Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 99 Wisuda


__ADS_3

Suasana gedung serbaguna di sebuah universitas yang bertaraf internasional tampak begitu meriah. Begitu banyak karangan bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju ke gedung. Karpet merah pun sudah tergelar dengan rapi menuju ke panggung tempat pelantikan para wisudawan.


Devanya dan Diandra nampak cantik dengan kebaya modern dan sanggul kecil yang menghiasi rambutnya. Sedangkan Orion dan Gavin duduk di belakang mereka. Sementara Keano dan keluarga yang lain berada di deretan kursi khusus untuk tamu.


"Dian, aku deg-degan terus." Devanya terus saja mengeluh pada sahabatnya.


"Tenang Deva. Kita kan sudah dinyatakan lulus, lagipula kalau sampai dekan menangguhkan kelulusan kamu, tinggal bilang saja sama Bang Ano. Biar dia dipecat," bisik Diandra.


"Bukan karena wisuda, Dian. Entah kenapa jantungku terus berdebar tidak karuan."


"Berdo'a saja biar kita dijauhkan dari hal yang tidak baik."


"Berisik, dengar tuh lagi diumumkan siapa lulusan terbaik tahun ini!" tegur Orion.


Kedua gadis itu langsung fokus mendengarkan siapa yang menjadi lulusan terbaik. Namun, mereka langsung menutup mulutnya merasa tidak percaya saat mendengar nama Orion Pratama Putra sebagai mahasiswa yang memiliki IPK tertinggi.


Orion pun langsung menuju ke podium, saat namanya dipanggil untuk memberikan sambutannya. Pemuda tampan itu terus menatap ke arah Devanya sebelum dia mengucapkan sepatah dua patah kata.


"Assalamu'alaikum wr.wb ... Yang saya hormati Bapak Rektor dan Dekan serta seluruh staf dosen. Tak lupa rekan mahasiswa semua yang saya cintai terutama gadis yang bermata biru yang selalu menjadi motivasi saya untuk bisa meraih apa yang saya cita-citakan."


Wajah Keano langsung merah padam saat mendengar istrinya di sebut oleh Orion di depan umum. Rasanya dia tidak terima, sepupunya itu seakan masih mengharapkan istrinya. Begitupun dengan Devanya yang langsung menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka Orion bisa bicara seperti itu di hadapan orang-orang penting yang ada di kampusnya.


Sampai akhirnya Orion menyudahi pidatonya, Keano maupun Devanya tidak lagi fokus mendengarkan apa yang laki-laki itu katakan. Keduanya lebih asyik bergelut dengan pikirannya. Dibandingkan mendengar kata-kata yang Orion sampaikan.


"Jelek, kenapa menunduk terus? Aku kan berkali-kali menyanjung kamu," tanya Orion saat sudah kembali duduk di kursinya.


"Aku tidak butuh sanjungan kamu, Ion. Rasanya tidak pantas, kamu terus menyanjung aku di hadapan semua orang. Sementara aku sudah menjadi istri orang." Bukannya senang, Devanya malah menegur Orion.


"Maaf! Setelah hari ini, aku tidak akan pernah berharap lagi sama kamu. Apa kamu lupa, kalau hari ini batas terakhir hubungan kita," bisik Orion.


Wajah bahagia Orion, kini berubah murung. Terkadang dia lupa kalau kini mereka sudah tidak mungkin bersama. Namun, rasa cintanya pada gadis itu terkadang membuat dia menolak kenyataan yang ada.


Satu persatu para wisudawan maju ke depan untuk penyematan topi toga. Begitupun dengan Devanya dan Diandra. Setelah semua rangkaian acara selesai, mereka pun langsung menemui keluarga masing-masing.


"Ayo Dian, kita foto bersama. Kita buat foto keluarga besar Sky," ajak Devanya seraya menarik tangan Diandra.


Terlihat dari jauh Keano dan Davin sedang menunggu kedatangan dua wanita cantik itu dengan buket bunga di tangannya. Senyum bahagia menghiasi bibir kedua lelaki tampan itu.


"Happy graduation, sayang!" Keano memberikan buket bunga Juliet Rose seraya mencium pipi istrinya sekilas.


"Makasih, Bang!" sahut Devanya dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Davin pun tidak ingin kalah dari kakak iparnya. Dia langsung memberikan buket bunga mawar putih setelah mencium sekilas bibir Diandra. Dia ingin terlihat lebih romantis dari kakak iparnya.


"Davin malu," tegur Diandra.


"Ya ampun sayang, di luar negeri saja mereka biasa kiss," sanggah Davin.


"Please deh, budaya kita beda ya! Kamu tuh harus bisa menempatkan diri di mana kamu berada." Diandra memutar bola matanya malas. Bukannya senang, dia malah kesal pada suaminya.


"Ck! Davin, mau romantis malah tragis," ledek Devan yang berdiri di samping papanya.


"Sudah, sudah. Deva, Dian, selamat ya Nak! Semoga kesuksesan dan keberkahan menyertai hidup kalian," ucap Sevia langsung melerai.


"Makasih, Mah!" Devanya langsung memeluk mamanya begitu pun dengan Diandra yang memeluk Rani.


"Papa gak dapat pelukan?" tanya Dave dengan merentangkan tangannya.


Tanpa bicara lagi, Devanya langsung melepaskan pelukannya pada Sevia dan berpindah memeluk papanya. Tanpa terasa mata Dave berembun. Dia sangat bahagia dengan semua hal yang Devanya capai.


Bayi kecil yang dulu lahir di saat dia tersadar dari komanya, kini sudah menjadi sarjana dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Berkali-kali Dave mencium pucuk kepala putri kesayangannya.


"Selamat ya, sayang. Do'a Papa selalu menyertaimu," ucap Dave.


Setelah merasa puas foto bersama, mereka pun memutuskan untuk merayakan wisudanya di sebuah restoran mewah. Tentu saja atas keinginan Keano. Namun, saat mereka sedang asyik menikmati hidangan yang tersedia, tiba-tiba saja ponsel Keano berbunyi.


Pria yang memiliki sorot mata tajam itu mengerutkan keningnya saat melihat layar ponselnya. Dia merasa enggan saat harus mengangkat nomor ponsel yang tidak dikenalnya. Namun, karena rasa penasarannya, akhirnya dia menerima panggilan telepon itu


"Hallo!"


"Hallo, Tuan Keano. Saya Inge pelatih Dev-dev."


"Iya, ada apa?"


"Saya mau mengabarkan kalau keadaan Dev-dev sudah membaik. Terima kasih Tuan untuk obatnya," ucap Inge dengan suara yang mendayu.


"Hm ... Ada lagi?"


"Kapan Tuan akan mengunjungi Dev-dev. Sepertinya Dev-dev sudah sangat merindukan Tuan. Dia selalu terlihat murung jika sudah lama tidak Tuan kunjungi."


"Hm ... Ada lagi?"


"Itu Tuan, saya- saya juga sangat merindukan Tuan."

__ADS_1


Klik


Keano langsung menutup panggilan telepon. Dia tidak suka mendengar ada seorang gadis yang seperti ingin menggodanya. Apalagi, sekarang dia bersama dengan istrinya.


"Kenapa, Bang? Apa ada hal yang penting?" tanya Devanya saat melihat raut wajah serius suaminya.


"Tidak, tadi pelatih Dev-dev mengabarkan kalau Dev-dev sudah baikan," ucap Keano.


"Oh, syukurlah! Kita ke sana yuk, Bang! Aku ingin melihat keadaannya," ajak Devanya.


"Boleh, besok kita ke sana. Ayo habiskan dulu makannya!" Keano pun mulai menyuapi istrinya dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri.


Tentu saja hal itu membuat orang-orang yang ada di sana melihat ke arahnya sesaat. Tak terkecuali Diandra yang merasa sedikit cemburu dengan kemesraan sahabatnya.


"Jangan bengong, ayo aku suapi!" Davin langsung berinisiatif menyuapi Diandra saat melihat istrinya diam mematung.


Namun, saat akan suapan yang kedua, Diandra langsung menolak suapan dari Davin. "Biar aku makan sendiri. Makanlah!"


Meskipun kesal, Davin langsung memakan makanan yang akan dia suapi pada Diandra. Dia terus saja makan untuk menghilangkan kekesalannya. Tanpa memperdulikan orang-orang yang ada dia sekelilingnya.


"Davin, makannya pelan-pelan. Kamu seperti orang yang tidak makan selama satu Minggu," tegur Dave.


"Aku lagi ingin makan orang, Pah." Davin menjawab dengan cueknya.


"Nanti saja kamu makan orangnya kalau di rumah. Dengar Vin! Papa saja bisa merubah haluan mama kamu sehingga dia jadi tergila-gila sama Papa, masa kamu gak bisa?"


Mendengar Dave bicara seperti itu, semua anak dan menantunya langsung melihat ke arahnya. Mereka penasaran dengan kisah cinta orang tuanya. Meskipun sebenarnya mereka tahu sedikit tentang kisah cinta papa mamanya.


"Apa dulu mama tidak cinta sama Papa?" tanya Devan.


"Saat menikah dengan Papa, Mama kamu masih cinta sama mantan kekasihnya. Tetapi waktu dan kebersamaan kami, membuat mama dan Papa sama-sama tidak bisa saling melepaskan. Bersabarlah dalam menghadapi seorang wanita. Sentuh-lah hatinya, maka kamu akan mendapatkan dia seutuhnya."


Apa Om Dave tahu kalau hubungan aku dengan putranya tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya. Meskipun tubuhku selalu menerima setiap sentuhan Davin. Tapi entah kenapa, aku belum bisa bersikap layaknya seorang istri yang baik, batin Diandra.


"Dian, cobalah saling menerima satu sama lain kalau kamu ingin bahagia dalam pernikahan. Jangan terlalu mengedepankan ego kamu, karena itu akan mendekatkan kamu pada penyesalan," pesan Rani pelan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2