Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 129 Pencuri Kehormatan


__ADS_3

Setelah memastikan anak dan menantunya baik-baik saja, Dave pun pamit untuk pulang dulu. Dia teringat dengan keadaan Sevia yang pasti belum hilang benar pengaruh minuman itu. Dia sangat cemas takut ada laki-laki yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar hotelnya.


Semoga dia masih tertidur pulas, batin Dave.


Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama, Dave sudah memarkirkan mobilnya di parkiran hotel. Namun saat dia akan menuju ke kamarnya, tanpa sengaja berpapasan dengan Orion yang penampilannya sangat kacau. Rupanya anak muda itu, menghabiskan malam pengantinnya dengan menenggak minuman beralkohol di bar hotel.


"Om, dari mana?" tanya Orion dengan jalan sempoyongan.


"Habis dari rumah sakit, Deva sama Dian melahirkan."


"Apa? Vanya melahirkan?" tanya Orion kaget.


"Iya, Deva sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Om harap kamu bisa ikhlas dengan takdir cinta kalian. Ion, ikhlaskan semuanya. Mulailah membuka hati untuk Luna. Walau bagaimanapun, sekarang dia sudah jadi tanggung jawab kamu," ucap Dave panjang lebar.


"Om, tidak semudah itu."


"Om, yakin kamu bisa. Demi kebahagiaan kamu sendiri. Om pernah berada di posisi kamu. Mencintai seorang gadis yang tidak mungkin bisa Om miliki. Tapi pada saat Om melepaskan perasaan Om pada gadis itu, hidup Om menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Ikhlaskan!" ucap Dave menepuk pundak Orion. Dia kemudian berlalu pergi meninggalkan Orion yang mematung di tempatnya.


Apa aku harus mencobanya, seperti apa yang Om Dave katakan, batin Orion.


Orion berjalan lunglai ke kamarnya. Perlahan dia membuka pintu kamar. Nampak kelopak bunga bertebaran di sepanjang jalan menuju ke temat tidur. Lilin berwarna-warni berjejer rapi di pinggir kiri kanan jalan.Tidak ketinggalan pula tempat tidur yang sudah dihiasi dengan kelopak bungan mawar yang membentuk bentuk hati.


Luna yang sudah masuk ke dalam kamar terlebih dulu, sudah terlelap dengan lelehan air mata dari sudut matanya. Orion hanya menghela napas dalam melihat istrinya yang sepertinya habis menangis. Orion pun langsung mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur Luna.


"Maafkan aku, Luna. Kalau sikapku menyakiti kamu. Beri aku waktu agar bisa menerima pernikahan kita yang begitu cepat. Kamu tidak salah, tapi hatiku yang belum bisa berdamai," gumam Orion seraya mengelus lembut rambut Luna.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Luna. Entah kenapa Orion merasakan hal yang aneh saat dia mencium wangi tubuh Luna. Badannya seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan kulit Luna.


Dia menatap wajah Luna lekat, dari matanya yang terpejam, hidung mancungnya dan yang terakhir bibir tipisnya yang selalu mengoceh tidak karuan. Seperti ada sebuah magnet yang menariknya. Orion semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Luna. Semakin dekat semakin dekat, hingga saat bibirnya sudah menempel sempurna pada bibir Luna. Orion terdiam untuk sesaat


Pikiran Orion kini sudah tidak jernih lagi. Dia begitu ingin merasakan bibir tipis itu. Perlahan dia mengecup bibir Luna, lalu menyesapnya pelan. Merasa tidak puas dengan apa yang dilakukannya, dia memaksakan lidahnya untuk masuk ke dalam rongga mulut Luna.


Orion begitu menikmati kegilaannya mencuri ciuman pada istrinya. Sementara Luna yang sebenarnya sudah terbangun, hanya membiarkan saja apa yang Orion lakukan. Dia ingin tahu, sejauh mana Orion akan berbuat curang. Mencuri ciuman dan memainkan bukit kembar di saat si pemiliknya terlihat sedang tidur.

__ADS_1


Namun, sepertinya pengaruh alkohol ditambah wangi parfum Luna yang mampu membangkitkan gairah para lelaki, sukses membuat Orion kehilangan kendalinya. Pemuda itu terus saja menjamah tiap inci tubuh istrinya, sampai tanpa sadar Luna melenguh keenakan.


"Luna kamu sudah bangun?" tanya Orion kaget karena merasa tertangkap basah.


"Hehehe ... Udah dari tadi. Ion ayo lanjutkan, Luna suka!"


Tanpa basa-basi lagi, Orion langsung menyerang Luna. Memainkan titik sensitif Luna hingga akhirnya menerobos dinding pertahanan organ inti istrinya. Luna langsung menjerit kesakitan mendapatkan serangan dari Orion.


""Ion, hentikan! Kamu menyakiti aku. Mama Papa tolong Luna!" rengek Luna dengan air mata yang berderai menahan rasa sakit.


"Stop it, Luna!" sentak Orion langsung membungkam bibir istrinya.


Meskipun awalnya terasa sakit, tapi lama-kelamaan Luna juga menikmati apa yang suaminya lakukan. Hingga matahari sudah terbit dari timur, barulah Orion melepaskan istrinya setelah dia mendapatkan pelepasan berkali-kali.


Sementara itu, Sevia yang baru terbangun dari tidurnya, sedikit menyipitkan matanya saat ada cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela. Diliriknya Dave yang sedang tertidur sambil memeluknya. Sevia pun langsung memiringkan badannya menghadap ke arah suaminya.


"Sayang, sudah siang." Sevia mengelus rahang tegas Dave yang mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu halus.


Mendapatkan sentuhan dari istrinya, Dave pun segera membukakan matanya dengan bibir yang tersenyum manis. Dia menarik Sevia ke dalam pelukannya, lalu mencium kening wanita yang dicintainya itu.


"Benarkah?"


"Hm ... Sepertinya kamu minum minuman milik orang lain sehingga seperti kuda liar Sumbawa."


"Aku gak tahu, aku hanya minum minuman yang akan pelayan itu bawa ke pelaminan," jelas Sevia.


"Sayang, kita mandi yuk! Nanti langsung ke rumah sakit?"ajak Dave.


"Ke rumah sakit? Memang siapa yang sakit?"


"Deva dan Dian sudah melahirkan dini hari tadi. Kita punya cucu dua laki-laki dan satu perempuan," jelas Dave.


"Apa??!! Mereka melahirkan?! Kenapa gak bangunin aku?" pekik Sevia kaget.

__ADS_1


"Sayang, kondisi kamu tidak memungkinkan jika aku ajak. Aku tidak mau nanti kamu malah menggoda dokter di rumah sakit. Apalagi di sana ada dokter yang kata kamu tampan," jelas Dave.


"Ya sudah, ayo kita mandi! Aku ingin cepat-cepat ke rumah sakit," ajak Sevia panik. Dia langsung menarik tangan suaminya agar mengikutinya ke kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama, kini keduanya sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Namun, Sevia dan Dave memilih untuk sarapan pagi dulu di restoran rumah sakit. Namun sepertinya, pilihan dia malah membuat di harus mengusap dadanya berkali-kali.


"Dave, Sevia, sini gabung!" ajak Icha yang kebetulan sedang sarapan bersama dengan keluarga Pratama.


"Terima kasih, Tan!" ucap Dave seraya ikut bergabung di sana. " Selamat pagi semuanya!" lanjutnya.


"Pagi, Dave." Al tersenyum hangat pada putra kembarnya. Sangat berbeda dengan Zidan yang menatap tidak suka kepadanya.


"Sepulang dari sini, kami mau melihat rumah baru Ion dan Luna. Apa kamu mau ikut serta?" tanya Icha.


"Maaf, Tan. Aku akan ke rumah sakit. Deva dan Dian sudah melahirkan," ucap Dave.


"Apa? Melahirkan? Kapan, Dave?" tanya Icha kaget.


"Dini hari tadi, Tan. Alhamdulillah sehat selamat semua," ucap Dave dengan tersenyum.


"Semoga cucu-cucu kamu sepertimu Dave jadi orang baik. Jangan sampai sifat kakek kamu menurun pada cicitnya," celetuk Tuan Zidan.


"Darah memang kental Om. Gen manusia juga pasti diwariskan. Tapi kepribadian seorang anak terbentuk karena didikan orang tuanya serta lingkungan anak itu tubuh dan berkembang. Jadi Om jangan khawatir, aku yakin, baik Deva maupun Diandra bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya."


"Kamu benar, Dave. Meskipun keturunan dari keluarga baik-baik tetapi didikan dan lingkungannya salah pasti anaknya akan ikutan salah," bela Icha dengan melirik sinis ke arah Tuan Zidan.


"Sudah, Dave. Ayo, Mah lanjutkan makannya," lerai Al. Meskipun hatinya kesal tetapi dia menahannya dalam hati.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan!...


...Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2