang sudah berada di rumah Dave. Rencananya, hari ini dia akan mengantar Rani pulang ke kampungnya.

__ADS_1


Namun, saat Harry dan Rani sudah bersiap akan berangkat, tiba-tiba mertuanya menelpon dia dan memarahinya karena Harry jarang menjenguk Nadine. Dengan terpaksa, Harry pun datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan istrinya.


"Rani, berangkatnya nanti siang saja. Aku disuruh ke rumah sakit," ucap Harry sebelum pergi.


"Iya, gak apa-apa. Selesaikan saja urusan kamu dulu," ucap Rani dengan tersenyum.


Harry pun segera berangkat dengan tergesa karena mertuanya terus saja menghubungi dia. Saat sampai di sana, dia berpapasan dengan Adjie yang sama-sama baru turun dari mobil. Harry hanya melirik sekilas sebelum akhirnya dia melanjutkan perjalanannya.


"Mr. Harry terima kasih sudah memberikan istrimu untukku. Kamu tahu, dia sangat liar di tempat tidur dan aku sangat menyukainya," teriak Adjie.


Harry terus saja berjalan tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh pacar istrinya. Dia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dan segera pulang untuk mengantar Rani. Sementara Adjie menjadi kesal sendiri karena tidak digubris oleh Harry.


Cih! Mau berebut mainan denganku, sudah pasti aku yang akan jadi pemenangnya. Selama aku belum bosan, aku tidak akan melepaskan dia, sungut Adjie dalam hati.


Saat sudah sampai di ruang perawatan Nadine, nampak orang tuanya sedang berada di sana. Mereka baru tiba kemarin di ibu kota dan langsung menuju ke rumah sakit. Namun, saat dia ingin melihat cucunya. Orang tua paruh baya itu tidak bisa bertemu dengan cucunya.


"Harry, bisa jelaskan di mana bayi Nadine kamu sembunyikan?" tanya Bisma.


"Maksud kamu apa? Siapa yang pacaran?" sentak Bisma.


"Om, tanyakan saja pada putri Om. Apa yang dia lakukan di belakang suaminya. Kebetulan juga Om ada di sini, maaf Om dengan sangat terpaksa aku harus mengembalikan Nadine pada Om. Aku tidak bisa bersama dengan seorang pengkhianat. Untuk Gavin, aku yang akan merawatnya. Nadine pasti tidak akan punya waktu untuk merawat putranya karena dia selalu sibuk syuting." Harry bicara dengan tenang.


Dia sudah bertekad untuk melepaskan Nadine demi kebaikan semua. Karena, meskipun dia tetap mempertahankan pernikahannya, tetapi sudah pasti dia akan terus makan hati di dengan apa yang Nadine lakukan.


"Harry, kamu tidak bisa begitu saja mengembalikan Nadine kepadaku tanpa adanya pembagian harta," ucap Bisma


"Oh, kalau soal itu biar pengadilan yang mengatur. Om tenang saja, Nadine tidak akan berpisah dariku dengan tangan kosong. Aku pasti akan memberi dia kompensasi sebagai ucapan rasa terima kasih karena sudah melahirkan putraku," sarkas Harry.

__ADS_1


Dia hanya tersenyum kecut dengan apa yang didengarnya dari mulut sang mertua. Harry menyadari, kalau dia terlalu terburu-buru saat memutuskan menikah dengan Nadine. Sebelumnya Harry berpikir, kalau Nadine pasti akan menurut seperti Sevia yang menurut pada Dave. Akan tetapi, Nadine dan Sevia tenyata bertolak belakang.


"Baiklah, kalau itu keputusan kalian. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk terus bersama jika sudah tidak ada lagi kecocokan."


"Terima kasih, Om. Aku permisi, semoga Nadine cepat pulih," pamit Harry. "Oh iya sepertinya pacar Nadine sdang menunggu di luar. Om bisa berkenalan dengannya."


Harry langsung ke luar ruangan tanpa ada niatan untuk menghampiri Nadine. Rasa sakit dan kecewa bercampur menjadi satu sehingga dia enggan untuk menemui wanita yang dulu sangat dicintainya. Nadine hanya melihat punggung kokoh itu keluar dari ruang rawat inapnya. Sedikit pun dia tidak mengeluarkan suaranya. Ada rasa bersalah yang menelusup di relung hatinya tapi ego dan ambisinya lebih besar sehingga dia segera menepisnya.


Sesaat Harry memejamkan matanya untuk menetralkan perasaannya saat sudah ada di dalam mobil. Sampai terdengar suara ponsel di kantong celananya, barulah dia kembali membuka matanya. Harry segera melihat siapa yang melakukan panggilan padanya, ternyata Dave yang menelpon.


"Hallo, Dave ada apa?" tanya Harry saat sudah tersambung.


"Iya hallo, Harry kamu masih di mana? Kata Via keberangkatan kamu diundur," tanya Dave.


"Aku di rumah sakit. Tadi ayahnya Nadine menyuruhku untuk menemuinya," jawab Harry.


"Oh, berangkatnya jangan terlalu sore nanti kamu kemalaman di jalan."


"Ini aku mau pulang. Aku tutup teleponnya dulu."


Klik Harry pun segera memutuskan sambungan teleponnya dan menancap gas segera pergi dari rumah sakit. Entah kenapa saat dia teringat harus mengantarkan Rani, Harry merasa sedikit melupakan tentang masalahnya dengan Nadine.


Tidak butuh waktu lama, Harry pun sudah sampai di rumah Dave. Hatinya menghangat saat melihat Rani sedang memberikan susu dalam botol pada putranya. Andai Nadine tidak seperti itu, mungkin sekarang dia yang merawat anaknya.


"Rani, Sevia ke mana? Kenapa rumah terasa sepi?" tanya Harry.


"Tadi sedang menidurkan Devanya. Lihat Harry, putramu menggemaskan sekali. Aku pasti merindukannya saat berada di kampung."

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu lama tinggal di kampung! Gavin pasti merindukanmu juga."


...~Bersambung~...


__ADS_2