Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 18 Teguran


__ADS_3

"Kamu tahu Vanya, aku selalu ingin terlihat beda di mata kamu agar kamu lebih mudah mengingat aku."


"Aku pasti inget sama kamu Ion. Cowok tengil yang gak pernah bosan buat ngerjain aku. Tapi anehnya, hanya aku yang selalu kamu kerjain, sedangkan yang lainnya tidak. Kamu malah baik sama mereka."


"Kamu ingin tahu, kenapa aku seperti itu? Karena kamu ... Karena kamu ... Karena kamu cewek paling jelek di antara mereka."


Cup


Orion langsung mencuri ciuman di bibir merah muda Devanya sekilas. Dia terkekeh melihat ekspresi gadis cantik itu yang terkejut mendapatkan ciuman darinya. Sampai akhirnya Devanya memukul Orion bertubi-tubi.


"Dasar cowok nyebelin, udah bilang aku paling jelek malah cium aku. Awas aku bilangin, Papa!" ancam Devanya.


Grep


Orion langsung menangkap kedua tangan Devanya , kemudian menguncinya. "Kenapa sekarang marah? Waktu malam itu kamu tidak marah," tanya Orion


"Bukannya aku tidak marah, aku terlalu syok melihat kamu tidur bersamaku. Tapi, kenapa aku tidak merasakan sakit di ...?"


"Karena aku melakukannya dengan pelan, apa kamu ingin mencobanya lagi? Biar tahu rasanya seperti apa," goda Orion dengan mengerlingkan matanya.


"Sudah ah, aku mau turun. Lama-lama sama kamu, aku bisa gila. Kamu waras hanya sesaat tapi gilanya awet seperti pakai formalin," ledek Devanya seraya berdiri dari duduknya yang kemudian diikuti oleh Orion.


"Aku gila juga karena kamu yang udah bikin aku gila," ucap Orion seraya merangkul pundak Devanya. Membuat gadis cantik itu berusaha untuk melepaskan diri. Namun, bukan Orion yang akan menyerah begitu saja.


"Coba saja lepaskan, aku akan mencium kamu di depan orang banyak."


Akhirnya Devanya pun hanya memilih untuk menurut daripada membuat masalah baru dengan Orion. Sampai lift yang mereka tumpangi tiba di lantai tempat mereka bekerja, barulah Orion melepaskan rangkulannya.


Syukurlah Ion tahu tempat, setidaknya masih bersikap sopan padaku jika di depan orang banyak, batin Devanya.


Saat keduanya masuk ke dalam departemen marketing, terdengar ada suara yang memanggil. Orion dan Devanya pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah asal suara. Nampak seorang pria dewasa dengan kumis tipis dan lesung pipi yang membuat wajah pria itu terlihat manis meski usianya sudah berada di angka empat puluh tahun.

__ADS_1


"Orion, ke ruang Bapak sebentar," pinta Surya, seorang manager marketing.


"Baik, Pak!" sahut Orion. " Vanya kamu duluan saja, aku ke sana dulu."


Orion pun langsung mengikuti langkah kaki Surya yang membawanya masuk ke ruang manager. Sementara Devanya hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera menuju ke kubik-nya.


Setelah keduanya duduk berhadap-hadapan, Surya pun memulai pembicaraannya. "Orion, Bapak tahu kamu punya hubungan dekat dengan pemilik perusahaan ini. Tapi tolong jangan bersikap arogan di dalam lingkungan perusahaan. Karena itu akan memberi contoh yang buruk untuk karyawan lain."


"Aku tidak merasa arogan, aku hanya memberi pelajaran pada orang yang sudah menghina orang tuaku. Memang benar, aku memiliki hubungan dekat dengan pemilik perusahaan ini, tapi aku tidak bermaksud untuk memanfaatkan hubungan itu."


"Maksud bapak, jangan pakai kekerasan lagi jika berselisih dengan karyawan lain." Surya sebisa untuk tidak terpancing dengan Orion.


"Baik, tapi Bapak tolong peringati pada anak buah bapak itu. Jangan karena dia merasa senior di sini, sehingga berbuat semena-mena pada anak magang. Jangan sampai batas kesabaran aku habis, kalau tidak ingin aku memakai kekuasaan aku," ancam Orion.


Kenapa aku jadi teringat dengan Tuan Elvano. Sikapnya hampir sama dengan pemuda di depanku. Tapi dari datanya tidak ada nama Wiratama di belakangnya melainkan Pratama Putra. Apa mungkin dia pewaris perusahaan Putra Group? batin Surya.


"Baik, nanti Bapak akan menegur semua karyawan di sini untuk menghilangkan istilah senioritas dan memperbudak anak baru. Sekarang kamu boleh kembali bekerja lagi."


"Baik, Pak! Terima kasih," ucap Orion.


Saat baru saja dia akan mendudukan bokongnya di kursi. Terlihat Hayden memasuki ruangan dan langsung menghampiri Orion. "Orion, dipanggil oleh Pak CEO," ucapnya.


Ck! Baru juga mau duduk, udah dipanggil lagi. Ngapain juga aku ikut-ikutan magang di sini. Ya ampun ribet banget kerja di perusahaan orang, keluh Orion dalam hati.


"Baik, Pak!" sahut Orion.


Orion pun langsung mengikuti langkah kaki Hayden. Setelah Hayden bicara dengan atasan Orion, mereka pun langsung menuju ke ruangan Keano. Saat keduanya berada di dalam lift, Hayden hanya melirik sekilas pada Orion lalu kembali melihat lurus ke depan.


"Ion, baru hari ke dua sudah bikin heboh. Harusnya tadi pagi gak usah berangkat saja. Kamu tahu, karyawan itu mengadukan kamu pada Tuan Andrea," ucap Hayden.


"Apa??? Ngadu sama Opa? Brengsekk! Awas saja aku culik karyawan itu!" geram Orion.

__ADS_1


"Lalu, mau kamu apakan?"


"Aku suruh dia menggembala sapi saja di kampung. Tidak usah kerja lagi di perusahaan jika hanya jadi tukang adu."


"Meskipun jadi seorang CEO muda tapi sifat kekanakan kamu masih terlihat jelas," ucap Hayden.


"Wajar, Bang. Aku masih sembilan belas tahun. Kalau Abang yang kekanakan sudah tidak wajar lagi karena Abang sudah dua puluh tujuh tahun, sudah tua. Harusnya sudah menikah dan punya anak. Sama dengan Bang Ano, kalian tuh udah ...."


Ting


Terdengar bunyi lift berhenti di lantai yang di tuju, Hayden pun langsung melangkahkan kakinya ke luar. Dia pusing mendengar Orion yang mengoceh seperti emak-emak. Apalagi yang dibahas soal pernikahan. Membuat kepalanya terasa mau meledak.


Setelah Hayden mengetuk pintu, terdengar suara dari dalam yang mempersilakannya untuk masuk. Dia pun segera membuka pintu dan masuk bersama dengan Orion. Nampak Keano yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang menari di atas keyboard dan mata serius melihat ke arah monitor.


Tanpa disuruh, Orion dan Hayden langsung duduk di sofa. Keduanya terdiam menunggu Keano menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama kemudian, Keano pun datang bergabung duduk di sofa.


"Ion, mulai besok kamu magang jadi sekertaris Abang. Kebetulan posisi sekertaris ada yang kosong," ucap Keano.


"Bang, aku tidak mau ...."


"Kamu boleh mengajak Devanya untuk bekerja bersama kamu," potong Keano.


"Bang, aku minta maaf buat kerusuhan di kantor Abang. Tapi, aku tidak bisa terima jika ada orang yang menghina Mommy dan papi," ucap Orion.


"Abang mengerti."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...

__ADS_1


Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin juga karya Author yang lain!



__ADS_2