Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 90 Jadi Artis


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dave dan yang lainnya pulang ke ibu kota, karena Andrea meminta laporan hasil kerjasama dengan perusahaan dari timur tengah harus dia terima sebelum jam makan siang. Mau tak mau dia mempercepat kepulangannya.


Sevia terus saja teringat dengan Nyonya Kirana. Wanita cantik itu begitu lembut memperlakukan dia dan tatapan mata kerinduannya membuat Sevia terus bertanya-tanya, 'siapa sebenarnya Nyonya Kirana?'


"Sayang, tolong siapkan baju kerjaku! Jam sebelas aku harus sudah ada di kantor," pinta Dave saat mereka sudah tiba di rumah dan sedang beristirahat.


"Baru juga sampai udah mau berangkat lagi," keluh Sevia.


"Sabar Sayang! Nanti malam juga kita bisa main lagi. Kalau proyek ini gol, aku pasti dapat bonus yang banyak." Dave mencium pipi Sevia sekilas.


"Kamu jaga kesehatan, jangan lupa makan!" pesan Sevia.


"Iya Tante mesumku sayang! Kamu udah kayak tante Icha saja kalau anak-anaknya mau pergi jauh pasti pesannya banyak sekali," ucap Dave.


"Karena dia sayang dan peduli pada anak-anaknya," sahut Sevia.


Sementara itu, Harry pulang ke rumah dengan keadaan kosong. Entah ke mana orang-orang yang ada di rumah. Nadine dan juga pembantunya seperti sedang keluar rumah. Harry yang memang belum mandi pas tadi pulang dari pulang Dewata, langsung menuju ke kamar mandi. Namun, saat dia akan keluar kamar mandi, sayup-sayup terdengar suara Nadine yang seperti sedang menelpon, sehingga Harry mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Iya, nanti aku langsung menuju lokasi syuting. Bukannya pihak manajemen sudah setuju?"


" ... "


"Baiklah, aku segera ke sana. Aku sedang beres-beres sekarang,"


" ... "


"Oke, aku tutup teleponnya sekarang."


Harry segera keluar dari kamar mandi setelah Nadine menyelesaikan panggilan teleponnya sehingga ibu hamil itu terlonjak kaget melihat kehadiran suaminya.


"Loh Harry! Kapan datang? Kenapa kamu tidak menelpon aku selama di sana?" tanya Nadine.


"Aku beberapa kali menelpon kamu, tapi tidak pernah kamu angkat. Ke mana saja selama aku tidak ada?" tanya Harry.

__ADS_1


"Aku ikut casting film dan lolos jadi pemeran pembantu dalam film layar lebar. Hari ini aku mulai syuting di daerah puncak," jelas Nadine.


"Kenapa kamu tidak meminta ijin padaku?" tanya Harry.


"Sudahlah Harry! Sebaiknya kamu mendukung aku. Aku juga ingin memiliki uang yang banyak, rumah yang bagus, mobil yang keren seperti yang dimiliki oleh orang lain. Kalau kamu bisa membelikan semua itu, aku tidak akan bersusah payah ikut casting," sanggah Nadine.


"Kamu sedang hamil Nadine, bagaimana dengan kandungan kamu?" tanya Harry cemas.


"Anakku baik-baik saja. Justru karena aku sedang hamil, mereka butuh pemeran yang benar-benar hamil," jelas Nadine. "Sudahlah aku mau bersiap, sebentar lagi Aurel datang."


"Nadine, aku tidak setuju kamu jadi artis. Sebaiknya kamu tinggal di rumah," ucap Harry.


"Aku tidak butuh persetujuan kamu. Lebih baik kamu tidak menghalangi aku menggapai impianku." Nadine tidak perduli dengan larang Harry. Dia hanya ingin mencapai puncak popularitas.


"Terserah! Jika kamu itu pilihan hidup kamu. Tapi aku minta jaga anakku," seru Harry yang merasa sangat kesal pada istrinya.


Dia langsung bergegas memakai baju dan segera pergi dari rumahnya. Harry langsung menuju ke rumah Dave agar berangkat ke kantor bareng. Sampai di sana, dia disambut oleh Rani yang hanya memakai daster dengan rambut yang digelung tidak beraturan. Entah kenapa, melihat Rani yang tidak memakai make-up, wajahnya terlihat bersinar membuat Harry terpaku untuk beberapa saat.


"Harry, masuk saja! Sepertinya Pak Bos masih bersiap," suruh Rani.


"Nggak kho! Aku hanya membereskan bekas makan Devanya mumpung dia sedang tidur. Gak enak kalau harus minta tolong sama Mbak Lina dan Bi Ijah," jelas Rani. "Sebentar aku ambilkan minum dulu."


Rani pun berlalu pergi untuk mengambil minuman ke dapur. Meninggalkan Harry yang terbengong di tempatnya. Harry terus melihat ke arah Rani sampai hilang dari pandangannya.


Andai Nadine seperti Rani. Tinggal di rumah, menunggu suami pulang kerja dan menjaga anak-anak. Apa aku harus menambah uang bulanan untuk Nadine? Agar dia mau tinggal di rumah, batin Harry.


Tak lama kemudian, Rani pun kembali dengan nampan di tangannya. Dia sengaja membuat dua minuman karena mau menemani Harry saat menunggu Dave. Sekalian dia juga mau minta tolong sama Harry.


"Ayo minum!" suruh Rani saat sudah menyimpan minuman dan beberapa cemilan.


"Makasih, Rani." Harry langsung meminum orange jus yang Rani buat hingga menyisakan setengahnya.


"Harry, kalau ada waktu, aku mau minta tolong untuk mengantar ke dokter," ucap Rani.

__ADS_1


"Sepulang aku dari kantor saja. Paling gak lama aku ke kantornya, soalnya hanya memberikan laporan." Harry pun mengambil ponselnya yang bergetar dan ternyata dari Nadine yang mengirim pesan padanya dan bilang kemungkinan nanti malam tidak akan pulang. Dia hanya menghela napas dalam sebelum memasukkan kembali ponselnya.


"Kenapa Harry? Apa ada masalah?" tanya Rani cemas.


"Nggak ada! Nadine hanya bilang syutingnya sampai malam jadi dia mau menginap di sana karena besok juga masih syuting," jawab Harry.


"Apa Nadine jadi artis?" tanya Rani kaget.


"Iya, katanya ada tawaran untuk film layar lebar." Harry seperti malas membahas tentang Nadine.


"Wah nanti kalau sudah terkenal, aku gampang minta tanda tangannya." Rani terlihat begitu senang mendengar istri Harry jadi artis


"Tanda tangan siapa, Rani?" tanya Sevia yang baru datang bersama dengan Dave.


"Nadine jadi artis, Via. Hebat banget Harry punya istri seorang artis. Sebentar lagi, dia pasti hilir mudik di televisi." Rani terlihat begitu bersemangat menceritakan Nadine yang akan jadi artis.


"Semoga saja dia bukan jadi artis yang sombong ya!" sahut Sevia tanpa sadar.


"Sayang, aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah, istirahat saja gak keluyuran keluar rumah tanpa seijin aku," pesan Dave sebelum berangkat.


"Iya Papa sayang," Sevia langsung mencium punggung tangan Dave membuat Harry hanya tersenyum samar.


Bahkan Sevia tidak sungkan mencium tangan Dave meskipun Dave lebih muda darinya. Sabar Harry, mungkin nanti juga istrimu akan seperti itu, batin Harry.


Selama perjalanan, Harry seperti tidak fokus mengendarai mobil. Berkali-kali dia lupa menyalakan lampu sen sehingga pengendara lain memarahinya. Dave pun langsung mengambil alih kemudi saat menyadari sahabatnya terlalu banyak melamun.


"Harry, kamu ada masalah apa? Kenapa tidak fokus? Apa karena tiga hari tidak mendapatkan vitamin c sehingga kamu jadi lemas," tanya Dave dengan mata yang tak lepas melihat ke arah jalan.


"Aku tidak setuju Nadine jadi artis tapi dia memaksa," keluh Harry.


"Cari istri baru saja, kalau dia tidak mau mendengarkan kata-kata kamu."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! yuk klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih!...


__ADS_2