Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 7 Brownies Cinta


__ADS_3

Seperti apa yang Orion katakan di kelas, Devanya terpaksa mengikuti ajakan Orion ke rumah nenek dan kakeknya. Saat sampai di sana, Icha menyambutnya dengan sumringah. Wanita paruh baya itu selalu senang jika anak dan cucunya berkunjung ke rumah. Dia pasti menyediakan semua makanan kesukaan anak dan cucunya.


Seperti saat ini, meskipun Orion mendadak memberi tahu akan datang ke rumahnya, Icha langsung membuatkan makanan kesukaan Orion dan Devanya.


"Nek, aku ke atas dulu mau ganti baju. Gerah pake kemeja terus," pamit Orion saat mereka sedang menikmati hidangan seraya menonton televisi.


"Ya sudah sana! Mandi sekalian, Ion." Icha bicara namun matanya masih fokus pada sinetron azab di stasiun televisi ikan terbang.


"Nek, kenapa brownies buatan Nenek enak sekali?" tanya Devanya.


"Karena Nenek buatnya pakai cinta," jawab Icha dengan tersenyum lebar.


"Makasih, Nek!" ucap Devanya seraya memeluk Icha.


Meskipun benar Icha bukan nenek kandungnya, tetapi wanita paruh baya itu tidak pernah membedakan kasih sayangnya pada Devanya dengan cucunya yang lain. Semua cucunya dapat porsi kasih sayang yang sama darinya.


Saat keduanya saling berpelukan, terdengar ada suara yang mengucapkan salam dari luar. Devanya pun segera mengurai pelukannya pada Icha dan langsung ke depan untuk membukakan pintu


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Devanya seraya membuka pintu ruang depan.


Nampak Keano berdiri di depan pintu dengan paper bag di tangannya. Devanya pun tersenyum dengan manis menyambut kedatangan lelaki yang selalu dia kagumi.


"Bang Ano, ayo masuk," ajak Devanya.


"Sudah lama di sini?" tanya Keano.


"Lumayan sih bang, tapi belum lama-lama banget. Nggak selama aku nungguin Abang." Gombal Devanya.

__ADS_1


"Kamu itu pinter banget, Deva!"


"Pinter apaan, Bang?"


"Pinter bohongnya," jawab Keano dengan mengacak poni Devanya.


"Siapa juga yang bohong? Masa dibilang bohong sih, Bang. Aku serius tahu," ujar Devanya dengan mengerucutkan bibirnya.


Gadis ini, selalu saja bisa membuat aku tersenyum. Kenapa hanya saat bersamanya, aku tidak merasa risih. Kalau gadis lain yang mendekati aku, merayu padaku, rasanya aku mual mendengarnya. Mungkin karena aku sudah menganggapnya adik jadi merasa biasa saja dengan gombalannya, batin Keano


"Udah yuk ke dalam! Nenek ada?" ajak Keano.


"Ada Bang. Baru saja habis makan brownies kesukaanku," jawab Devanya.


"Buat Abang disisakan nggak, Dek. Oh iya, oleh-oleh buat kamu udah Abang titipkan sama Om Dave."


"Makasih Bang! Abang yang ter the best pokoknya. Emang Abang habis dari mana kho bagi oleh-oleh?" tanya Devanya.


Keano dan Devanya pun akhirnya masuk ke ruang tengah untuk menemui Icha. Saat melihat Icha yang sedang duduk seorang diri seraya menonton televisi, Keano pun langsung mendekatinya dan mencium punggung tangan Icha. Kini ketiganya sedang larut dalam obrolan sampai akhirnya Orion turun dari lantai atas.


Hati Orion bergemuruh hebat saat melihat Devanya begitu dekat dengan Keano. Ingin sekali dia segera memisahkan keduanya. Namun, sebisa mungkin, Orion menahan gejolak di dadanya.


"Ada ******, udah lama Bang?" tanya Orion.


"Ion, bicara yang benar," tegur Icha.


"Maaf, Nek! Maksud Ion itu Bang Keano." Orion langsung meralat ucapannya.


"Dasar Ion! Nama orang main singkat-singkat aja. Harus di sunat dua kali tuh, Bang." Devanya malah jadi kompor meleduk.

__ADS_1


Orion langsung mendelik tidak suka mendengar apa yang Devanya katakan. Memang, kalau ada Keano ataupun keluarga lainnya, Devanya baru berani membalas pada Orion.


"Nek, aku pergi dulu. Mau ke perpustakaan kota nyari buku. Ayo Vanya!" ajak Orion dengan menatap tajam pada Devanya.


"Ion, Kondisikan matanya!" tegur Keano.


Orion tidak perduli dengan apa yang Keano katakan, dia langsung menarik tangan Devanya dan berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan Keano dan Icha yang hanya menggelengkan kepalanya..


"Ano, kenapa Ion marah? Tadi pas waktu datang biasa saja," ucap Icha.


"Mungkin karena melihat Ano," jawab Keano asal.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sudah biarkan saja. Ayo makan brownies-nya!" ajak Icha.


Keano dan Icha pun kembali berbincang seraya menikmati brownies ditemani oleh secangkir teh hangat. Sedangkan Orion dan Devanya langsung pergi meninggalkan rumah Kediaman Putra menuju ke sebuah taman hiburan terbesar di negeri ini.


Saat sampai di sana, hari sudah menjelang sore. Langit pun sudah berwarna jingga. Namun, semua itu tak menyurutkan niat mereka untuk mencoba wahana demi wahana. Saat sudah merasa lelah mencoba berbagai wahana, Orion pun mengajak Devanya untuk keluar melalui pintu belakang taman hiburan yang langsung terhubung dengan pantai.


Kedua anak manusia itu, duduk berdua di bebatuan seraya memandang laut lepas dan menikmati langit sore yang berwarna jingga.


"Vanya, sebenarnya aku mengajak kamu ke sini hanya untuk minta maaf. Ayo kita berbaikan! Kita mulai semuanya dari awal." Orion menghadap ke arah Devanya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Meskipun awalnya Devanya ragu dengan apa yang Orion katakan. Pada akhirnya dia pun menerima uluran tangan Orion


"Aku maafkan untuk semua yang sudah kamu lakukan padaku. Tapi maaf Ion, jika kamu melakukan kesalahan lagi maka aku akan sulit untuk memaafkan kamu."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2