
Meskipun Keano merasa bingung dengan apa yang harus dibelinya, tetap saja dia berangkat ke minimarket terdekat. Sampai di sana, Keano langsung meminta tolong pada SPG yang bertugas.
"Maaf Mbak bisa minta tolong carikan pembalut seperti yang di dalam pesan ini," tunjuk Keano pada ponselnya.
Setelah SPG itu membaca merek dan jenis pembalut yang mau Keano beli, dia pun langsung mencarinya dengan bibir yang menahan senyum. Dia ingin tertawa melihat pria tampan berdasi dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya, pergi ke minimarket hanya untuk membeli pembalut. Setelah SPG itu mendapatkan pembalut yang diinginkan oleh Keano, dia pun kembali menghampiri lelaki yang sangat mempesona itu.
Kalau aku belum menikah dan punya anak, ingin sekali aku menggodanya. Ya ampun, aku tidak bisa lepas dari pesonanya. Sudah tampan pasti tajir pula. Mobil yang dipakainya saja, mobil mewah dan jarang ada di negeri ini, batin SPG.
"Ini Mas, barang yang Mas butuhkan. Apa istri Mas perutnya juga sakit?" tanya SPG itu.
"Iya, Mbak. Kenapa Anda bisa tahu?" tanya Keano heran.
"Karena saya perempuan, tiap bulan juga saya datang bulan seperti istri Mas. Kalau perutnya sakit lebih baik diberi minuman ini. Pasti akan enakan," tunjuk SPG itu pada minuman pereda sakit datang bulan.
"Gitu ya, boleh Mbak satu dus. Tolong antar ke mobil ya!" pinta Keano dengan wajah datarnya.
Setelah dia melakukan pembayaran, Keano pun langsung masuk ke dalam mobilnya dengan satu kantong pembalut yang dibawanya. Saat sudah sampai mobil, dia pun bertanya pada Mbah Gugel mengenai barang yang dia beli.
"Astaga, Deva menyuruh aku membeli barang pribadinya. Pantas saja dia tidak mau menyebutkan langsung merek dan jenisnya. Mungkin dia malu. Lalu darah itu? Dia bocor ternyata," Keano tertawa sendiri mengingat kebodohannya tadi di kamar Devanya.
Dia terus saja mencari tahu mengenai hal yang paling pribadi pada wanita. Selama ini, dia tidak pernah peduli mengenai wanita selain harus menjaga perasaan seorang wanita. Karena Mommy-nya Allana seorang wanita mandiri yang jarang meminta tolong padanya.
Ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui tentang wanita. Bagaimana aku bisa membuat Deva jatuh cinta kalau aku kurang memahami seorang wanita. Sepertinya tidak buruk jika aku mulai mempelajarinya, batin Keano.
__ADS_1
Keano pun langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Devanya. Dia langsung membawa semua belanjaannya ke kamar Devanya. Nampak gadis itu sedang duduk di sofa dengan alas handuk di bawahnya. Keano pun langsung menghampiri Devanya.
"Dapat gak Bang?" tanya Devanya.
"Dapat, cepat kamu pakai!" ucap Keano. "Abang juga beli minuman untuk pereda sakitnya."
Selesai Keano bicara, terdengar pintu kamar ada yang mengetuk. Ternyata Pak Karjo, satpam rumah Devanya datang dengan membawa satu dus minuman pereda sakit datang bulan ditangannya.
"Pak, simpan di sini saja, biar nanti saya simpan ke lemari es mini," suruh Keano.
"Baik, Den!" sahut Pak Karjo. Dia pun langsung menyimpan barang yang di bawanya tidak jauh dari Keano.
"Ini buat beli rokok." Keano memberikan satu lembar uang kertas Soekarno-Hatta pada Pak Karjo.
"Makasih, Den. Saya permisi, kalau ada yang diperlukan lagi bilang saja sama saya, Den." Pak Karjo langsung kembali ke post untuk menjaga rumah Devanya.
"Abang masukin apaan?" tanya Devanya heran.
"Ini minuman pereda sakit saat datang bulan. Minumlah!" Keano pun memberikan satu botol yang belum dia masukan ke dalam lemari es.
"Abang beli satu dus?" tanya Devanya dengan wajah yang melongo.
"Iya, buat stok kamu."
__ADS_1
"Ya ampun Abang, kenapa banyak sekali. Aku cuma minum paling dua atau tiga botol," ucap Devanya.
"Gak apa, ayo diminum! Sini Abang buka tutupnya!" Keano pun mengambil kembali botol kecil yang dia berikan pada Devanya. Lalu dia membukanya. "Berdo'a dulu biar cepat sembuh sakitnya.
"Makasih, Bang!"
"Setelah minum, tidur saja lagi. Abang mau ambil air panas dulu."
"Buat apa, Bang?" tanya Devanya heran.
"Buat perut kamu," jawab Keano sembari berlalu pergi menuju ke dapur.
Bagaimana tadi waktu Bang Ano di minimarket? Apa dia mencarinya sendiri?
Saat Devanya sedang larut dengan pikirannya, Keano pun kembali dengan botol yang berisi air panas. Dia langsung menghampiri Devanya yang sedang menyender di head board. Setelah duduk di tepi tempat tidur, barulah dia bicara.
"Tempelkan saja botol," ucap Keano dengan memberikan botol ke Devanya.
"Abang tahu dari mana ini bisa mengurangi sakitnya?"
"Tanya Mbah Gugel. Tidurlah! Abang temani." Keano membenarkan selimut Devanya hingga menutupi perut gadis itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....