Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 104 Merubah Sikap


__ADS_3

Pesta barbeque telah usai. Namun, sepasang anak muda yang belum bisa meraba hatinya, masih saja terlibat perang dingin. Apalagi, Davin seperti tidak ada niat untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan gadis yang telah cipika cipiki dengannya di supermarket. Tentu saja hal itu membuat Diandra semakin menekuk mukanya saat bersama dengan Davin.


"Dian, kenapa wajahmu jelek banget? Kecut gak ada manis-manisnya. Apa tadi kebanyakan makan cuka?" tanya Devan saat berpapasan dengan Diandra.


"Aku memang jelek, kenapa kembaran kamu itu mau nikah sama aku kalau dia memiliki gadis lain di hatinya?" Semprot Diandra.


Lah, dia marah, batin Devan.


"Biasa aja dong! Kamu lagi marahan sama Davin? Memang Davin selingkuh? Wah keren juga dia bisa selingkuh, bukannya dia cinta mati sama kakak ipar ya?"


"Tanya saja sana sama orangnya! Aku mau tidur," ketus Diandra seraya berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Dia tidak peduli dengan tatapan aneh dari adik iparnya. Yang jelas dia merasa sangat kesal pada suaminya. Ingin rasanya dia pergi jauh, tetapi Diandra lebih memilih untuk berkelana di dunia mimpi.


Sementara Devan hanya menggelengkan kepalanya. Dia bisa menebak pasti Diandra dan Davin sedang salah paham. Dia pun memutuskan untuk mencari kembarannya yang masih berkumpul dengan Orion dan yang lainnya di ruang santai.


Nampak di sana Davin dan Orion sedang bermain kartu poker, sedangkan Devanya menyender pada suaminya. Devan menghela napas sejenak saat melihat Devanya yang sepertinya tidak bersemangat.


"Kak Vanya, tidur saja di kamar! Sudah malam ini," suruh Devan saat sudah di dekat kakaknya.


"Benar, Sayang. Apa yang Devan katakan, lebih baik kita istirahat." Keano mengelus lembut rambut istrinya.


"Aku malas jalan, Bang."


"Tidak usah jalan, biar Abang yang gendong kamu."


Keano pun langsung mengangkat tubuhnya istrinya yang beratnya sedikit berkurang. Semenjak keguguran, Devanya jadi jarang makan kalau tidak diingatkan. Dia masih sering larut dalam lamunannya.


Setelah kepergian Keano dan Devanya, Devan pun segera menghampiri kembarannya. Dia penasaran dengan yang terjadi pada kembarannya itu. "Vin, kamu sedang marahan sama Dian?"


"Tidak! Memangnya kenapa?" tanya Davin melirik sekilas pada kembarannya.


"Kamu gak tahu kalau dia sedang uring-uringan. Tadi aja aku dijudesin. Katanya kamu suka sama gadis lain," ucap Devan.


"Apa karena tadi aku ketemu Jasmine ya!" gumam Davin yang masih bisa didengar oleh Devan dan Orion


"Jasmine, putrinya Om Barra?" tanya Devan.

__ADS_1


"Iya, tadi pas ketemu dia langsung peluk aku dan cium pipi aku. Dia kan suka begitu kalau ketemu sama kita," jawab Davin.


"Pantas saja, Dian cemburu kayaknya. Hahaha ... Ternyata dia mulai suka sama kamu, Vin. Selamat selamat." Devan tertawa senang dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa gak kamu pakai saja Jasmine buat pancing Dian mengakui perasaannya. Kalau istri kamu marah-marah saat lihat kamu dekat dengan Jasmine, berarti dia cinta sama kamu tapi gak mau ngaku," saran Orion.


"Benar juga ya, tapi kalau nanti Dian malah semakin jauh dan gak mau kasih jatah malam aku gimana? Aku rugi berkali-kali." Cemas Davin.


"Jadi kalian udah ...." Orion tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya mengadukan kedua telapak tangannya dengan posisi atas dan bawah.


"Udahlah dodol!" Devan langsung menoyor kepala sahabatnya. "Gak mungkin Davin mau biarkan Dian masih tersegel. Waktu masih belum di terima sama Dian saja mereka sudah sering tidur bareng," lanjutnya.


"Iya juga ya, berarti kita yang masih tersegel. Belum pernah merasakan gua kenikmatan," ucap Orion seraya menganggukkan kepalanya.


"Sudahlah, aku ke kamar dulu. Kamu sih ngomongin yang gituan, jadinya kan aku kangen sama istriku." Davin langsung bangun dan beranjak pergi.


"LEBAY!!!" cibir Devan dan Orion kompak.


Davin hanya melambaikan tangannya. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh adik dan sahabatnya. Dia hanya fokus pada Diandra yang sudah pasti sedang menunggunya di kamar.


Perlahan Davin membukakan pintu kamarnya. Terlihat di sana Diandra sedang bergelung dengan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Davin pun berjalan tanpa suara mendekati istrinya. Dengan hati-hati dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Diandra.


Davin yang sedang terbakar gairah, karena terpancing obrolannya tadi dengan Orion, perlahan dia pun menyingkap semua selimut yang menutupi tubuh Diandra. Hingga terpampang jelas tubuh istrinya yang memakai daster kimono.


Baguslah! Kamu mempermudah pekerjaanku, batin Davin.


Tanpa menunggu waktu lama, Davin langsung bermain di bawah perut Diandra dengan tangannya yang memainkan bukit kembar. Merasa tidurnya terganggu, Diandra pun langsung membuka matanya.


"Ah ... Davin kamu sedang apa?" tanya Diandra dengan menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh nadinya.


"Kamu bangun, Sayang. Ayo kita lakukan!"


Jleb!


Davin langsung memasukkan pedang keramat nya hingga benar-benar masuk ke dalam sarangnya. Laki-laki muda itu tidak memberikan kesempatan pada Diandra untuk menolak keinginannya. Hingga akhirnya Davin dan Diandra mendapatkan pelepasannya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu jangan marah terus, aku dan Jasmine tidak memiliki hubungan apapun. Meskipun kamu berkali-kali menolak perasaan aku, tapi hatiku hanya tertuju padamu. Dian, apa harus aku berpaling dulu agar kamu bisa menghargai perasaan aku?" Davin menatap dalam istrinya yang berada di bawah kungkungan-nya.

__ADS_1


"Aku tidak marah dan aku pun tidak mau diduakan." Dian menatap balik suaminya. Dia ingin meyakinkan diri dengan perasaan Davin padanya.


Hingga akhirnya, perlahan wajah Davin mendekat dan langsung meraup candunya. Mereka saling menyesap dan menikmati sensasi bergelut lidah yang saling membelit. Tangan Davin pun tidak tinggal diam, dia pun melucuti seluruh baju yang Diandra pakai dan juga miliknya.


Sepertinya, season kedua percintaan sepasang anak manusia pun tidak dapat dielakkan lagi. Mereka bermain dengan begitu bergairah. Davin begitu menikmati saat Diandra berada di atasnya. Meskipun pada akhirnya, dia yang kembali memegang kendali. Hingga hari menjelang pagi, keduanya baru menyudahi kegiatan panas di malam yang dingin.


Diandra melihat tangan kekar Davin yang melingkar di perutnya. Dia tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus berkelana mengingat pembicaraan Davin, Devan dan Orion malam tadi yang tidak sengaja dia dengar. Tadinya dia akan ikut bergabung karena tidak bisa memejamkan mata. Namun waktu tiba di sana, dia mendengar semua itu, sehingga Diandra hanya diam di balik pintu dan mendengar kan pembicaraan mereka.


Mungkin aku harus mulai mengubah sikapku sama Davin. Walau bagaimanapun, sekarang dia suamiku. Aku tidak mau merasakan sakitnya dikhianati seperti yang mama rasakan. Semoga saja, Davin tidak mengikuti saran Orion. Tapi waktu semalam, saat dia menjelaskan semuanya padaku, aku yakin kalau dia tidak akan mempermainkan perasaanku, batin Diandra.


Pagi pun menjelang, Diandra masih asyik dengan guling hidupnya. Dia begitu erat memeluk suaminya. Seakan takut ada yang mengambilnya. Sementara Davin yang sudah terbangun lebih dulu, hanya membiarkan saja Diandra berbuat sesuka hati pada tubuhnya.


Perlahan Diandra pun membuka mata. Dia langsung terbangun dan mengucek matanya. Diandra tidak sadar kalau dirinya tidak berpakaian. Hingga dengan iseng Davin pun bangun dan memakan buah kesayangannya.


"Davin!" seru Diandra kaget.


"Bangun tidur, kamu begitu menggoda. Ayo kita lakukan lagi seperti semalam! Aku suka melihat kamu yang liar," bisik Davin.


"Apaan sih, Vin? Jangan ngada-ngada deh!" pipinya langsung merona saat teringat apa yang sudah dilakukannya.


"Gak usah malu! Ini hanya rahasia kita berdua," ucap Davin dengan menahan senyumnya.


"Sudah! Aku mau mandi." Diandra langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Namun dengan cepat Davin mengangkat tubuh Diandra. Dia membawanya ke dalam kamar mandi. Dia ingin menuntaskan apa yang tadi telah di mulainya.


Davin pun menyimpan Diandra di dalam bathtub dan mengisinya dengan air hangat. Tak lupa dia menambahkan wangi aroma terapi dan sabun mandi yang menyegarkan. Setelah merasa semuanya cukup, dia pun langsung bergabung bersama Diandra dan menyelesaikan apa yang tadi sudah dimulainya.


"Davin, kamu nakal!" Diandra terus mengerang menahan sengatan listrik yang membakar gairahnya saat tangan Davin terus berkelana menyentuh titik sensitif.


"Tahan, Sayang. Ayo kita tuntaskan bersama!"


Pagi yang cerah, mereka awali dengan olahraga yang membuat urat syaraf menegang. Namun mampu membuat pikiran menjadi rileks, saat keduanya mendapatkan pelepasan yang penuh dengan kenikmatan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment vote rate gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2