
Keesokan harinya, Sevia terbangun dengan tangan Dave yang membelit perutnya. Setelah semalam Dave terus meyakinkannya, akhirnya Sevia pun luluh dan menuruti apa yang Dave rencanakan. Bukan tanpa alasan Sevia mau terus berada di sisi Dave. Dia hanya ingin sebuah status untuk putrinya dan juga hatinya sudah terpaut dalam jerat cinta brondong tampan itu.
Flashback on
"Dave, sudah malam. Pulanglah, nanti keluargamu mencari!" suruh Sevia.
Dave yang sedang memainkan ponselnya hanya melirik sekilas pada Sevia, lalu dia beranjak pergi ke luar. Sevia hanya menautkan alisnya heran, kenapa Dave pulang tidak berpamitan padanya. Namun, pikirannya ternyata salah, Dave keluar rumah bukan untuk pulang tetapi untuk memasukkan motornya ke dalam rumah Sevia.
"Loh, kenapa dimasukkan?" tanya Sevia.
"Aku mau menginap di sini. Sudah lama kita tidak tidur bersama," jawab Dave sekenanya.
"Aku tidak mengijinkan kamu, Dave!" sanggah Sevia.
Dave hanya diam tidak menggubris ucapan istrinya. Setelah motornya terparkir rapi, dia langsung berbalik menghadap Sevia yang masih berdiri dengan wajah bingungnya. Brondong itu hanya tersenyum melihat istrinya kebingungan. Dia langsung menarik Sevia dan mendudukkannya di pangkuan.
"Via, kita itu masih suami istri, jadi tidak akan dosa meski aku menginap di sini. Aku masih kangen sama kamu dan putri kita. Aku ingin kita bersama-sama lagi. Apa kamu mau tinggal dia apartemenku? Sebelum aku membeli rumah untuk keluarga kecil kita." Dave menatap dalam mata coklat istrinya. Dia ingin sebuah jawaban yang jujur dari hati Sevia.
"Dave, apa kamu yakin untuk tetap di sisiku? Aku tidak yakin akan sanggup jika harus berbagi suami." Sevia pun memutus kontak mata dengan Dave.
"Aku yakin! Do'akan aku segera menemukan Malvin, agar aku punya alasan untuk menolak pernikahan itu. Andai kamu tahu seperti apa posisi aku di keluarga Om Al, mungkin kamu bisa mengerti kenapa aku tidak bisa menolak permintaannya," jelas Dave.
"Bagaimana bisa aku tahu kalau kamu tidak menjelaskannya?"
"Keluargaku pernah melakukan hal yang tidak baik pada Om Al, tapi mereka justru merawatku dengan baik dan tidak pernah membedakan aku dengan anaknya yang lain." jelas Dave.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mau dimadu," lirih Sevia.
"Percaya sama aku! Aku akan mencari jalan keluar dari masalah ini." Dave langsung menahan tengkuk Sevia dan meraup candunya hingga akhirnya dua insan yang saling mencintai itu saling melepaskan kerinduan yang terpendam. Keduanya sama-sama terhanyut, sampai ketika Dave berhasil membuka dua kancing piyama Sevia, terdengar suara tangis Devanya yang meminta jatah susunya.
Flashback off
Setelah Sevia berhasil melepaskan diri dari belitan tangan Dave, dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu lama untuknya untuk bersih-bersih. Kini dia sudah rapi dengan baju santainya.
"Via kenapa tidak mengajak aku mandi?" tanya Dave yang sedang bercanda dengan putri kecilnya. "Lihat, menggemaskan sekali!"
__ADS_1
"Dave, aku mau beli sarapan dulu. Kamu mau sarapan apa? Nasi uduk, lontong sayur, nasi kuning, soto ayam atau ...."
"Aku mau soto ayam saja," potong Dave.
"Deva sayang, sama papa dulu ya! Mama mau beli sarapan di dulu," pamit Sevia seraya mencium pipi putrinya.
"Mama, papanya juga minta di sun," ucap Dave dengan menirukan suara anak kecil. Dia mengetuk pipi agar Sevia mencium pipinya.
Cup
Dave segera menolehkan kepalanya saat Sevia akan mencium pipinya sehingga yang terjadi, dia mendapatkan kecupan singkat di bibirnya. Devanya yang berada dipangkuan Dave malah tertawa senang melihat sang mama berhasil dikerjai oleh papanya.
"Kamu memang putriku, mengerti sekali dengan perasaanku." Dave menciumi Devanya gemas. Dia semakin yakin untuk memperjuangkan Sevia dan putrinya.
Sementara Sevia langsung ke rumah Rani, karena mereka sudah terbiasa mncari sarapan bersama. seperti sudah menjadi agenda harian bagi wanita muda itu untuk berburu makanan bersama. Rani yang mendengar suara ketukan pintu, langsung ke luar menghampiri sahabatnya.
"Via, suami kamu nginap?" tanya Rani to the point.
"Iya, dia maksa untuk nginap," jawab Sevia.
Sevia hanya memutar bola matanya malas. sahabatnya ini memang selalu kepo dengan apa yang terjadi padanya. Meskipun memang, ujungnya dia memberi masukan padanya.
"Aku lagi bocor, Ran. Lagian ada Deva, mana mungkin aku main gitu-gituan dilihatin anak. Kalau ditiru bagaimana?" tanya Sevia.
"Anak kamu masih kecil ini, mana ngerti dia dengan apa yang orang tuanya lakukan. Paling dia tertawa karena mengira kalian sedang menghiburnya." Rani tertawa dengan ucapannya sendiri membayangkan Devanya menertawakan mama papanya yang bermain kuda-kudaan.
"Kamu tuh Ran! Masih pagi juga pikiran sudah kotor banget, sini aku bersihkan!" Sevia langsung menoyor kepala Rani yang langsung dibalas oleh sahabatnya. Akhirnya kedua sahabat itu tertawa bersama, menertawakan kekonyolan mereka.
Syukurlah kamu sudah bisa tersenyum lagi, Via. Aku senang jika akhirnya ada lelaki yang mau memperjuangkanmu dan tulus menyayangi kamu. Sudah cukup selama ini kebaikan kamu selalu dimanfaatkan oleh mereka yang berpura-pura ingin menjadi pacarmu, batin Rani.
...***...
Hari cerah, itulah yang Dave rasakan saat ini. Meskipun awan hitam menggumpal di udara dan siap menumpahkan isinya ke bumi. Dave selalu tersenyum sepulang dari rumah Sevia. Harry yang melihatnya menjadi menduga-duga telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Hati yang sedang senang, membuat dia menjadi punya banyak ide cemerlang di kepalanya.
Dave langsung meretas semua CCTV di tempat terakhir Zee dan Malvin bertemu untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya tidak bisa dihubungi. Tidak ada tanda-tanda di sana yang dapat memberi petunjuk ke mana Malvin pergi. Sampai akhirnya dia melihat ada sebuah mobil hitam yang membawa Malvin pergi ke dalam hutan.
__ADS_1
"Sial! Pasti selalu berakhir di sini, Aku yakin kalau Malvin ada yang menculik, tapi siapa dan di mana sekarang? Anak buah Barra bahkan sudah berkali-kali mencari ke hutan itu, tapi mereka tidak menemukan jejak apapun," gumam Dave.
"Dave, kamu kenapa? Tadi saja pas baru datang wajah ceria sekali, sekarang sudah kusut saja." Harry yang baru datang langsung mendudukan bokongnya di sofa dengan tumpukan berkas di tangannya.
"Aku harus segera menemukan Malvin! Aku tidak mau menyakiti Sevia dengan pertunangan itu. Apalagi, sekarang aku sudah memiliki putri yang cantik. Aku ingin segera mendaftarkan pernikahanku ke catatan sipil," sahut Dave.
"Kenapa kamu tidak jujur saja pada om dan tantemu? Mungkin mereka bisa mengerti dengan keadaan kamu, Dave." Saran Harry.
"Aku belum bisa mengatakannya. Aku takut mengecewakan mereka karena telah menolak permintaannya. Kamu tahu Harry, mereka orang yang sangat baik padaku. Mana mungkin aku mengecewakan orang yang telah berjasa banyak dalam hidupku."
Kedua sahabat itu terus berbincang menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan agar secepatnya bisa menemukan Malvin. Sampai tidak menyadari ada seorang di ambang pintu yang tidak tertutup rapat itu mendengarkan semua pembicaraan Dave dan Harry.
Tok tok tok
Dave dan Harry yang sedang asyik mengobrol seraya membaca berkas yang dibawa Harry langsung menoleh ke arah pintu. Betapa kagetnya mereka saat melihat Zee sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Masuk, Zee! Sudah lama di situ?" tanya Dave yang terlihat sedikit kikuk.
"Aku baru sampai, Dave. Kulihat pintunya tidak tertutup rapat. Apa seperti ini kebiasaan kalian kalau bekerja?" tanya Zee.
"Tentu saja tidak! Apa kamu masih sering mual?" tanya Dave mengalihkan pembicaraan.
"Sudah mendingan, kamu ada waktu tidak Dave? Bukankah hari ini kita akan ke butik untuk fitting baju. Tadi mama menyuruhku untuk datang ke sini sekalian membawa makan siangmu." Zee memperlihatkan tentengan di tangannya.
"Apa aku dapat jatah Nona Zee?" goda Harry.
"Pasti dong! Kak Harry tidak mungkin mama lupakan," ucap Zee yang langsung mendudukan bokongnya di sofa tunggal.
"Makasih ya Zee! Sebentar aku bereskan dulu berkasnya," ucap Dave.
Dulu mamamu yang menginginkan papaku untuk menikahinya. Sekarang malah papaku yang memintamu untuk menikahiku, batin Zee.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya Kakak! Langsung klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...