
Yang sedang berpuasa boleh bacanya setelah berbuka saja.
Hari telah beranjak sore, mentari sudah berada di ufuk barat. Kini Sevia dan Dave sedang menyusuri pantai menikmati suasana senja dengan bergandengan tangan. Dave terus tersenyum senang penuh kemenangan sedangkan Sevia hanya terdiam menikmati sentuhan pasir di kakinya.
"Via, masih marah?" tanya Dave.
"Aku malu Dave," keluh Sevia.
"Tenang saja, dia tidak melihat bagian bawah kita yang sedang menyatu. Dia hanya melihat kita yang sedang berpelukan."
Flashback on
Setelah Sevia membawakan handuk untuk Dave dan Harry. Sahabat suaminya itu langsung beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Meninggalkan Dave yang masih di dalam kolam renang. Namun, saat Sevia akan memberikan handuk pada Dave, dengan sengaja pria bermata biru itu menarik istrinya ke dalam kolam renang.
"Sekarang Harry sudah tidak ada, sekarang ayo kita lakukan! Bukankah tadi kamu mengajak aku untuk melakukan di sini?" tanya Dave.
"Melakukan apa, Dave? Balapan seperti kamu dengan Harry? Aku gak bisa renang."
"Bukan balapan seperti dengan Harry, tapi kita balapan mencapai puncak kenikmatan." Dave langsung menyapu lembut bibir tipis istrinya dengan tangannya membuka segitiga pengaman Sevia dan juga miliknya.
Dia memangku Sevia seperti kanguru, hingga Sevia semakin terhanyut dengan permainan lidahnya yang menyapu setiap sudut rongga mulut istrinya. Dave berhasil mengarahkan python kesayangan pada sarang rimbun yang tersembunyi istrinya. Sevia hanya melotot dengan mulut yang tidak bisa bicara karena Dave tidak melepaskan pagutannya.
Kenapa tadi aku pake rok? Jadi Dave dengan mudah membukanya. Tapi sensasinya terasa berbeda, batin Sevia.
Dave terus berpacu untuk mendapatkan kenikmatan. Sampai saat keduanya melenguh panjang mendapatkan pelepasan secara bersamaan, pintu penghubung kolam renang dan ruang tengah dibuka oleh Rani yang sedang mencari sahabatnya. Rani langsung berbalik, tetapi Sevia sudah menangkap terlebih dahulu kedatangannya.
Flashback off
"Via, dulu saat aku masih kecil eyang selalu mengajakku melihat sunset di dermaga. Dia selalu berpesan padaku agar aku tidak menjadi orang yang serakah. Dia selalu memintaku untuk mensyukuri tiap apa yang menjadi milikku dan mempertahankannya agar tidak seorang bisa mengambilnya. Aku yakin dia bahagia di surga karena melihatku sudah menikah dan memiliki seorang putri yang cantik," ucap Dave dengan memeluk Sevia dari belakang dan mengajaknya untuk melihat matahari yang sudah berada di ujung lautan.
"Dave, kenapa kamu tidak mengajak aku untuk menemui eyang kamu di peristirahatan terakhirnya?" tanya Sevia.
__ADS_1
"Maaf, Via! Aku hanya akan membawa seorang wanita ke depan eyang aku setelah dia sah secara hukum dan agama menjadi istriku. Mungkin sepulang dari sini kita akan mengunjunginya," ucap Dave serasa melepaskan pelukannya. Dia berjongkok dan mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Kemudian Dave langsung memasangkan gelang kaki dengan bandul yang berbentuk bintang.
Chip ini akan aman jika aku menyimpannya di tempat yang tidak mereka duga. Aku takut ada yang mencari aku karena data yang tidak sengaja aku temukan, batin Dave.
"Dave, kenapa memasang gelang kaki? Aku merasa seperti seorang peliharaan," protes Sevia.
"Kamu memang peliharaan seorang brondong tampan, Sayang." Dave pun kembali memeluk Sevia dengan menyimpan dagunya di pundak Sevia. "Ayo kita buat kenangan indah bersama. Agar tidak ada yang bisa saling melupakan di antara kita."
"Dave jangan bicara yang tidak-tidak! Kita akan selalu bersama menjaga dan membesarkan anak-anak kita," Sevia mengalungkan tangannya ke leher Dave yang ada di belakangnya. Dia pun langsung berbalik menghadap suami brondongnya.
Dengan sedikit berjinjit, Sevia menarik tengkuk suaminya. Dia langsung menyapu lembut bibir sensual yang selalu terlihat kemerahan. Tidak ada napsu yang membara di antara keduanya. Pasangan suami istri itu saling menyalurkan perasaan yang membuncah dada. Sampai mentari sudah benar-benar kembali ke peraduannya, barulah keduanya saling melepaskan pagutannya.
Kening kedua saling menempel satu sama lain dengan napas yang masih memburu.
"Dave, aku ingin selalu bersamamu menjalani hari di sisa usiaku."
"Me too, Baby! I want to always be with you and always be together. Today and so on."
"Ayo kita kembali ke villa!" ajak Dave dengan menggenggam tangan Sevia setelah merasa suasana pantai semakin sepi dan gelap. Hanya lampu dari pinggir pantai yang temaram sebagai pencahayaan malam.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam seperti anak muda yang sedang kasmaran. Saat sampai di villa, Dave dan Sevia hanya mematung di ambang pintu saat melihat Harry dan Rani yang terlihat begitu akrab sedang bermain bersama dengan Devanya. Harry merentangkan tangannya sebelah di belakang Rani , sedangkan Rani sedang memangku Devanya yang sedang asyik berceloteh.
"Sayang, kenapa mereka seperti keluarga kecil yang bahagia ya? Apa sesuatu telah terjadi di antara keduanya?" bisik Dave.
"Aku gak tahu, tapi mereka tidak boleh berhubungan terlalu jauh. Harry masih suami orang," Sevia pun kembali ikut berbisik.
Harry yang menyadari keberadaan pasangan suami-istri itu langsung menurunkan tangannya dan membenarkan posisi duduknya. Awalnya dia merasa kaget karena merasa kepergok sedang berdekatan dengan dengan Rani. Namun, Harry langsung menguasai kekagetannya.
"Kenapa kalian hanya berdiri di situ? Sudah malam, masuklah!" suruh Harry.
"Sorry, kalau kita menganggu kalian!" ucap Dave.
__ADS_1
"Ganggu apaan sih, Dave? Kita hanya sedang menonton televisi," elak Harry.
Sevia langsung masuk mendekat ke arah Devanya. Dia mencium sekilas pipi putrinya lalu berkata, "Mama mandi dulu yang sayang, takut kotor habis main pasir."
"Iya, Mama! Dede nunggu Mama sama Tante," sahut Rani dengan meniru suara anak kecil.
"Titip ya Rani! Aku gak lama kho," pamit Sevia.
"Iya gak apa-apa, Via! Santai saja, Devanya anteng kho!" Rani kembali bermain bersama dengan Devanya tanpa menyadari kedua pria tampan itu sedang berbicara dengan tatapan mata. Sampai akhirnya Harry berpamitan padanya.
"Rani, aku keluar sebentar dengan Dave." Harry langsung berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah kaki sahabatnya.
"Oh, iya silakan!" sahut Rani dengan tidak mengalihkan pandangannya dari Devanya.
Sementara kedua pria tampan itu kini sudah berada di sebuah Gazebo yang ada di belakang Villa dengan pemandangan laut lepas. Dave sengaja mengajak Harry berbicara agak jauh dari villanya agar Sevia dan Rani tidak mendengar pembicaraannya dengan Harry.
"Harry, jujur sama aku! Apa kamu menyukai Rani?" tanya Dave langsung bertanya pada intinya.
"Aku peduli sama dia. Aku juga merasa sangat bersalah padanya. Kenapa kamu menyimpulkan begitu?" tanya Harry heran.
"Aku hanya merasa sikap kamu berbeda pada Rani. Aku tidak keberatan jika kamu menyukai sahabat istriku tapi aku minta kamu tentukan dulu kelanjutan pernikahan kamu dengan Nadine. Aku tidak ingin ada yang terluka dari hubungan kalian," ucap Dave.
"Aku masih mencintai Nadine, Dave. Lagipula sekarang Nadine sedang mengandung anakku. Mana mungkin aku berani menjalin hubungan dengan Rani. Apalagi Rani belum lama ditinggalkan oleh suaminya. Sudah pasti dia masih bersedih karena kepergiannya," jelas Harry.
"Maka dari itu, perhatian dan sikap kamu yang berlebihan pada Rani akan menimbulkan salah paham dan membuat Rani berharap padamu."
Ada benarnya juga apa yang Dave katakan tapi aku selalu ingin memberi perhatian pada Rani. Entah kenapa aku selalu senang berada di dekat dia, melihatnya kembali tersenyum dan bisa lepas dari kesedihannya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote rate gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...