
Sore ini, Langit terasa gelap mencekam. Air hujan turun berjatuhan mengguyur ibu kota. Hawa dingin menusuk pori pori dengan suara petir yang sesekali menggelegar memekakkan telinga.
Devanya yang baru keluar dari ruangannya merasa bingung karena hari ini Orion tidak masuk kerja. Begitupun dengan Diandra yang meminta ijin untuk tidak masuk selama mamanya di rawat di rumah sakit. Beruntung Rani tidak pecah pembuluh darahnya, sehingga nyawanya masih dapat tertolong. Diandra yang begitu ketakutan terjadi hal yang tidak diinginkan pada mamanya, dia tidak mau jauh dari Rani.
Saat Devanya sedang berada di lobby, menikmati suara tetesan air hujan yang jatuh. Tanpa dia sadari, Keano sudah berdiri di sampingnya. Tidak ketinggalan pula Hayden yang berdiri di samping Keano.
"Deva, ayo pulang dengan Abang!" ajak Keano.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Devanya pun menengokkan kepalanya ke arah asal suara. Dia tersenyum saat matanya dengan mata Keano yang sedang menatapnya beradu. Ada desiran aneh yang Keano rasakan saat melihat senyuman itu.
"Aku mau ke rumah sakit dulu," ucap Devanya.
"Tidak apa, sekalian Abang mau menjenguk Tante Rani."
"Baiklah kalau Abang memaksa." Lagi-lagi Devanya tersenyum seraya mata kedua anak manusia itu saling beradu membuat Keano terpaku melihat senyuman Barbie kesayangannya.
"Sudah tatap-tatapannya, ayo mobilnya sudah datang!" ajak Hayden seraya menyenggol bahu Keano pelan.
Keano pun langsung tersadar dan segera pergi menuju ke mobil yang sedang menunggunya di depan lobby. Saat menyadari kalau Devanya tidak mengikutinya, Keano pun berbalik dan langsung menarik tangan Devanya agar segera mengikuti. Hayden hanya tersenyum melihat apa yang sahabatnya itu lakukan. Dia yakin kalau sebenarnya Keano menyukai Devanya.
"Masuklah!" suruh Keano saat sudah membukakan pintu mobil.
"Terima kasih, Bang!" sahut Devanya. Setelah memastikan Devanya naik ke dalam mobil, Keano pun langsung menyusul masuk ke dalam mobil.
Kalau benar Keano dan Orion mencintai gadis yang sama, sepertinya akan terjadi perang saudara seperti Pandawa dan Kurawa, batin Hayden.
__ADS_1
Devanya dan Keano duduk di belakang, sedangkan Hayden di depan. Entah kenapa situasinya terasa sangat canggung, tidak seperti biasanya. Keano dan Devanya sama-sama terdiam dengan pandangan yang terus melihat ke luar jendela. Sementara Hayden terus saja memperhatikan dua orang itu dari kaca mobil.
"Vanya, apa Tante Rani sudah membaik?" tanya Hayden untuk mencairkan suasana.
"Alhamdulillah sudah sadar," jawab Devanya. "Oh iya, Bang. Papa nitip ini, katanya suruh kasih ke Abang."
Devanya yang baru teringat dengan pesan papanya, dia pun langsung mengambil sebuah amplop coklat yang ada di dalam tasnya. Lalu berkata, "Kata Papa, kalau Abang sudah menerima amplop ini, suruh telpon papa."
"Oh, nanti aku hubungi Om Dave." Keano pun menerima amplop coklat yang Devanya berikan dan memasukkan ke dalam kantong jasnya.
Tidak lama kemudian, mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Setelah supir menurunkannya di depan lobby, mereka pun langsung mencari ruang perawatan Rani.
Tok tok tok
Devanya pun mengetuk pintu ruang perawatan Rani saat mereka sudah sampai di sana. Terdengar suara orang yang menyuruhnya masuk. Tanpa sungkan lagi, Devanya pun langsung masuk ke dalam dan melihat ternyata ada mama papanya di sana.
"Iya, Papa habis meeting di pusat jadi gak balik lagi ke pabrik," jawab Dave. " Kebetulan Ano ke sini juga. Ada yang ingin Om bicarakan," lanjutnya saat melihat Keano di belakang Devanya.
"Iya, Om." Keano pun ikut menyalami Dave dan yang lainnya. "Bagaimana keadaan Tante, Om?" tanyanya kemudian.
"Sudah mendingan. Ayo kita duduk di sana!" ajak Harry pada Keano dan yang lainnya.
Akhirnya para lelaki memilih duduk di sofa, sedangkan Sevia, Devanya dan Diandra menemani Rani. Mereka pun larut dalam obrolannya masing-masing.
"Rani, apa sekarang sudah tidak lemas lagi?" tanya Sevia.
__ADS_1
"Nggak, Via. Aku merasa segar di sini. Entah kenapa, setiap kali kaki aku selesai dipijat, pasti akan terasa sangat lemas seperti tak bertenaga," ucap Rani.
"Syukurlah! Nanti, kamu tinggal saja di rumahku dulu agar ada yang mengawasi selama Harry bekerja. Aku dan Dave merasa curiga pada perawat kamu. Makanya selama kamu di sini. Anne disuruh istirahat saja di rumah," ucap Sevia pelan
"Via, apa aku tidak akan merepotkan kamu. Aku tidak bisa apa-apa. Ingin ini itu, aku harus dibantu," ucap Rani sendu.
"Tidak, Rani. Buat aku, kamu sudah seperti saudara aku sendiri. Meskipun kita tidak memiliki hubungan darah," ucap Sevia.
"Makasih, Via!"
"Jangan berterima kasih! Aku hanya ingin melihat kamu sembuh seperti dulu lagi. Aku minta, kamu jangan pernah menyerah. Teruslah berusaha, demi kita semua yang menyayangi kamu," ucap Sevia.
Rasanya ingin sekali aku mengatakannya pada Mama, tapi aku takut terjadi hal yang tidak aku inginkan. Maafkan Dian, Mah!
"Wah rumah kita bakal rame lagi, Mah. Dian, nanti tidur di kamar aku saja," ucap Devanya.
"Asal ada cemilan malam, aku mau." Diandra pun langsung menyembunyikan kesedihannya.
"Asyik! Kembar juga, katanya mau liburan semester di sini. Ada yang kangen dengan Teteh Dian," goda Devanya.
"Apaan sih?" elak Diandra. Dia jadi teringat, saat Davin Devan akan berangkat ke luar negeri. Dia pernah menjanjikan sesuatu pada anak kembar itu.
Bagaimana kalau dia menagih janjiku? Mana sebentar lagi mereka selesai studi di sana, batin Diandra.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...