Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 154 Tak Bisa Menolak


__ADS_3

Acara syukuran pun telah usai. Semua keluarga telah pulang ke rumahnya masing-masing. Begitupun dengan Harry dan Rani yang memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Devanya tidur bersama dengan Kinara. Hanya Twins yang tidur bersama dengan mama papanya.


"Sayang, Davin dan Devan sudah tidur?" tanya Dave seraya memeluk Sevia dari belakang.


"Sudah, mereka mirip denganmu Dave. Aku hanya melahirkannya, semua gen kamu yang mendominasi," ucap Sevia dengan menengok ke arah suaminya.


"Karena mereka tahu, kalau papanya tampan, baik, pinter dan tajir." Dave tersenyum bangga dengan dirinya sendiri.


"Hm ... Papa kenapa jadi narsis sekali? Tapi memang benar sih apa yang kami katakan. Aku melihat kesempurnaan dalam diri kamu. Meskipun memang benar tidak ada yang sempurna di dunia ini selain Tuhan Pemilik Kesempurnaan tetapi bagiku, kamu adalah laki-laki sempurna yang Tuhan ciptakan untukku. Terima kasih Dave untuk semuanya," ucap Sevia seraya membalikkan badannya hingga mereka berhadap-hadapan.


"Kamu juga wanita sempurna, meskipun dulu jadi orang oon karena mencintai orang yang hanya ingin memanfaatkan kamu saja." Dave langsung mendekatkan tubuh Sevia padanya hingga kini tidak ada jarak di antara mereka.


"Karena cinta tidak pernah pakai logika. Saat hati sudah memilih seseorang untuk kita cintai, apapun kata orang tentang orang yang kita cintai, maka hati akan menolak kebenarannya."


"Yang pakai logika itu matematika, Via. Tapi ada satu hal yang tidak akan bisa hatimu tolak, sentuhanku," bisik Dave langsung memiringkan kepalanya dan mencondongkan kepalanya.


Sevia yang mengerti dengan apa yang akan Dave lakukan, dia langsung memejamkan matanya. Hatinya membenarkan, dia tidak mampu menolak setiap sentuhan dari Dave. Meskipun saat awal pernikahannya, dia masih mencintai almarhum Andika.


Mengetahui istrinya memberikan lampu hijau, Dave pun segera meraup canduya. Kedua insan itu saling menyesap menikmati rasa manis dari bibir pasangannya. Tidak puas hanya hanya melakukan hal itu, Dave pun langsung menerobos rongga mulut istrinya degan indera pengecapnya. hingga lidah mereka saling membelit dan mengekplor seisi rongga mulut.


Tak hanya sampai di situ, tangan Dave yang sudah berkelana sejak tadi, kini memainkan titik senitif Sevia. Sampai suara lenguhan kenikmatan itu tidak bisa Sevia hindari. Dave melepaskan pagutannya dan bertanya pada Sevia.


"Sayang, bolehkan?" tanya Dave dengan suara serak nan seksih di telinga Sevia.


Sevia yang sudah terbakar gairah hanya bisa menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan suaminya. Dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya, Dave langsung membopong Sevi dan membawanya ke tempat tidur.


Malam panjang ini, mereka haiskan dengan memadu kasih saling melepaskan kerinduan. Meski saat awal masih terasa sakit karena bekas jahitan saat melahikan. Namun, lama-kelamaan rasa sakit itu hilang dan berganti kenikmatan yang memabukkan.


Saat Dave baru saja pelepasan yang pertama, terdengar suara bayi kembarnya yang menangis. Dave pun langsung turun dari tubuh istrinya da segera beranjak pergi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka.


Sementara Sevia langsung membungkus tubuhnya dan beranjak menghampiri bok bayi yang dia simpan di samping tempat tidurnya. Ternyata Davin terbangun saat tadi mendengar suara lenguhan panjang papanya saat Dave mendapatkan pelepasannya.


Sevia pun langsung memberikan sumber kehidupan untuk anak kembarnya. "Sayang, haus ya!"


Bayi kecil yang kini berat badannya sudah dua kilogram itu degan rakus meminum ASI-nya. Dia seperti takut akan kehabisan sumber kehidupannya. Dave yang baru kembali dari kamar mandi hanya tersenyum melihat putranya.


"Davin, jangan dihabiskan! Itu punya Papa," goda Dave.


Seperti yang mengerti apa yang papanya katakan, Davin semakin mempercepat meminum ASI-nya sampai akhirnya dia tersedak. Sevia langsung membalikkan tubuh Davin dan menepuk-nepuk pelan pundak bayinya seraya meniup ubun-ubunnya.

__ADS_1


"Papa nakal nih godain Dede," ucap Sevia.


"Maaf ya, Sayang! Davin lanjutkan saja mimi-nya, Papa mau cek kerjaan Papa dulu. Besok aku sudah mulai ke kantor. Kasian Harry sebulan lebih handle klien sendiri," ucap Dave kemudian pergi menuju ke ruang kerjanya.


"Jangan terlalu malam, Dave! Kamu harus jaga kesehatan," pesan Sevia saat Dave sudah siap membuka pintu.


"Iya, Mommy! Nanti Papa pasti akan peluk Mommy saat tidur," ucap Dave dengan mengedipkan matanya sebelah menggoda Sevia.


Suami brondong aku selalu saja narsis, tapi aku suka. Aku suka semua yang ada dalam diri Dave. Meskipun memang benar dia lebih muda dariku, tapi dia bertanggung jawab dan selalu memprioritaskan keluarganya. Aku semakin mencintai kamu, Dave. Sangat mencintaimu, batin Sevia.


...***...


Saat pagi menjelang, Sevia terbangun dari tidurnya dengan tangan kekar Dave yang melilit tubuhnya. Perlahan dia melepaskan tangan suaminya kemudian beranjak pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, Sevia pun melaksanakan kewajibannya pada Yang Maha Kuasa. Sementara Dave, yang merasa tempat tidur di sampingnya sudah kosong, dia pun langsung bangun dari tidurnya.


Dave langsung melihat kedua anak kembarnya yang masih terlelap tidur sebelum dia beranjak pergi ke kamar mandi. "Morning, Boy!" ucapnya seraya mencium anaknya bergantian.


Saat Sevia akan menghampiri suaminya setelah dia melaksanakan kewajibannya, terdengar suara orang yang mengetuk pintu dan memanggilnya. Sevia pun segera bergegas menuju ke arah pintu. Terlihat Devanya yang sedang digendong oleh Kinara.


"Mama ... Mama ...." Devanya terus memanggilnya dengan merentangkan tangan ingin digendong oleh mamanya.


"Ibu, biar Deva di sini saja dulu," ucap Sevia.


"Kembar sudah bangun, Via? Biar nanti Ibu saja yang mandiin sekalian diajak berjemur," tanya Kinara.


"Masih tidur, Bu. Ibu sarapan saja, nanti Via turun ke bawah," ucap Sevia.


"Kalau begitu, Ibu ke bawah duluan ya!" pamit Kinara.


Setelah kepergian Kinara, Sevia pun membawa Devanya untuk melihat adik-adiknya. Gadis cantik itu begitu bersemangat ingin mencium adiknya. Sampai dia berusaha melepaskan diri dari gendongan mamanya.


"Deva, mau ke mana?" tanya Sevia.


"Dede Dede ... cun Dede, Mah."


Dave yang baru selesai membersihkan dirinya langsung mengangkat putrinya dengan handuk yang dia pakai di pinggangnya. "Morning kiss buat Papa dulu," ucapnya dengan mengarahkan pipinya ke depan Devanya.


Cup

__ADS_1


Devanya pun langsung mencium pipi Dave, membuat papa muda itu menciumi balik putri kesayangannya. Sevia hanya tersenyum melihat suami dan anaknya. Dia langsung mengambil putranya yang terbangun.


"Sini sayang kalau mau sun Dede. Biar Papa pakai baju dulu," ucap Sevia.


"Papa jadi malas pergi ke kantor. Biar Om Harry saja yang kerja hari ini. Lagian sudah mau weekend. Senin saja Papa mulai kerjanya," ucap Dave seraya menurunkan Devanya ke tempat tidur.


"Papa main yuk!" ajak Devanya seraya menggoyangkan tangan Dave.


"Papa pakai baju dulu ya sayang. Nanti kita keliling komplek pakai motor, Deva mau?" tanya Dave.


"Mau mau," jawab Devanya begitu bersemangat.


"Sekarang main sama Dede dulu, Papa gak lama kho!"


Dave langsung bergegas pergi menuju wardrobe untuk mencari baju yang pas untuk dia berkendara. Setelah mendapatkannya dia pun segera memakainya dan kembali menemui putrinya. Terlihat Sevia yang masih menyusui anak kembarnya secara bersamaan. Devan di sebelah kanan dan Davin di sebelah kiri, sedangkan Devanya hanya memperhatikan dengan seksama seperti orang sedang menunggu giliran.


Kasian Devanya, hanya satu tahun merasakan nikmatnya minum ASI. Maafkan Papa karena tidak memikirkan akibatnya, Mama memiliki anak lagi di saat kamu masih kecil, batin Dave.


"Deva, ayo kita beli bubur ayam yang di pengkolan ojeg itu. Pakai motor ya," ajak Dave seraya menggendong putrinya.


"Cun Dede dulu, Pah!" pinta Devanya.


Dave pun menurunkan kembali putrinya agar mencium adik-adiknya. Setelah mencium kedua adiknya dan Sevia, Devanya pun kembali meminta digendong oleh Dave.


"Via, aku pergi dulu. Nanti aku akan suruh Bi Lina agar datang ke sini menemani kamu. Mau dibeliin apa biar sekalian aku ke luar?" tanya Dave.


"Aku mau soto ayam," ucap Sevia.


"Baiklah Bunda Ratu, Baginda Raja akan pergi dulu bersama dengan Tuan Putri yang cantik jelita," pamit Dave kemudian pergi dengan menggendong Devanya di depannya seperti kanguru. Saat sampai di bawah, Dave langsung mencari Bi Lina dan memintanya agar menemani Sevia.


"Bi, tolong temani Sevia di atas. Aku mau jalan-jalan dulu bersama dengan Devanya. Oh iya, tolong ambilkan jaket Deva juga Bi! Aku lupa kalau masih pagi, udaranya pasti dingin," ucap Dave.


"Baik, Den. Tunggu sebentar, Bibi ambilkan dulu!" sahut Lina.


Tidak berapa lama kemudian, Lina kembali dengan jaket mantel Devanya yang lembut. Dave pun langsung memakaikannya pada Devanya. Namun, saat sudah selesai dipakai, Dave jadi merenung sendiri.


Kayaknya gak cocok banget naik motor sport pakai mantel seperti ini. Sepertinya aku harus membelikan Devanya jaket kulit biar nanti samaan dengan punyaku, batin Dave.


...~Bersambung~...

__ADS_1


Ayo Kak sawerannya! Kisah Dave dan Sevia akan segera tamat dan berganti dengan kisah Devanya dan siapa ya? Tungguin ceritanya di season kedua!


__ADS_2